Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Rasulullah (Dalam Kitab Suci Dunia). Show all posts
Showing posts with label Rasulullah (Dalam Kitab Suci Dunia). Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Nabi Muhammad Dalam Kitab Suci Umat Nabi Terdahulu Tuesday, November 6, 2018

Kitab-kitab suci terdahulu, baik Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, berbicara secara jelas tentang Nabi Islam, dan mengenai hal ini Allah berfirman di dalam al-Qur’an,

‘(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (al-A’raf: 157)

Bukan hanya Kitab Suci, tetapi semua naskah kuno yang pernah digunakan dalam ritual peribadatan memberi kabar tentang kedatangan Nabi Islam.

Kitab Ulangan 18 ayat 17,18,dan 19 mengatakan: (17) Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; (18) seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. (19) Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
Nubuat ini begitu jelas berbicara tentang seorang nabi bahwa Allah akan memilih di antara saudara-saudara Israel (orang Arab) dan membuang pemikiran parsial apapun.

Ini adalah nubuat yang penting untuk orang-orang Yahudi yang masih menunggu pembuktiannya selama berabad-abad hingga kedatangan Nabi Mohummad. Beberapa dari mereka, menurut beberapa nubuat, mengetahui tempat dan waktu waktunya, sehingga mendorong mereka untuk pergi ke Madinah, dan Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. Mereka selalu mengancam orang-orang Arab musyrik dengan berkata, ‘Ini adalah waktu dimana Allah akan mengirim seorang nabi yang akan kami ikuti, lalu akan memerangi dan melenyapkan kalian.’ Ketika Nabi Islam muncul, banyak orang yang beriman dan banyak pula yang tidak beriman. Di antara alasan etiologis yang mendorong mereka masuk Islam adalah banyaknya berita tentang nabi Islam di dalam berbagai kitab suci. Beberapa di antaranya telah dihapus, beberapa yang lain telah dipenggal, tetapi ada pula yang masih menjadi bukti yang kuat mengenai kenabian Muhammad saw.

Nubuat yang disebutkan di atas, walaupun cocok dengan nabi Islam, orang-orang Yahudi mengklaim bahwa nubuatan sesuai dengan Yosua. Orang-orang Kristen memiliki pendapat lain, karena mereka selalu dalam kebiasaan mengubah setiap nubuat dalam Perjanjian Lama agar sesuai dengan Yesus. Mereka memilintir kata-kata tertentu untuk memberikan arti lain yang bertentangan dengan semua fakta sejarah, bahkan memasukkan, menghapus dan menyisipkan kata-kata baru ke dalam nubuat ini agar sesuai dengan apa yang mereka klaim. Umat Islam alasan yang baik bahwa nubuat berbicara dengan jelas dan pasti mengenai nabi Muhammad saw.

Jadi kita sekarang menghadapi tiga pendapat yang berbeda: Siapa yang dimaksud nabi di sini? Apakah Yosua, Yesus atau Muhammad saw? Hanya satu seorang dari mereka yang benar. Kami akan menjawab pertanyaan ini dalam artikel berikut:

Apakah nubuatan ini merujuk kepada salah satu nabi Yahudi? 
Jawabannya jelas tidak tidak, karena:
  1. Nubuat tersebut mengatakan, ‘Allah akan mengangkat seorang nabi dari saudara-saudara mereka.’ Jadi, nubuat ini berbicara tentang seorang nabi yang bukan dari Israel.
  2. Jika nubuat dimaksud merujuk kepada salah satu nabi Yahudi, maka Musa pasti berkata, ‘Dari kalangan kalian sendiri,’ yaitu dua belas suku utama Yahudi yang ada di hadapan Musa.
  3. Epilog kitab Ulangan memberi kesaksian terhadap fakta bahwa bukan Yosua atau nabi Yahudi yang lain yang dimaksudkan di sini. Epilog tersebut mengatakan, ‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.’ (Ulangan 34: 10)
  4. Kitab Maleakhi, yang merupakan bagian terakhir dari Perjanjian Lama, mencatat nubuat yang difirmankan Tuhan, yang menunjukkan bahwa utusan yang dijanjikantu tidak datang pada masa tersebut, dan dengan demikian Yosua tidak mungkin seorang nabi: ‘Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.’ (Maleakhi 3: 1)

Komentar McKenzie mengenai Maleakhi: Buku ini oleh para kritikus ditengarai ada sesudah pembangunan ulang candi pada tahun 516 SM, selama periode Persia dan sebelum reformasi Nehemia dan Ezta, yaitu sebelum 432 SM. Rekaman nubuat tentang ‘utusan yang dijanjikan’ menunjukkan bahwa sampai 432 SM orang-orang Israel masih menunggunya dan ia belum datang.

Berbagai studi historis membuktikan fakta bahwa nubuat ini tidak terbukti baik sebelum atau setelah Yesus. Tidak ada nabi yang diklaim dari kalangan orang-orang Yahudi. Ayat ‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel’ juga membuktikan fakta ini. Mungkin epilog tersebut ditulis oleh Ezra pada 800 hingga 900 tahun setelah Musa. Jadi nubuat tersebut tetap tak terpenuhi selama 8 sampai 9 abad setelah Musa.

Dimungkinkan bahwa ia mungkin ditulis oleh beberapa redaktur kitab lainnya bila Taurat dan beberapa naskah Alkitab lainnya pertama kali dikompilasi dalam bentuk tertulis sekitar lima ratus tahun setelah Musa. Itu berarti nubuat tetap tak terbukti untuk tidak kurang dari 500 tahun setelah Musa. Ini juga tidak berarti bahwa nubuat tersebut terbukti sesudahnya. Tidak ada yang pernah diklaim sebagai ‘utusan yang dijanjikan’, atau prasyaratnya terpenuhi pada waktu kapapun setelah Musa. Hampir setiap sarjana Injil memahami bahwa nubuat tersebut masih belum terbukti bahkan setelah masa Yesus. The Bible Knowledge Commentary melihat: Selama abad pertama masehi, pemimpin formal Yudaisme masih mencari pembuktian dari nubuat Musa tersebut (silakan merujuk Yohanes I: 21).

Yang tetap tak terbukti selama masa Isa dan orang-orang Yahudi adalah mereka masih menunggu kedatangan nabi ini, dan hal itu dapat dipastikan sumbernya dari Injil Yohanes berikut: (19) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: ‘Siapakah engkau?’ (20) Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: ‘Aku bukan Mesias.’ (21) Lalu mereka bertanya kepadanya: ‘Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ ‘Engkaukah nabi yang akan datang?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ (22) Maka kata mereka kepadanya: ‘Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?’ (23) Jawabnya: ‘Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.’ (24) Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. (25) Mereka bertanya kepadanya, katanya: ‘Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?’ (Yohanes 1: 19-25)

Dari studi yang dilakukan di atas ini, jelas bahwa ‘Nabi yang seperti Musa’ belum dibangkitkan hingga masa Yesus Kristus.

Nabi Isa atau Nabi Muhammad?
Nubuat seperti yang dijelaskan pada bagian pertama itu justeru sesuai dengan sifat-sifat Nabi Muhammad saw, bukan yang lain, dengan alasan berikut:

(1) Nubuat tersebut menyatakan, ‘Dari saudara-saudara mereka.’
Muhammad saw adalah salah seorang dari saudara-saudara Musa as. Bangsa Arab adalah saudara bangsa Yahudi. Ibrahim as mempunyai dua anak laki-laki: Ismail dan Ishak as. Bangsa Arab adalah keturunan Ismail as dan orang-orang Yahudi adalah keturunan Ishak as. Jadi, bangsa orang Arab atau keturunan Ismail adalah saudara orang-orang Yahudi, dan Nabi Muhammad saw berasal dari keturunan Ismail.

Kata ‘saudara-saudara’ digunakan dalam Kitab Suci untuk merujuk kepada Ismail dan keturunannya. Dalam kitab Kejadian kita temukan, ‘Mereka (anak-anak Ismail) itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.’ (Kejadian 25:18)

Bani Ishaq adalah saudara bani Ismail. Demikian juga, Muhammad adalah sebagian dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah seorang keturunan Ismail putra Ibrahim.

(2) Nubuat di atas mengatakan ‘seperti engkau ini’. Orang-orang Kristen mengatakan bahwa nubuat ini merujuk kepada Yesus karena Yesus itu seperti Musa. Musa adalah seorang Yahudi, dan juga Yesus adalah seorang Yahudi. Musa adalah seorang Nabi dan Yesus juga seorang Nabi. Jika hanya ada dua kriteria agar nubuat ini terpenuhi, maka semua nabi di dalam Alkitab yang datang setelah Musa seperti Sulaiman, Yesaya, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes sang Pembaptis dapat memenuhi nubuat ini karena mereka adalah orang-orang Yahudi dan juga nabi.

Sebenarnya, klaim bahwa nubuat tersebut sesuai dengan Yesus meskipun semua sifat Musa bertentangan sifat-sifat Isa, melainkan sesuai dengan sifat-sifat Muhammad, adalah klaim yang lemah dan tidak dapat dipertahankan. Selain itu, Isa adalah seorang nabi Yahudi dan tidak memiliki hukum yang independen. Isa mengatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius: 5:17)

(3) Nubuat tersebut mengatakan bahwa Allah akan meletakkan firman-Nya di mulut Nabi yang dinantikan itu.

Diketahui bahwa nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis (ummi atau unliteral), maka Allah akan meletakkan kata-kata di mulutnya. Musa menuturkan bahwa firman Allah itu diletakkan di mulutnya, dan itulah yang terjadi pada Nabi Muhammad dengan al-Qur’an. Allah berfirman, ‘Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).’ (an-Najm: 3-4)

Nabi Muhammad datang dengan membawa sebuah pesan kepada seluruh dunia. Semua manusia, termasuk orang-orang Yahudi dan Kristen, harus menerima kenabiannya, dan ini didukung oleh keterangan dalam Injil berikut berikut ini: ‘Dan dia akan berbicara kepada mereka semua bahwa aku memerintahkannya..’ Diketahui bahwa nabi Muhammad telah menyampaikan firman Allah ke seluruh dunia dan beliau tidak mati sampai beliau selesai menyampaikan pesan tersebut.

(4) Nubuat itu mengatakan, ‘Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku..’

Al-Qur’an al-Karim terdiri dari 114 surat, dan seluruh surat itu dimulai dengan basmalah. Hanya satu surat yang tidak diawali dengan basmalah, yaitu surat at-Taubah. Jadi, bagian dari nubuat ini juga sesuai dengan Nabi Muhammad saw.

Abdul-Ahad Dawud, the former Rev. David Benjamin Keldani, BD, a Roman Catholic priest of the Uniate-Chaldean sect . After embracing Islam, he wrote the book, ‘Muhammad in the Bible.’ He writes about this prophecy as follows:

‘Jika kata-kata ini tidak sesuai dengan Muhammad, maka janji yang diberikan kepada mereka masih tetap tak dipenuhi. Yesus sendiri tidak pernah diklaim sebagai nabi yang disebut dalam nubuat tersebut. Bahkan murid-muridnya memiliki pendapat yang sama: mereka tidak melihat kedatangan kedua Yesus untuk pemenuhan dari nubuat (Kisah para Rasul 3: 17-24).

Yesus, seperti yang diyakini oleh Gereja, akan muncul sebagai Hakim. dan bukan sebagai pembuat hukum, melainkan nabi yang dijanjikan datang dengan dengan ‘hukum yang berapi-api’ di sebelah tangan kanannya. Muhammad Asad—lahir di Leopold Weiss pada Juli 1900 di kota Lvov (Lemberg Jerman), kini di Polandia, kemudian menjadi bagian dari kerajaan Austria—adalah bagian dari garis keturunan yang panjang para rabi, dimana garis keturunan itu putus pada ayahnya yang menjadi pengacara. Asad sendiri menerima pendidikan agama yang memberinya kemampuan untuk menjaga tradisi keluarga rabi. Dia telah menjadi ahli bahasa Ibrani pada usia dini dan familiar dengan bahasa Aramaik. Dia mempelajari naskah Perjanjian Lama yang asli dan juga teks dan komentar dari Talmud, the Mishna and Gemara, dan dia telah mengkaji seluk-beluk tafsir Bible, yaitu kitab the Targum.

Mengomentari ayat al-Qur’an, ‘Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui,’ (al-Baqarah: 42), Muhammad Asad menulis, ‘Maksud dari ‘mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil’ adalah memanipulasi kitab Bibel, dimana al-Qur’an sering mengecam orang-orang Yahudi atas tindakan mereka itu.

Sementara arti lafazh ‘menyembunyikan yang hak’ itu merujuk kepada cara interpretasi mereka terhadap ucapan Musa dalam Injil secara tidak bertanggungjawab dan ngawur. Dalam Injil Musa berkata, ‘Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.’ (Ulangan 18:15) Dan juga terhadap firman Tuhan sendiri, ‘Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya.’ (Ulangan 18:18).

Kata ‘saudara mereka’ itu jelas maksudnya, yaitu orang-orang Arab khususnya musta’ribah (Arabianized) sebagai salah satu suku di antara mereka yang merupakan keturunan Ismail dan Ibrahim. Dan karena suku ini adalah sukunya Nabi saw, yaitu Qurasiy, maka isyarat-isyarat dalam Injil itu sesuai dengan kerasulan beliau. [Majdi ash-Shafi | eramuslim]





Sunday, July 6, 2014

Bukti Sejarah Bahwa Muhammad Memang Nabi Terakhir Yang Ditunggu Sunday, July 6, 2014

 
Dr. J. Verkuyl seorang tokoh nasrani membantah perihal kedatangan rasulullah SAW yang tanda-tandanya terungkap dalam injil, dia menulis sebagai berikut: ”Apabila orang menyangka bahwa sesudah Tuhan Yesus, masih ada orang yang datang menambah pengajaran Tuhan Yesus atau menyangka masih ada orang yang seperti Yesus, maka salahlah ia. Allah telah berfirman dan menyatakan diri sesempurnanya didalam Tuhan Yesus Kristus. 

Selanjutnya ia menulis lagi: “Jadi sesudah Kristus tidak ada lagi seorang nabi yang muncul, yang dapat menambah, mengubah, mengganti atau membatalkan pengajarannya. Sesudah Yesus tidak ada lagi seorang Nabi yg muncul yg dapat menambah, mengubah dan membatalkan ajaran Yesus. Pendapat itu menurut ajaran agama Kristen sudah seharusnya demikian. Seperti telah diterangkan, menurut ajaran agama Kristen, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelesaikan akibat kesalahan Adam mengenai pelanggaran dalam persoalan memakan buah kayu yang terlarang. Adam telah berdosa sebab memakan sebuah buah kayu di taman Firdaus dan manusia seluruhnya telah mewarisi dosa itu. Maka Yesus sebagai anak Allah lalu datang ke dunia menjelma menjadi manusia kemudian mati disalibkan untuk menebus dosa itu. Menurut ajaran agama Kristen, Yesus telah melaksanakan tugasnya. Dengan demikian persoalannya telah selesai. Maka tidak ada yang akan di tambah dan yang akan dibatalkan lagi”.

Menurut ajaran agama Islam Yesus hanya seorang manusia yang diutus Tuhan bertugas menjadi Nabi untuk memimpin manusia pada jalan kebaikan. Ia termasuk golongan Nabi-nabi yang sudah diutus Tuhan pada zaman-zaman yang lalu dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Oleh karena manusia sesudah Yesus masih memerlukan petunjuk Tuhan yg benar dan yang lebih sempurna, maka Tuhan mengutus lagi Rasul-Nya menyampaikan petunjuk itu. Tuhan telah mengutus Nabi Muhammad SAW Sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa petunjuk yang lebih lengkap dan sempurna.

Lebih jauh lagi, sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain:

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tertulis: 

(27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia.
(28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tertulis: 

(10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. 
(11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tertulis: 

(1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tertulis: 

(32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.

Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.

Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut:

(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.
(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak?
(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.
(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.
(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.
(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.

Seterusnya dalam 1 Yohanes pasal 4 tertulis demikian:

(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.
(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.
(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.

Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. 

Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan mempercayai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. 

Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.

Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar datang ke tengah-tengah kaumnya dalam keadaan sebagai manusia dan ia menolak dengan sangat tegas Yesus yang disebut-sebut sebagai anak Tuhan apalagi sebagai Tuhan sendiri.

Bukti-bukti Sejarah Bahwa Kedatangan Muhammad Memang Ditunggu-tunggu.
 

Menurut sejarah, orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang menunggu kedatangan seorang Nabi. Hal itu dapat dibuktikan oleh keterangan sejarah sbb:

1. Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur dua belas tahun ia dibawa oleh Abu Thalib, pamannya, ikut berniaga ke negeri Syam (Syria). Ketika mereka tiba dekat suatu tempat bernama Bushra (sebuah kampung diperbatasan tanah Arab dengan Syam), mereka bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang tinggal di tempat itu bernama Bahiera. Pendeta itu bertanya kepada mereka tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab yang dijumpai dalam kitab-kitab sucinya. Ketika ia memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada Nabi Muhammad, ia mengatakan kepada Abu Tahlib bahwa suatu keadaan yang luar biasa terdapat pada anak itu dan ia berharap supaya anak itu dipelihara baik-baik. Pendeta itu melihat Muhammad senantiasa dilindungi sekumpulan awan. Dalam keterangan ini, Bahiera menyatakan bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang di tanah Arab.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW telah berumur empat puluh tahun dan ia sedang berada di gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat yang menyatakan bahwa ia adalah Malaikat Jibril. Lalu kepada Muhammad SAW disampaikannya wahyu Al-Quran yang mula-mula. Sesudah kejadian itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan gemetar dan ketakutan. Khadijah, isterinya, lalu membawanya kepada seorang laki-laki yang telah tua, anak saudara bapaknya yang bernama Waraqah bin Naufal yang beragama Kristen dan pandai menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah menerangkan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah utusan Tuhan yang juga pernah datang kepada Nabi Musa dahulu dan Muhammad adalah Nabi bagi umat saat ini. Disini Waraqah sebagai seorang alim Kristen mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang diutus Tuhan pada masa itu.

3. Pada ketika Nabi Muhammad SAW sedang tinggal di Mekkah, ia dan kaum muslimin pernah diboikot oleh orang-orang kafir penduduk Mekkah tiga tahun lamanya, sampai mereka memakan daun-daun kayu karena ketiadaan makanan. Selama pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyuruh sahabat-sahabatnya mengungsi ke negeri Ethiopia, Afrika, untuk meringankan penderitaan mereka. Delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan berangkat diketuai Jafar, anak Abu Thalib. Disana mereka diterima dengan baik oleh Negus, raja Ethiopia. Pada tahun yang ke tujuh hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Negus untuk mengajaknya memeluk Islam. Di Ethiopia surat itu disampaikan oleh Jafar kepada Negus. Ketika surat itu diterimanya ia berkata: “Aku menjadi saksi kepada Allah bahwa sesungguhnya dialah Nabi yang ditunggu-tunggu Ahli Kitab.”

Lalu ia menulis jawaban surat Nabi itu, antara lain katanya: “Saya mengakui bahwa tuan utusan Allah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya saya telah berbaiat kepada tuan dan telah berbaiat kepada anak saudara bapak tuan (yaitu Jafar anak Abu Thalib). Dan saya telah memeluk agama Islam dihadapannya karena Allah Tuhan semesta alam”. Negus ini sebelum memeluk agama Islam adalah seorang yang beragama Kristen. Dalam keterangannya diatas ia mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi dan Kristen.

4. Pada musim haji pada tahun kesebelas, banyak orang Arab datang berkunjung ke negeri Mekkah, diantaranya enam orang penduduk Medinah. Mereka itu acapkali mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal disekeliling kota Medinah itu mengatakan, bahwa seorang Nabi akan datang pada masa itu. Manakala mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan mendengar pengajarannya, teringatlah mereka kepada ucapan orang-orang Yahudi tersebut Mereka lalu berbicara dengan sesamanya : “Sebenarnya inilah Nabi yang selalu disebut-sebut orang Yahudi itu. Maka janganlah mereka mendahului kamu mengikutnya”. Mereka lalu beriman dan kembali ke negeri Medinah menjadi penyiar Islam. Sehingga pada tahun kedua belas datang dua belas orang lagi, semuanya beriman juga. Dan pada tahun ketiga belas datang pula tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, semuanya lalu masuk Islam. Dengan perantaraan penduduk Medinah yang masuk Islam itu agama Islam telah tersiar dengan semakin luas sehingga merata di tiap-tiap rumah di Medinah.

5. Pada tahun ketujuh hijrah Nabi SAW mengirim surat kepada raja-raja yang ada pada waktu itu untuk mengajak mereka memeluk Islam. Antara lain Nabi Muhammad SAW telah mengirim surat kepada Maqauqas pembesar Kibti di Mesir. Dan pembesar tersebut membalas surat Nabi itu sebagai berikut: ”Kepada Muhammad anak Abdullah, dari Maqauqas, pembesar Kibti. Salam kepada tuan. Kemudian itu saya telah membaca surat tuan dan telah memahami apa yang tuan sebutkan didalamnya dan apa yang tuan ajak. Dan sebenarnya saya mengetahui bahwa seorang Nabi masih ada lagi. Saya menduganya bahwa ia keluar di Syam (Syria). Saya telah menghormati utusan tuan.”

Maqauqas ini seorang pembesar yang beragama Kristen. Walaupun ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam suratnya itu ia mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang lagi.

6. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Medinah, beberapa waktu kemudian beliau di datangi oleh seorang pendeta besar Yahudi, bernama Abdullah bin Salam. Setelah pendeta itu bertemu dengan Nabi, ia lalu menanyai Nabi beberapa hal. Jawaban nabi itu meyakinkan kepadanya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab itu ia lalu masuk Islam. Dia berkata kepada Nabi: “Saya menyaksikan bahwa tuan adalah Rasul Allah dan tuan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi mengetahui bahwa saya ada lah penghulu orang Yahudi dan anak penghulu mereka. Dan saya seorang alim di antara mereka dan anak dari seorang yang teralim diantara mereka. Harap tuan tanyakan kepada mereka siapa saya, sebelum mereka mengetahui bahwa saya telah Islam. Karena jika mereka nanti mengetahui saya telah Islam, akan bermacam-macam perkataan mereka mengenai saya.”

Nabi lalu memanggil orang-orang Yahudi. Mereka datang. Dan Abdullah bin Salam bersembunyi. Nabi meminta kepada mereka agar takut kepada Allah. Dan Nabi mengatakan dengan sumpah bahwa mereka mengetahui Muhammad SAW adalah benar Rasul kepada mereka yang membawa kebenaran. Lalu orang-orang Yahudi menjawab: “Kami tidak mengetahui hal ini”. Lalu Rasul bertanya: “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam pada kamu ?”. Mereka menjawab: “Dia penghulu kami dan anak penghulu kami. Dia orang yang amat alim pada kami dan anak orang yang amat alim pada kami”. Maka kata Nabi: “Bagaimana jika ia telah Islam?”. Jawab mereka: “Ia tidak akan mau masuk Islam. Tiga kali Nabi mengatakan, bagaimana jika ia telah masuk Islam. Mereka menjawab tiga kali juga mengatakan jauh sekalilah jika ia mau masuk Islam. Nabi SAW lalu menyuruh Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun keluar lalu berpidato dihadapan orang-orang Yahudi itu mengajak mereka masuk Islam. Katanya: “Hai kaum Yahudi, takutlah kamu kepada Allah, Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain dari padaNya, dialah Rasul Allah yang kamu ketahui itu. Dia telah datang membawa kebenaran”.

Mendengar keterangan Abdullah bin Salam yang selama ini mereka hormati, mereka lalu berkata kepadanya: “Tuan telah berdusta!” Nabi SAW lalu menyuruh orang-orang Yahudi itu keluar. Demikianlah riwayat Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia telah menjadi saksi bahwa orang-orang Yahudi mengetahui Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi mereka tidak mau mengakui.

7. Dalam kisah Salman Farisi yang datang dari Persi (Iran) mencari Nabi Muhammad SAW hingga dia memeluk Islam, telah dinyatakan bahwa seorang pemuka agama Kristen memesankan kepadanya agar pergi mencari Nabi itu. Kata pemuka Kristen itu: “Hai anakku, tidak ada lagi saya ketahui sekarang seorang manusia yang seperti kita ini diantara seluruh manusia untuk tempat saya menyuruh engkau mendatanginya. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya seorang Nabi akan dilahirkan dengan membawa agama Ibrahim yang keluar dari tanah Arab. Tempat berhijrahnya di suatu tempat antara dua lapangan tanah yang berbatu-batu dan diatnara keduanya itu pohon-pohon kurma. Dia mau memakan pemberian, tetapi tidak mau memakan zakat. Diantara dua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup pergi ke negeri itu, lakukanlah”. Demikianlah keterangan pemuka agama Kristen itu kepada Salman Farisi. Akhirnya Salman sampai juga ke tempat itu bertemu dengan Nabi Mu hammad SAW dan memeluk Islam.

Dari bukti-bukti sejarah yang tersebut diatas ini dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang benar terbukti sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang Nabi.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” (QS.Ali Imran 3:144)

“Tidaklah ia itu berkata-kata menurut nafsunya sendiri melainkan apa yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diberikan.” (QS. an-Najm 53:3-4)



Catatan: artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi: 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M

Bukti Sejarah Bahwa Muhammad Adalah Nabi Terakhir Yang Ditunggu-Tunggu



Dr. J. Verkuyl seorang tokoh nashrani membantah perihal kedatangan rasulullah SAW yang tanda-tandanya terungkap dalam injil, dia menulis sebagai berikut: ”Apabila orang menyangka bahwa sesudah Tuhan Yesus, masih ada orang yang datang menambah pengajaran Tuhan Yesus atau menyangka masih ada orang yang seperti Yesus, maka salahlah ia. Allah telah berfirman dan menyatakan diri sesempurnanya didalam Tuhan Yesus Kristus. 

Selanjutnya ia menulis lagi: “Jadi sesudah Kristus tidak ada lagi seorang nabi yang muncul, yang dapat menambah, mengubah, mengganti atau membatalkan pengajarannya. Sesudah Yesus tidak ada lagi seorang Nabi yg muncul yg dapat menambah, mengubah dan membatalkan ajaran Yesus. Pendapat itu menurut ajaran agama Kristen sudah seharusnya demikian. Seperti telah diterangkan, menurut ajaran agama Kristen, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelesaikan akibat kesalahan Adam mengenai pelanggaran dalam persoalan memakan buah kayu yang terlarang. Adam telah berdosa sebab memakan sebuah buah kayu di taman Firdaus dan manusia seluruhnya telah mewarisi dosa itu. Maka Yesus sebagai anak Allah lalu datang ke dunia menjelma menjadi manusia kemudian mati disalibkan untuk menebus dosa itu. Menurut ajaran agama Kristen, Yesus telah melaksanakan tugasnya. Dengan demikian persoalannya telah selesai. Maka tidak ada yang akan di tambah dan yang akan dibatalkan lagi”.

Menurut ajaran agama Islam Yesus hanya seorang manusia yang diutus Tuhan bertugas menjadi Nabi untuk memimpin manusia pada jalan kebaikan. Ia termasuk golongan Nabi-nabi yang sudah diutus Tuhan pada zaman-zaman yang lalu dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Oleh karena manusia sesudah Yesus masih memerlukan petunjuk Tuhan yg benar dan yang lebih sempurna, maka Tuhan mengutus lagi Rasul-Nya menyampaikan petunjuk itu. Tuhan telah mengutus Nabi Muhammad SAW Sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa petunjuk yang lebih lengkap dan sempurna.

Lebih jauh lagi, sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain:

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tertulis: 
(27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia. 
(28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tertulis: 
(10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. (11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tertulis: 
(1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tertulis: 
(32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.

Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.

Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut:

(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.
(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak ?
(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.
(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.
(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.
(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.

Seterusnya dalam 1 Yahya pasal 4 tertulis demikian:
(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.
(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.
(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.

Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. 

Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan mempercayai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. 

Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.

Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar datang ke tengah-tengah kaumnya dalam keadaan sebagai manusia dan ia menolak dengan sangat tegas Yesus yang disebut-sebut sebagai anak Tuhan apalagi sebagai Tuhan sendiri.

Bukti-bukti Sejarah Bahwa Kedatangan Muhammad Memang Ditunggu-tunggu
Menurut sejarah, orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang menunggu kedatangan seorang Nabi. Hal itu dapat dibuktikan oleh keterangan sejarah sbb:

1. Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur dua belas tahun ia dibawa oleh Abu Thalib, pamannya, ikut berniaga ke negeri Syam (Syria). Ketika mereka tiba dekat suatu tempat bernama Bushra (sebuah kampung diperbatasan tanah Arab dengan Syam), mereka bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang tinggal di tempat itu bernama Bahiera. Pendeta itu bertanya kepada mereka tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab yang dijumpai dalam kitab-kitab sucinya. Ketika ia memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada Nabi Muhammad, ia mengatakan kepada Abu Tahlib bahwa suatu keadaan yang luar biasa terdapat pada anak itu dan ia berharap supaya anak itu dipelihara baik-baik. Pendeta itu melihat Muhammad senantiasa dilindungi sekumpulan awan. Dalam keterangan ini, Bahiera menyatakan bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang di tanah Arab.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW telah berumur empat puluh tahun dan ia sedang berada di gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat yang menyatakan bahwa ia adalah Malaikat Jibril. Lalu kepada Muhammad SAW disampaikannya wahyu Al-Quran yang mula-mula. Sesudah kejadian itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan gemetar dan ketakutan. Khadijah, isterinya, lalu membawanya kepada seorang laki-laki yang telah tua, anak saudara bapaknya yang bernama Waraqah bin Naufal yang beragama Kristen dan pandai menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah menerangkan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah utusan Tuhan yang juga pernah datang kepada Nabi Musa dahulu dan Muhammad adalah Nabi bagi umat saat ini. Disini Waraqah sebagai seorang alim Kristen mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang diutus Tuhan pada masa itu.

3. Pada ketika Nabi Muhammad SAW sedang tinggal di Mekkah, ia dan kaum muslimin pernah diboikot oleh orang-orang kafir penduduk Mekkah tiga tahun lamanya, sampai mereka memakan daun-daun kayu karena ketiadaan makanan. Selama pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyuruh sahabat-sahabatnya mengungsi ke negeri Ethiopia, Afrika, untuk meringankan penderitaan mereka. Delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan berangkat diketuai Jafar, anak Abu Thalib. Disana mereka diterima dengan baik oleh Negus, raja Ethiopia. Pada tahun yang ke tujuh hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Negus untuk mengajaknya memeluk Islam. Di Ethiopia surat itu disampaikan oleh Jafar kepada Negus. Ketika surat itu diterimanya ia berkata: “Aku menjadi saksi kepada Allah bahwa sesungguhnya dialah Nabi yang ditunggu-tunggu Ahli Kitab.”

Lalu ia menulis jawaban surat Nabi itu, antara lain katanya: “Saya mengakui bahwa tuan utusan Allah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya saya telah berbaiat kepada tuan dan telah berbaiat kepada anak saudara bapak tuan (yaitu Jafar anak Abu Thalib). Dan saya telah memeluk agama Islam dihadapannya karena Allah Tuhan semesta alam”. Negus ini sebelum memeluk agama Islam adalah seorang yang beragama Kristen. Dalam keterangannya diatas ia mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi dan Kristen.

4. Pada musim haji pada tahun kesebelas, banyak orang Arab datang berkunjung ke negeri Mekkah, diantaranya enam orang penduduk Medinah. Mereka itu acapkali mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal disekeliling kota Medinah itu mengatakan, bahwa seorang Nabi akan datang pada masa itu. Manakala mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan mendengar pengajarannya, teringatlah mereka kepada ucapan orang-orang Yahudi tersebut Mereka lalu berbicara dengan sesamanya : “Sebenarnya inilah Nabi yang selalu disebut-sebut orang Yahudi itu. Maka janganlah mereka mendahului kamu mengikutnya”. Mereka lalu beriman dan kembali ke negeri Medinah menjadi penyiar Islam. Sehingga pada tahun kedua belas datang dua belas orang lagi, semuanya beriman juga. Dan pada tahun ketiga belas datang pula tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, semuanya lalu masuk Islam. Dengan perantaraan penduduk Medinah yang masuk Islam itu agama Islam telah tersiar dengan semakin luas sehingga merata di tiap-tiap rumah di Medinah.

5. Pada tahun ketujuh hijrah Nabi SAW mengirim surat kepada raja-raja yang ada pada waktu itu untuk mengajak mereka memeluk Islam. Antara lain Nabi Muhammad SAW telah mengirim surat kepada Maqauqas pembesar Kibti di Mesir. Dan pembesar tersebut membalas surat Nabi itu sebagai berikut: ”Kepada Muhammad anak Abdullah, dari Maqauqas, pembesar Kibti. Salam kepada tuan. Kemudian itu saya telah membaca surat tuan dan telah memahami apa yang tuan sebutkan didalamnya dan apa yang tuan ajak. Dan sebenarnya saya mengetahui bahwa seorang Nabi masih ada lagi. Saya menduganya bahwa ia keluar di Syam (Syria). Saya telah menghormati utusan tuan.”

Maqauqas ini seorang pembesar yang beragama Kristen. Walaupun ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam suratnya itu ia mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang lagi.

6. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Medinah, beberapa waktu kemudian beliau di datangi oleh seorang pendeta besar Yahudi, bernama Abdullah bin Salam. Setelah pendeta itu bertemu dengan Nabi, ia lalu menanyai Nabi beberapa hal. Jawaban nabi itu meyakinkan kepadanya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab itu ia lalu masuk Islam. Dia berkata kepada Nabi: “Saya menyaksikan bahwa tuan adalah Rasul Allah dan tuan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi mengetahui bahwa saya ada lah penghulu orang Yahudi dan anak penghulu mereka. Dan saya seorang alim di antara mereka dan anak dari seorang yang teralim diantara mereka. Harap tuan tanyakan kepada mereka siapa saya, sebelum mereka mengetahui bahwa saya telah Islam. Karena jika mereka nanti mengetahui saya telah Islam, akan bermacam-macam perkataan mereka mengenai saya.”

Nabi lalu memanggil orang-orang Yahudi. Mereka datang. Dan Abdullah bin Salam bersembunyi. Nabi meminta kepada mereka agar takut kepada Allah. Dan Nabi mengatakan dengan sumpah bahwa mereka mengetahui Muhammad SAW adalah benar Rasul kepada mereka yang membawa kebenaran. Lalu orang-orang Yahudi menjawab: “Kami tidak mengetahui hal ini”. Lalu Rasul bertanya: “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam pada kamu ?”. Mereka menjawab: “Dia penghulu kami dan anak penghulu kami. Dia orang yang amat alim pada kami dan anak orang yang amat alim pada kami”. Maka kata Nabi: “Bagaimana jika ia telah Islam?”. Jawab mereka: “Ia tidak akan mau masuk Islam. Tiga kali Nabi mengatakan, bagaimana jika ia telah masuk Islam. Mereka menjawab tiga kali juga mengatakan jauh sekalilah jika ia mau masuk Islam. Nabi SAW lalu menyuruh Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun keluar lalu berpidato dihadapan orang-orang Yahudi itu mengajak mereka masuk Islam. Katanya: “Hai kaum Yahudi, takutlah kamu kepada Allah, Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain dari padaNya, dialah Rasul Allah yang kamu ketahui itu. Dia telah datang membawa kebenaran”.

Mendengar keterangan Abdullah bin Salam yang selama ini mereka hormati, mereka lalu berkata kepadanya: “Tuan telah berdusta!” Nabi SAW lalu menyuruh orang-orang Yahudi itu keluar. Demikianlah riwayat Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia telah menjadi saksi bahwa orang-orang Yahudi mengetahui Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi mereka tidak mau mengakui.

7. Dalam kisah Salman Farisi yang datang dari Persi (Iran) mencari Nabi Muhammad SAW hingga dia memeluk Islam, telah dinyatakan bahwa seorang pemuka agama Kristen memesankan kepadanya agar pergi mencari Nabi itu. Kata pemuka Kristen itu: “Hai anakku, tidak ada lagi saya ketahui sekarang seorang manusia yang seperti kita ini diantara seluruh manusia untuk tempat saya menyuruh engkau mendatanginya. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya seorang Nabi akan dilahirkan dengan membawa agama Ibrahim yang keluar dari tanah Arab. Tempat berhijrahnya di suatu tempat antara dua lapangan tanah yang berbatu-batu dan diatnara keduanya itu pohon-pohon kurma. Dia mau memakan pemberian, tetapi tidak mau memakan zakat. Diantara dua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup pergi ke negeri itu, lakukanlah”. Demikianlah keterangan pemuka agama Kristen itu kepada Salman Farisi. Akhirnya Salman sampai juga ke tempat itu bertemu dengan Nabi Mu hammad SAW dan memeluk Islam.

Dari bukti-bukti sejarah yang tersebut diatas ini dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang benar terbukti sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang Nabi.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” (QS.Ali Imran 3:144)

“Tidaklah ia itu berkata-kata menurut nafsunya sendiri melainkan apa yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diberikan.” (QS. an-Najm 53:3-4)


Catatan: artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi: 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M

Thursday, February 20, 2014

Muhammad Dalam Perjanjian Baru Thursday, February 20, 2014


Belajar dari Yohanes Pembaptis,
MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN BARU

Menurut penuturan dari empat penginjil, Yohanes Pembaptis adalah sepupu yang sebaya dengan Yesus. Usianya hanya terpaut sekitar 6 bulan lebih tua dari Yesus. Al-Qur’a tidak menyebutkan apa-apa tentang kehidupan dan karya nabi ini kecuali bahwa Tuhan melalui para malaikat-Nya memberitahukan ayahnya, Zakaria, bahwa ia akan mendapatkan seorang anak lelaki bernama Yahya, yang akan memberikan kesaksian terhadap firman Allah, dan bahwa ia akan menjadi orang yang terhormat, suci dan merupakan salahseorang nabi yang terpuji.

Tidak ada yang diketahui tentang kelahirannya selain bahwa ia adalah orang Nazaret yang hidup di padang gurun, makan belalang dan madu liar, menutupi tubuhnya dengan pakaian terbuat dari bulu unta yang diikat dengan korset kulit. Ia diyakini sebagai salah satu sekte keagamaan Yahudi awal yang disebut “Essenes”, yang melahirkan kaum “Ibionit” kristen awal dengan ciri utamanya adalah meninggalkan kesenangan duniawi.

Sebenarnya, istilah Qur’ani mengenai nabi pertapa ini –“hashura” yang artinya “suci” dalam arti kata –menunjukkan bahwa ia menjalani kehidupan membujang dalam kesucian, kemiskinan, dan kesalehan. Ia tidak dinilai dari masa mudanya yang awal sampai menjadi dewasa usia 30 tahun atau lebih, ketika ia memilai misi mengajarkan pertobatan dan membaptis para pendosa yang bertobat dengan air.

Banyak sekali yang tertarik kepada padang gurun Yudea untuk mendengarkan khotbah-khotbah yang berapi-api dari sang nabi baru. Dan kaum Yahudi yang bertobat dibaptis dalam air sungai Yordan. Ia mencerca kaum Pharisee yang berpendidikan namun fanatik dan para pendeta dan mengancam kaum Saduqee (Saducee) yang terpelajar namun rasionalis dengan balasan yang kelak akan menimpa mereka. Ia menyatakan bahwa ia membaptis mereka dengan air hanya sebagai tanda penyucian hati lewat penebusan dosa. Ia mengabarkan bahwa akan datang setelah dirinya nabi lain yang akan membaptis mereka dengan roh kdudus dan api, yang akan mengumpulkan gandum kedalam lumbung-lumbung dan membakarnya dengan api yang tak terpadamkan. Selanjutnya ia menyatakan bahwa orang yang akan datang kemudian itu jauh lebih kuat darinya dalam segi kekuatan dan martabat sehingga Yohanes Pembaptis mengaku tidak layak baginya untuk membungkuk untuk membukakan ikatan dan melepaskan sepatunya.

Pada salah satu pelaksanaan pembaptisan yang agung inilah Yesus dari Nazaret juga masuk kedalam air Sungai Yordan dan dibaptis oleh nabi Yahya seperti lainnya. Markus (1:9) dan Lukas (3:21) yang melaporkan pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini tidak tahu ucapan-ucapan Yohanes mengenai hal ini seperti disebut dalam Matius (3) dimana dinyatakan bahwa Yohanes berkata kepada Yesus, “Akulah yang dibaptis oleh mu, dan apakah engkau akan datang kepadaku?” Dilaporkan juga bahwa Yesus menjawab :”Marilah kita memenuhi kebenaran”, dan kemudian ia membaptisnya. Injil sinoptik itu menyatakan bahwa roh kenabian turun kepada Yesus dalam bentuk seekor merpati ketika ia keluar dari air, dan terdenfar suara yang mengatakan, “Inilah anakku yang terkasih, aku rido kepadanya”.

Injil keempat tidak mengatakan apapun tentang Yesus yang dubaptis oleh Yohanes, tetapi mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis, ketika ia melihat Yesus, berseru,”Lihatlah domba Tuhan…” (Yohanes 1:36) menganggap bahwa Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis, dan setelah meninggalkan gurunya kemudian membahwa saudaranya, Simon kepada Yesus (Yohanes pasal 1). Cerita ini kontradiksi sekali dengan pernyataan-pernyataan para penginjil-penginjil lainnya seperti Matius 4:18-19 dan Markus 1:16-18.

Dalam Injil Lukas, kisah diatas berbeda sama sekali. Di sini Yesus mengenal Simon Petrus sebelum ia dijadikan murid (Lukas pasal 4) dan keadaan yang menyebabkan sang guru memasukkan anak-anak Yonah dan Zebedee dalam daftar muridnya adalah sama sekali asing bagi para penginjil lainnya (Lukas 4:1-11).

Keempat Injil Gereja trinitas mengandung banyak pernyataan yang kontradiksi tentang hubungan keluarga antara dua nabi sepupuan. Dalam Injil keempat kita membaca bahwa Yohanes Pembaptis tidak mengetahui siapakah itu Yesus sampai setelah pembaptisannya, ketika sebuah roh seperti seekor burung merpati turun dan berdiam dalam dirinya (Yohanes pasal 1:31-32). Tetapi justru Injil Lukas mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis ketika masih berada dalam rahim ibunya, mengetahui dan memuja Yesus yang juga sebagai janin yang lebih muda didalam rahim Maria (Lukas 1:44). Kemudian lagi-lagi dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis ketika berada dalam penjara dimana ia dipenggal kepalanya (Matius pasal 11 dan pasal 14), tidak mengetahui sifat sesungguhnya dari misi Yesus!

Ada indikasi misterius yang tersembunyi dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pendeta dan kaum Lewi kepada Yohanes Pembaptis . Mereka bertanya kepada Yohanes Pembaptis

“… ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" (Yohanes 1:19-21).

Selanjutnya para pendeta dan kaum Lewi berkata: "…Mengapakah engkau membaptis, jika engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi itu?" (Yohanes 1:25)

Oleh karena itu, akan diketahui bahwa, menurut Injil keempat, Yohanes bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan pula “nabi itu” . Dan saya mengajukan pertanyaan kepada Gereja-gereja Kristen yang percaya bahwa sumber insipirasi dari semua pernyataan-pernyataan yang kontradiksi adalah Holy Ghost –salah satu tuhan dari tiga tuhan dalam Trinitas- yang dimaksudkan oleh para pendeta Yahudi, apakah Paus dan patriarch tahu siapakah “nabi yang akan datang itu”? Jika tidak, lalu apa manfaat duniawi dari Injil palsu yang telah ditambah-tambah ini? Sebaliknya, jika Anda memang tahu siapa “nabi yang akan datang”, lantas mengapa Anda terus saja diam?

Dalam kutipan diatas (Yohanes pasal 1) dengan jelas dinyatakan bahwa Yohanes bukanlah seorang nabi. Sedangkan kontradiksi dengan pernyataan Yohanes, Yesus dilaporakan telah berkata bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan perempuan lebih besar daripada Yohanes (Matius 11:11). Benarkah Yesus membuat pernyataan kontradiksi itu? Apakah Yohanes lebih besar daripada Ibrahim, Musa, Daud, bahkan Yesus sendiri? Dan dalam hal apa keunggulan dan kebesarannya ?

Seandainya kesaksian Yesus tentang Yohanes adalah otentik dan benar, maka kebesaran Yohanes sang “pemakan belalang dipadang gurun” hanyalah terletak pada pembuangan dirinya secara mutlak. Pengorbanan kepentingan diri dan menahan diri dari kepentingan duniawi, keinginannya yang berapi-api untuk mengajak manusia kepada penebusan dosa, dan kabar baiknya tentang “nabi itu ”?

Atau apakah kebesarannya karena sebagai sepupu, sebaya dengan saksi Yesus? Nilai dan kehebatan seorang manusia dan juga seorang nabi dapat ditentukan dan dinilai dari karyanya. Kita sama sekali tidak tahu jumlah orang yang berubah keyakinan melalui khotbah-khotbah dan disucikan lewat pembaptisan Yohanes. Juga tidak mengetahui tentang efek pembaptisan Yohanes terhadap perubahan sikap bangsa Yahudi yang bertobat!

Konon Yesus telah mengatakan bahwa Yohanes adalah reinkarnasi nabi Elia (Matius 11:4 ; Matius 17:12; Lukas 1:17), padahal dengan jelas Yohanes mengatakan bahwa dia bukan Elia, bukan Kristus, dan bukan pula nabi itu (Yohanes 1:19-21).

Sekarang, apakah dapat dipercaya Injil-Injil yang penuh pernyataan bertentangan yang saling menentang dan menyangkal ini, seseorang menarik kesimpulan dengan benar? Atau dapatkah ia menemukan kebenaran? Tanggung jawab ini sangat penting dan serius, karena orang-orang yang bersangkutan bukanlah manusia biasa seperti kita, melainkan dua orang nabi yang diciptakan dalam rahim melalui roh dan lahir secara ajaib –yang satu tidak punya bapak, sedangkan orang tua yang satu lagi merupakan pasangan lanjut usia yang mandul.

Daya tarik tanggung jawab ini bahkan lebih gawat lagi ketika kita memperhatikan dokumen-dokemen berisi penyataan-pernyataan kontradiktif ini. Periwayatnya adalah para penginjil, orang-orang yang dikatakan menerima ilham dari Roh Kudus, dan catatannya diyakini Kristen sebagai wahyu Tuhan!

Namun ada kebohongan, pernyataan palsu, atau dusta dalam Bibel atau Injil yang dipegang umat Kristen saat ini. Kedatangan Elia adalah sebelum “nabi itu” (Maleakhi 4:5-6). Yesus berkata:”Yohanes adalah Elia”. Yohanes berkata:”Aku bukan Elia”. Dan kitab suci Kristen lah yang membuat pernyataan saling menyangkal ini!

Benar-benar mustahil menemukan kebenaran dari Injil-Injil ini, kalau Injil-Injil tersebut tidak dibaca dan diperiksa dari sudut pandang Islam dan Ahlul Tauhid. Hanya setelah itu lah kebenaran dapat dipisahkan dari kepalsuan. Hanya semangat dan keyakinan Islam yang dapat menyerang Bible (alkitab) dan membuang dedak dan kesalahan-kesalahan dari halaman-halamannya.

Sebelum meneruskan lebih jauh dengan menunjukkan bahwa nabi yang diramal oleh Yohanes Pembaptis adalah nabi Muhammad, saya harus menarik perhatian pembaca yang serius kepada satu atau dua hal penting lainnya:

Pertama, bisa dikatakan bahwa umat Muslim memberikan penghormatan yang paling tinggi kepada semua nabi, terutama kepada para nabi yang namanya disebut dalam Al-Qur’an seperti Yohanes (Yahya) dan Yesus (Isa). Namun karena kita tidak memiliki alkitab yang asli, konsekuensinya kita tidak dapat membayangkan kemungkinan bahwa salah satu dari dua hamba Allah yang agung ini saling bertentangan.

Soal penting lainnya yang harus diketahui adalah diamnya Injil Barnabas tentang Yohanes Pembaptis, dan ini adalah sangat penting. Injil ini, yang tidak pernah menyebutkan nama Yohanes, menisbahkan ramalannya tentang “nabi yang lebih kuat” sebagai ucapan yang keluar dari mulut Yesus. Didalam Injil Barnabas, Yesus ketika berbicara tentang roh Muhammad yang telah diciptakan sebelum roh-roh nabi lainnya, mengatakan bahwa saking mulianya Muhammad sampai-sampai ketika ia datang, Yesus merasa dirinya tidak pantas untuk berlutut dan membuka tali-tali sepatunya (Barnabas 42:3).

Sang “penyeru” di padang gurun dalam khotbah-khotbahnya kepada khalayak ramai, biasa berseru dengan keras dan berkata, “Aku membaptismu dengan air untuk pertobatan dan pengampuanan dosa-dosa. Namun ada orang yang akan datang setelah ku lebih yang lebih kuat dariku, yang mana untuk membuka tali-tali sepatunya pun aku tidak pantas. Ia akan membaptismu dengan roh dan api”. Kata-kata ini secara berbeda dilaporkan oleh para penginjil, namun semua menunjukkan arti yang sama yaitu respek dan perhatian yang paling tinggi terhadap kepribadian yang mengagumkan dan martabat yang penuh keagungan untuk seorang “nabi yang kuat” yang diramalkan. Kata-kata Yohanes Pembaptis ini sangat deskriptif tentang keramahan dan sikap hormat gaya timur yang diberikan kepada tamu yang bermartabat. Begitu sang tamu melangkah masuk, sang tuan rumah atau salah seorang anggota keluarga buru-buru melepaskan sepatunya, dan mengantarnya ke bangku atau alas duduk. Ketika sang tamu pamit maka perbuatan hormat yang sama diulanginya. Ia dibantu mengenakan sepatunya dengan cara diikat sepatunya oleh tuan rumah.

Yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis adalah bahwa jika ia menemui nabi yang bermartabat itu maka ia pasti menganggap dirinya tidak patut mendapat kehormatan untuk membungkuk guna membuka tali sepatunya. Dari penghormatan ini yang diberikan sebelumnya oleh Yohanes Pembaptis, ada satu hal pasti: Bahwa nabi yang diramalkan itu dikenal oleh semua nabi sebagai Adon (tuan) mereka, karena kalau tidak maka Yohanes pun tidak akan melakukan pengakuan yang sangat rendah hati seperti itu.

Kini kita masih harus menentukan identitas dari “nabi itu”. Oleh karena itu, artikel ini harus dibagi kedalam dua bagian, yakni:

i. Nabi yang diramalkan itu bukan Yesus, dan
ii. Nabi yang diramalkan itu adalah Muhammad.

Semua orang tahu bahwa gereja-gereja Kristen selalu menganggap Yohanes Pembaptis sebagai bawahan Yesus, dan pembawa berita tentang kedatangannya. Semua juru tafsir Kristen menunjukkan Yesus sebagai objek penyaksian dari nubuat Yohanes.

Meskipun bahasa para penginjil telah diselewengkan oleh orang-orang yang melakukan penambahan atau penyisipan ke arah itu, namun kecurangan atau kesalahan tidak selamanya dapat lepas dari sorotan mata yang tajam seorang kritikus dan pemeriksa yang objektif. Yesus tidak dapat menjadi objek penyaksian Yohanes karena:

1. Kata depan “setelah” dengan jelas mengecualikan Yesus dari nabi yang diramalkan. Mereka berdua sezaman dan lahir di tahun yang sama. “Dia yang datang setelahku” kata Yohanes, “Lebih kuat dariku”. Kata “setelah” ini mengindikasikan masa yang akan datang pada suatu jarak yang tak terbatas, dan dalam bahasa profetis hal itu mengungkapkan satu siklus waktu atau lebih.

Kaum Sufi dan orang-orang yang menjalani kehidupan spiritual dan pertapaan sangat mengetahui bahwa pada setiap siklus yang dianggap sebagai sama dengan lima atau enam abad, muncul seorang tokoh besar yang terkenal yang dikelilingi oleh beberapa “satelit” yang terlihat dibelahan dunia yang berbeda-beda, dan memperkenalkan gerakan-gerakan keagamaan dan sosial yang hebat yang berlangsung selama beberapa generasi sampai muncul nabi yang bersinar lainnya, disertai oleh banyak murid dan sahabat, membawa pembaruan dan pencerahan yang luar biasa.

Sejarah agama yang benar, mulai dari Ibrahim sampai Muhammad, karenanya dihiasi dengan berbagai peristiwa yang membuka zaman baru dibawah Ibrahim, Musa, Daud, Zorobabel, Yesus, dan Muhammad. Masing-masing zaman ini ditandai dengan hal-hal khusus, dan membuat suatu kemajuan lalu berangsur hilang dan membusuk hingga tokoh terkenal lainnya tampil, dan terus begitu sampai lahirnya Yohanes, Yesus, dan rasul-rasul “satelit”.

Yohanes mendapati bangsanya sudah bekerja keras dibawah penindasan Romawi. Ia menyaksikan kaum Yahudi yang bodoh disesatkan oleh kependetaan yang korup dan arogan. Kitab-kitab suci yang diselewengkan dan digantikan oleh literatur peninggalan leluhur yang takhayul. Ia menemukan bahwa kaum itu telah kehilangan semua harapan akan penyelamatan, kecuali kalau Ibrahim menyelamatkan mereka.

Yohanes mengatakan kepada mereka bahwa Ibrahim tidak menghendaki mereka menjadi anak-anakny, karena mereka tidak patut memiliki bapak seperti itu. Tetapi “Allah dapat menghidupkan anak-anak Ibrahim dari batu-batu” (Matius 3:9). Kemudian mereka memiliki sedikit harapan pada seorang mesias, seorang yang mereka anggap keturunan Daud, akan datang dan mengembalikan kejayaan mereka di Yerusalem.

Kini ketika perutusan kaum Yahudi dari Yerusalem bertanya,”Apakah engkau Mesias?” dengan jengkel ia menjawab, “Tidak” terhadap pertanyaan ini dan juga tentang pertanyaan mereka berikutnya. Tuhan sendiri tahu apa omelan dan teguran yang mereka dengar dari ucapan-ucapan pedas nabi dari padang gurun itu yang secara hati-hati tidak dibiatkan muncul dalam tulisan oleh Gereja dan Sinagog.

Dengan mengesampingkan pernyataan-pernyataan yang berlebihan, yang jelas-jelas telah ditambahkan pada Injil. Kami sepenuhnya percaya bahwa Yohanes memperkenalkan Yesus kepada Mesias sejati dan menasehati kepada khalayak ramai agar menaatinya serta mengikuti perintah-perintahnya. Tetapi, dengan jelas ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ada seorang nabi lain, dan yang terakhir, yang saking agungnya dan bermartabatnya dihadapan Allah, membuat Yohanes tidak pantas membuka tali sepatunya.

2. Tidak mungkin Yesus sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yohanes. Karena seandainya demikian halnya, maka ia akan sudah mengikuti Yesus dan tunduk padanya seperti murid-murid Yesus lainnya. Tetapi kenyataannya adalah kita menemukan Yohanes berkhotbah, membaptis, menerima calon anggota dan murid, menghukum Raja Herod, mencaci hierarki kaum Yahudi, dan meramalkan kedatangan Nabi lain yang “lebih kuat” dari dirinya, tanpa sedikitpun Yohanes memperhatikan kehadiran Yesus di Yudea atau Galilea.

3. Meskipun gereja-gereja Kristen telah menjadikan Yesus sebagai salah satu Tuhan atau anak dari salah satu Tuhan. Fakta bahwa ia dikhitab seperti semua orang Israel dan dibaptis oleh Yohanes seperti kaum Yahudi biasa, membuktikan bahwa yang terjadi adalah hal sebaliknya.

Kata-kata yang dipertukarkan antara Yohanes Pembaptis dan yang dibaptis di Sungai Yordan, nampak sekali sebagai sebuah penyisipan, karena keduanya kontradiksi dan bersifat saling memperdayakan.

Seandainya Yesus lebih kuat, sebagaimana yang diramalkan oleh Yohanes sehingga membukakan tali sepatupun maka Yohanes tak layak, dan bahwa ia akan membaptis dengan roh dan api. Maka tidak perlu dan juga tidak ada guna apa pun untuk membaptis dia disungai oleh mereka yang lebih rendah darinya seperti kaum Yahudi biasa yang bertobat! Ungkapan Yesus, “Kita harus memenuhi semua keadilan” sangatlah tidak dapat dimengerti. Mengapa dan Bagaimana semua keadilan akan dijalankan oleh mereka jika Yesus dibaptis? Ungkapan ini sama sekali tidak dapat dipahami. Ungkapan itu adalah sisipan, atau kalau tidak, kalimat yang sengaja dipotong.

Inilah contoh lain yang harus dipecahkan dan ditafsirkan dengan spirit Islam. Dari sudut pandang seorang Muslim, satu-satunya pengertian dalam ungkapan Yesus ini adalah bahwa Yohanes, lewat penglihatan seorang peramal atau “sophi”, merasakan watak kenabian dari Yesus dan menganggap Yesus untuk sementara sebagai nabiNya yang terakhir dan yang paling agung, sehingga konsekuensinya segan untuk membaptisnya, dan bahwa hanya ketika Yesus mengakui identitas dirinyalah baru Yohanes setuju untuk membaptisnya.

4. Fakta bahwa Yohanes ketika berada dalam penjara mengutus para muridnya kepada Yesus, dengan bertanya, “Apakah engkau nabi yang akan datang, atau haruskah kami mengharapkan nabi yang lain?” dengan jelas menunjukkan bahwa Yohanes tidak mengetahui karunia kenabian pada Yesus sampai ia mendengar – ketika dalam penjara – tentang mukjizat-mukjizatnya.

Kesaksian Matius (11:3) bertentangan dan membatalkan kesaksian Injil keempat (Yohanes pasal 1), dimana dinyatakan bahwa ketika Yohanes melihat Yesus, maka Yohanes berseru,”Lihatlah domba Tuhan yang memikul dosa dunia”! Penginjil ke empat tidak tahu apa-apa tentang kematian Yohanes secara kejam (Matius pasal 14 dan Markus pasal 6).

Dari sudut keyakinan Ahlultauhid Muslim, adalah suatu kemustahilan seorang nabi mengucapkan hal-hal yang berbau musyrik seperti itu kepada Yesus. Jika Yesus adalah “domba Tuhan” yang menebus dosa dunia, maka khotbah Yohanes akan menggelikan dan tidak berarti. Lagi pula, Yohanes lebih mengetahui dari siapa pun bahwa kata-kata seperti itu yang keluar dari mulutnya akan menyebabkan –sebagaimana yang telah terjadi sekarang- kesalahan yang tidak dapat diperbaiki yang sepenuhnya akan menjelekkan dan merusak gereja.

Akar kesalahan yang telah mengotori agama kristen itu harus dicari dan ditemukan dalam usaha “pengorbanan orang lain” yang pandir ini! Sudahkah sang “Domba Tuhan” (Yesus) menghilangkan dosa dunia? Halaman-halaman gelap “sejarah Eklesiastikal” dari setiap gereja yang bermusuhan dan “bid’ah” akan menjawab dengan kata “Tidak!” yang besar. “Domba-domba” dalam kotak-kotak pengakuan dapat menceritakan kepada Anda dengan rintihan-rintihan mereka bahwa beratnya aneka warna dosa yang sangat besar dibebankan diatas pundak-pundak mereka bahwa masih ada dosa-dosa, pembunuhan, pencurian, mabuk-mabukan, perzinaan, perang, penindasan, perampokan, dan ketamakan yang pernah puas.

5. Yohanes Pembaptis tidak mungkin sebagai perintis jalan bagi Yesus dalam pengertian sebagaimana Gereja menafsirkan misinya. Ia diperkenalkan kepada kita oleh kitab-kitab Injil sebagai “suara yang berseru keras di padang gurun”, sebagai pemenuhan nubuat Yesaya (40:3) dan sebagai pengabar Yesus atas wewenang nabi Maleakhi (Maleakhi 3:1).

Menegaskan bahwa misi atau tugas Yohanes Pembaptis adalah mempersiapkan jalan dan Yesus dalam kapasitasnya sebagai penakluk yang jaya yang datang “tiba-tiba ke baitnya” dan disana menegakkan agama “Syalom” dan menjadikan Yerusalem beserta baitnya lebih megah daripada sebelumnya (Hagai 2:6-9), berarti mengakui kegagalan mutlak dari seluruh usaha.

Namun demikian, satu hal sama besarnya dengan 2+2=4 –bahwa keseluruhan proyek, menurut pandangan yang berlebihan dari umat Kristen, menunjukkan kegagalan total. Karena, dari sudut apapun kita mengkaji segala interpretasi gereja, kegagalan nampak jelas sekali. Bukannya menyambut Sang pangeran di gerbang bait Yerusalem dengan mengenakan mahkota ditengah-tengah sambutan kegembiraan bangsa Yahudi. Justru “Sang Perintis” yakni Yohanes malahan menyambut Yesus dengan bertelanjang kaki ditengah Sungai Yordan, dan kemudian memperkenalkannya, setelah membenamkan atau mencelupkan gurunya ke dalam air, kepada khalayak dengan berkata, “Lihatlah ini adalah sang Mesias” atau “Ini adalah Anak Tuhan” atau ditempat lain “Lihatlah Domba Tuhan” sama dengan benar-benar menghina orang-orang Israel atau, kalau tidak, melecehkan, atau semata-mata mengejek Yesus dan juga membuat dirinya tidak wajar.


[Sumber: "Menguak Misteri Muhammad SAW", Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006]






Wednesday, August 7, 2013

Yesus Menubuatkan Kedatangan Muhammad Dalam Injil Yohanes Wednesday, August 7, 2013


Dalam Injil Yohanes pasal 14 tertulis:

[15] "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

[16] Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

[17] yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

[26] tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Dalam Injil Yohanes pasal 15 tertulis:

[26] Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

[27] Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

Dalam Injil Yohanes Pasal 16 tertulis:

[7] Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

[8] Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

[9] akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

[10] akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;

[11] akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

[12] Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

[13] Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

[14] Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

Menurut keterangan Injil Yohanes di atas, Yesus telah menubuatkan kedatangan "Penolong yang lain". Penulis-penulis Islam telah menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Penolong yang lain itu ialah Nabi Muhammad s.a.w. Akan tetapi penterjemah-penterjemah Injil dari golongan Kristen telah mengubah terjemahan kata "Penolong" dimaksud. 

Dalam Alkitab (Bibel) Bahasa Melayu Hurup Latin yang dicetak oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap di Amsterdam tahun 1927 dan disiarkan di Indonesia sebelum perang dunia yang lalu, kata "Penolong" itu diterjemahkan dengan "Penghibur".

Dalam "Wasiat Yang Baharu" Bahasa Melayu Huruf Arab yang diterbitkan oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap tahun 1889 diterjemahkan dengan "Penghibur" juga.

Dalam Injil Yohanes bahasa Arab yang ada pada saya kini, perkataan itu diterjemahkan dengan "Al Mu’azzi" (Penghibur). Dalam terjemahan bahasa Arab yang lain disebutnya dengan "Faraqlieh".

G.C. Niftrik & Ds. B.J. Boland dalam Dogmatika Masa kini menyebutnya dengan "Penghibur"

Alkitab Terbitan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) di Jakarta tahun 1958 menyebutnya dengan "Penolong".

Prof. J.H. Bavinck dalam Sejarah Kerajaan Allah II menerangkan bahwa kata "Penolong dalam bahasa Yunani ialah paraklétos". Seterusnya katanya: "Orang Islam sering manafsirkan ayat itu pada Muhammad. Mereka itu katakan, bukan paraklétos (= Penolong) yang tertulis disana, tetapi periklutos (= yang termasyur, yang terpuji). Dalam bahasa Arab periklutos dapat disalin dengan Ahmed."

J. Verkuyl menulis lagi: "Kata Ahmad dalam bahasa Yunani ialah Periklétos". 
Mengenai nama-nama dalam Alkitab, kita selalu dihadapkan pada berbagai kesulitan, sebab para editor alkitab acapkali merobah nama-nama yang seharusnya tetap ditulis sesuai nama aslinya dan dalam bahasa aslinya, akan tetapi mereka terjemahkan ke dalam bahasa lain, khususnya bahasa Yunani.  
Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani, tidak dalam bahaya Yunani. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa perkataan yang disebut atas nama Yesus yang masih tertulis dalam Injil menurut bahasa aslinya. Misalnya Matius 27:46 menyebut perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani: "Eli, Eli lama Sabchtani ........ "

Editor alkitab menterjemahkan nama-nama orang yang seharusnya tetap dituliskan menurut nama aslinya, sehingga memunculkan berbagai nama baru yang benar-benar tidak pernah dikenal pada zaman Yesus. Misalnya saja nama Simon yang dikenal oleh  Yesus sebagai Kefas (Yohanes 1:42) yang berarti "karang" atau "batu". Nama "Kefas" ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi "Petrus" yang juga berarti "batu". Selanjutnya dituliskan dalam Alkitab dan di kalangan Kristen dikenal dengan nama "Petrus". Yesus sendiri dan orang-orang di zaman Yesus tidak pernah mengenal orang bernama Petrus yang menjadi murid Yesus, karena Yesus mengenalnya dengan nama "Kefas", bukan "Petrus".

Demikian pula tentang Yesus sendiri. Ia tidak pernah menyebut dirinya "Kristus". Dan orang-orang yang hidup pada zamannya juga tidak mengenal seseorang yang disebut Kristus. Kata Kristus adalah terjemahan dari perkataan Ibrani Messias (Almasih) yang dalam bahasa Yunani disebut "Kristus". Maka nama-nama yang asli itu telah ditinggalkan, lalu diganti dengan nama terjemahannya belaka.

Di antara nama-nama yang telah ditinggalkan itu adalah "Penolong" atau "Penghibur" yang disebut-sebut dalam Injil Yohanes pasal 14, 15 dan 16.

Menurut umat Kristen, kata "Penolong" dalam bahasa Yunani adalah "Paraklétos". Tetapi ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa kata asalnya dalam bahasa Yunani adalah "Periklétos", yang dalam bahasa Arab artinya adalah "Ahmad", satu di antara nama Nabi Muhammad s.a.w. Sedang kalimat-kalimat asli dalam bahasa Ibrani yang diucapkan oleh Yesus kini sudah berganti, sehingga dari kata Ibrani mana  "Paraklétos" atau "Periklétos" dalam injil Yohanes berasal sudah tidak dapat diketahui lagi. Injil Yohanes yang mencatat kalimat-kalimat nubuatan Yesus itu sendiri tidak menuliskannya secara persis "kata-kata" Ibrani apa saja sebenarnya yang diucapkan oleh Yesus. 

Adapun kemungkinan terjadi perubahan dalam membacakan bunyi beberapa huruf sehingga "Periklétos" (Ahmad) menjadi "Paraklétos" dalam alkitab bukanlah sesuatu yang mengherankan. Siapapun yang iseng membanding-bandingkan banyak nama yang tertulis dalam Alkitab, akan menemukan sejumlah besar perubahan dalam penyebutan nama orang. Sebagai misal, dapat dilihat nama-nama yang tertulis dalam silsilah Yesus. (lihat Dusta silsilah Yesus).

Tidak mustahil pula bahwa penyelewengan dalam proses penterjemahan juga terjadi. Sebagai contoh, kata "almah" dalam bahasa Ibrani pada kitab Yesaya pasal 7 ayat 14 yang dihubungkan dengan Matius 1:23. Para editor alkitab telah menterjemahkannya sebagai "anak dara" supaya dapat disesuaikan kepada Maryam ibu Yesus yang disebut-sebut sebagai anak dara yang melahirkan Yesus. Sedang arti "almah" yang sebenarnya adalah "wanita muda" atau "perempuan dewasa", baik yang sudah menikah maupun belum. Dari sini terlihat telah terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh editor alkitab itu dalam penterjemahannya. 

Kendati demikian, sekalipun asal kata dalam bahasa Yunani adalah Paraklétos dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menadi "Penolong" atau "Penghibur" atau "seorang yang jadi pembela dalam suatu perkara di hadapan hakim" seperti yang disebutkan oleh dari. J. Verkuyl, tokh nubuatan itu tetap sesuai dengan sosok Nabi Muhammad s.a.w. mengingat dalam nubuatan tersebut diterangkan berbagai sifat yang menyertai si Penolong atau si Penghibur. Sifat-sifat itu terbukti sesuai dengan sifat Nabi Muhammad s.a.w.

Muhammad s.a.w. sebagai seorang Nabi yang datang setelah Yesus, adalah seorang Penolong yang lain yang diutus oleh Tuhan untuk memberikan pertolongan bagi manusia menemukan jalan keselamatan diri mereka dari berbagai bahaya yang akan menyesatkannya. Agama Islam yang disampaikan Nabi Muhammad s.a.w. mengandung berbagai ajaran yang bukan saja menjelaskan tetapi membuktikan adanya pertolongan kepada mereka.

Muhammad s.a.w. sebagai seorang Nabi yang datang kemudian Yesus, adalah seorang pembela dalam suatu perkara dihadapan hakim. Nabi Muhammad s.a.w. akan menjadi pembela bagi manusia di hari akhirat dalam pengadilan di Mahkamah Ilahi. Pembelaan itu disebut dengan "syafa’at". Dalam ajaran Islam disebutkan satu di antara hak Nabi Muhammad s.a.w. ialah memberi syafa’at dan Pembelaan bagi manusia di hadapan Pengadilan Ilahi di akhirat. Sifat-sifat yang disebutkan dalam nubuatan itu sesuai dengan sifat Nabi Muhammad s.a.w. 

Perhatikan ini:
Yesus menyebutkan Penolong yang lain itu, "menyertai kamu selama-lamanya" (14:16). Ini menyiratkan makna bahwa Penolong itu adalah nabi yang terakhir, tidak ada Nabi baru lagi yang akan datang kemudiannya. Dengan demikian jadilah agama dan ajaran yang disampaikannya menjadi petunjuk yang menyertai manusia selama-lamanya, yaitu hingga hari kiamat. Sifat ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena ia adalah nabi yang terakhir. 

Firman Allah,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu1224, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al Ahzab 40).

Oleh karena yang dimaksudkan dengan kedatangan Nabi-nabi itu ialah agama dan ajaran yang dibawanya, maka dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w dan warisan ajaran agamanya akan menyertai manusia selama-lamanya.

Penolong itu disebut: "Roh kebenaran" dan "Roh Kudus" (Yohanes 14:17 dan 26). Sebelumnya telah diterangkan bahwa menurut Al-Qurän surah Al-Baqarah ayat 87 dan 253, Nabi Isa telah diberi kekuatan oleh Allah dengan Roh Kudus, artinya Roh Suci. Menurut Al-Quran dan tafsirnya, Roh Kudus adalah Malaikat Jibril. Maka penolong itu disebut Roh Kudus artinya ia disertai malaikat Jibril yang senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya. Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena ia disertai malaikat Jibril yang senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya.

Sebelumnya telah diterangkan pula bahwa sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Kudus itu ialah "Roh yang suci". Kepada semua Nabi Tuhan telah memberi kekuatan dengan mensucikan "rohnya". Sebagian ahli tafsir menyatakan lagi bahwa Roh Kudus adalah kitab Injil yang diwahyukan Tuhan kepada Yesus, karena dengan ajaran kitab itu roh manusia dapat disucikan.

Penafsiran Roh Kudus seperti yang disebutkan tadi seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sebagai Nabi dikaruniai "roh yang suci" oleh Tuhan dan telah diwahyukan kepadanya kitab Al-Qurän yang dapat mensucikan roh dan jiwa manusia. Jadi Penolong itu disebut juga Roh Kudus, karena ia mempunyai roh yang suci atau mempunyai kitab yang ajarannya dapat mensucikan roh manusia. 

Penolong itu disebut pula sebagai Roh kebenaran, karena ia membawa manusia kepada segala kebenaran. Sifat ini seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sebagai Nabi mengemban tugas untuk membawa manusia kepada segala kebenaran.

Adapun mengenai penafsiran umat Kristen bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Kudus dalam Injil itu ilah oknum Tuhan yang ketiga, maka perhatikanlah yang berikut ini.

Yesus menerangkan bahwa Penolong itu "Ia akan bersaksi tentang Aku" (Yohanes 15:26). Ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya tentang Yesus dan telah mengkoreksi berbagai ajaran yang tidak benar yang disebut orang mengenai Yesus. Ia telah bersaksi kepada Bani Israil bahwa Yesus hanya seorang Rasul, bukan Tuhan, bukan anak Tuhan dan tidak mati disalibkan.

Yesus menerangkan bahwa Penolong itu "akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yohanes 16:8). Ini menunjukkan bahwa Penolong itu akan menjadi utusan Tuhan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia. Dalam ajarannya akan dinyatakan tentang hal dosa, keadilan dan penghakiman. Sifat-sifat ini seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Nabi dan Rasul bukan kepada kaumnya saja, akan tetapi kepada semua umat manusia di seluruh dunia.

Firman tuhan dalam Al-Qurän:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 

Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) melainkan kepada manusia semuanya untuk memberi kabar gembira dan peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Saba’: 28).

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: 
"Dan aku diutus kepada manusia semuanya." [HR Al-Bukhari].

Dalam agama yang diajarkannya, Nabi Muhammad s.a.w.  menjelaskan kepada seluruh umat manusia tentang dosa, keadilan, dan penghakiman.

Yesus menerangkan: "Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.". (Yohanes 16:12-13).

Penjelasan Yesus ini menyatakan bahwa ajaran yang akan dibawa oleh Penolong itu lebih banyak, lebih berat, dan lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang telah diajarkan oleh Yesus sendiri. Ajaran-ajaran itu belum dapat mereka terima pada zaman Yesus. Keterangan Yesus ini sesuai dengan Nabi Muhammad s.a.w. Ia datang membawa ajaran yang amat banyak yang belum pernah diajarkan oleh para nabi sebelumnya, termasuk oleh Yesus sendiri. Ia datang membawa manusia kepada segala kebenaran mengenai keimanan, ibadah, hukum muamalat, hukum perkawinan, hukum pidana, hukum-hukum yang berhubungan dengan tatanegara, budi pekerti, dlsb, yang pada zaman Yesus, manusia belum sanggup untuk menanggungnya.

Yesus juga menyebut Penolong itu "tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya." (Yohanes 16:13). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia tidak pernah berkata-kata menurut kehendaknya sendiri, melainkan berdasarkan semua wahyu yang didengarnya dari Tuhan, itulah yang dikatakannya.

Firman Tuhan: 

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى 

"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An-Najm: 2-4).

Yesus menyebut lagi: "dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang." (Yohanes 16:13). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah mengabarkan kepada manusia segala perkara yang akan datang.

Huzaifah r.a. menerangkannya sebagai berikut: 
"Ia (Muhammad) telah berdiri pada kami di satu tempat. Tidak ada ditinggalkannya suatu jua yang ada pada tempatnya itu hingga hari kiamat melainkan telah diceritakannya. Mengingat akan dia orang yang masih mengingatnya dan lupa akan dia oleh orang telah lupa. [HR Buchari dan Muslim].

Itu adalah di antara perkara yang akan datang yang dikhabarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Berdasarkan keterangan di atas dapatlah diketahui dengan jelas bahwa nubuatan itu telah sesuai benar-benar kepada Nabi Muhammad s.a.w.




PENJELASAN

Tentang ini, seorang facebooker; ustadz Muhamat Mutajir menjelaskan bahwa pandangan Islam terhadap kisah 'Si Penghibur' ini bersandar pada dalil-dalil berikut:

DALIL PERTAMA
Yohanes 14:16

Disebutkan bahwa "penolong itu akan menyertai kamu selama-lamanya." maksudnya, penolong itu adalah nabi akhir zaman, karena tidak ada lagi pengganti atau "penolong" lain yang akan membawa syariat baru setelahnya. Syariat agama yang dibawa "penolong" itu akan berlaku terus hingga hari kiamat. Dan ini hanya dapat dipenuhi oleh nabi terakhir (khatamun nabiyyin - QS. Al-Ahzab:40) yang syari'atnya akan menyertai manusia sepanjang zaman dunia setela kedatangannya.

"Penolong" dalam konteks ini menerangkan arti "messias", kata yang sebenarnya berasal dari bahasa Yunani "parakletos" atau "mehanem" dalam bahasa Yahudi yang berarti "penghibur". Tetapi di sini kita tidak mempertentangkan arti "penolong" atau "penghibur", sebab kedua-duanya dapat diterima untuk dinisbatkan kepada nabi Muhammad saw dan kedua-duanya berarti baik, tidak bertentangan satu sama lain. Kata parakletos menurut GA. Nallino, seorang orientalis bangsa Italia, artinya dalam bahasa arab sama dengan "Ahmad" atau "Muhammad" yang kedua-duanya juga berarti "yang terpuji".

DALIL KEDUA
Yohanes 14:17

Dikatakan bahwa dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu (maksudnya umat Yahudi) mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Sebab roh kebenaran (wahyu) yang dibawa penolong atau nabi itu ada pula berserta kamu, yaitu kitab Taurat di mana disebutkan di dalamnya tentang kedatangan penolong itu dan kitab yang dibawa si penolong itu isinya dan aturan ibadahnya sesuai dengan isi kitab Taurat, sebagaimana disebutkan dalam 10 PERINTAH TUHAN.

Konteksnya bukan pada apa yang dapat dipuji dalam diri nabi Muhamad saw, akan tetapi dalam definisi; atau arti dari sebuah "nama" yang kemudian mereka terjemahkan atau ganti dalam bahasa lain sehingga kehilangan makna.

DALIL KETIGA
Yohanes 15:26

Bahwa penolong atau nabi itu akan bersaksi tentang Yesus dan kesaksiannya berasal dari Roh kebenaran, yakni berasal dari wahyu Allah swt. sedangkan kesaksian itu sesuai dengan kenyataan dan pengalaman Yesus yang sebenarnya sebagaimana realitas yang dilihat dan disaksikan oleh pengikut-pengikut Yesus (bukan pengikut Paulus) ketika itu (Yohanes 15:27).

Hal ini sesuai dengan periwayatan nabi Isa almasih dalam Al-Qur'an bahwa bibliografi Yesus (tanpa editing) dalam Al-Qur'an akan menjadi misteri sumbang dalam mata rantai sejarah. Orang masih ingat catatan sejarah yang wajar sebagaimana diceritakan jauh sebelum masa Yesus,  lalu mengapa di zaman Yesus justru orang harus mempercayai cerita-cerita tidak rasional semisal  Yesus terbang ke langit atau tuhan menjelma menjadi manusia. (Paham Pagan Majusi).

Al-Qur'an, alias "roh kebenaran" menjelaskan peristiwa-peristiwa aneh dalam hidup Yesus itu dengan cara yang wajar, yakni mengklarifikasi mana yang kodariat Ilahi dan mana yang kodariat non-ilahi alias kodrat manusia biasa.

Al-Qur'an meletakkan dasar-dasar pemikiran logik atas cerita-cerita tidak rasional itu secara proporsional sehingga menjadi mustahil ada alasan bagi Yesus untuk dipertuhankan. Al-Qur'an meletakkan dasar-dasar kodariat nabi Isa almasih secara prporsional dan sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk ciptaan tuhan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa Penolong yang dimaksud adalah nabi Muhammad saw, sebab tidak ada orang lain lagi yang begitu terang memberikan kesaksian tentang misteri tentang Yesus.

DALIL KEEMPAT
Yohanes 16:17

Disebutkan bahwa Penolong itu tidak akan datang atau lahir jika Yesus tidak pergi. Maka penolong (nabi) itu tidak akan datang kepadamu (maksudnya kepada umat Yahudi). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Penolong itu adalah serang nabi yang akan datang menggantikan atau melanjutkan tugas-tugas kenabian Yesus.  Jika saat itu Yesus masah tetap ada dan melaksanakan da'wahnya, maka akan terjadi dualisme kepentingan syari'at yang luas dan mendunia dari nabi muhammad dengan syari'at terbatas hanya untuk bangsa Israel dari Yesus. Oleh karenanya,  Yesus harus pergi dulu barulah nabi itu akan muncul.

Jadi, kepergian Yesus adalah isyarat "akan datangnya utusan Tuhan berikutnya", yaitu nabi Muhammad saw. Perhatikan lagi ucapan Yesus dalam Yohanes 14:16. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya," Jelas dalam ayat ini Yesus berkata akan meminta seorang penolong yang lain (menggantikan dirinya) kepada Tuhan,  dan lebih jelas lagi, Yesus bahkan memastikan bahwa Tuhan akan memberikan Penolong yang dimintanya, dan si Penolong akan menyertai pengikutnya untuk selama-lamanya. Artinya, Yesus mengetahui secara pasti pasti bahwa Tuhan akan mengutus seseorang untuk meneruskan risalah auhid yang dibawanya.

DALIL KELIMA
Yohanes 16:8

Disebutkan bahwa Penolong itu akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Dalam ayat ini saja kita sudah melihat dua hal yang sangat jelas, bahwa hal itu hanya sesuai dengan ajaran nabi Muhammad saw.  Dari penjelasan di atas kita tahu bahwa selain nabi Muhammad saw yang diutus untuk seluruh umat manusia, nabi-nabi yang lain diutus khusus dan terbatas hanya untuka kaumnya saja. Dengan demikian, "menginsafkan dunia" akan dosa, kebenaran dan penghakiman, tidak sesuai dengan tugas Yesus atau tugas nabi-nabi sebelumnya. Perhatikan lagi firman Tuhan dalam QS. Saba: 28 di atas, atau lebih jelas lagi silahkan simak di sini.

Dakwah nabi Muhammad saw yang seluruhnya berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an selalu didahului dengan kalimat; "Hai manusia", "Hai orang-orang yang beriman", atau, "Hai anak Adam ... dst." menunjukkan bahwa ajaran nabi Muhammad saw adalah ajaran untuk seluruh umat manusia anak cucu Adam. Bukan "Hai bangsa Arab", atau "Hai umat Islam", yang sangat terbatas hanya untuk sekelompok manusia saja.  

Dosa, kebenaran, dan penghakiman berarti penerapan syari'at Islam dalam segala aspek kehidpuan manusia, termasuk dalam pemerintahan dan kehidupan sosial bermasyarakat. Syariat Islam tidak hanya mengajarkan masalah duniawi saja, akan tetapi juga masalah ukhrawi (akherat), di mana dijelaskan kepastian hukum alam penghakiman Tuhan yang berujung pada ganjaran berupa aneka nikmat sorga atau jutaan jenis siksa neraka. Ini sangat berbeda dengan ajaran dalam kristen ciptaan Paulus an seluruh kroninya, di mana Tuhan digambarkan sebaga penebus dosa.

Dalam kitab suci yang dibawa oleh "pengganti' Yesus ini ada pembalasan dan hukuman bagi orang-orang yang melanggar perintah dan larangan Tuhan seperti di antaranya; rajam pelaku zina, potong tangan pencuri, penggal kepala pembunuh, bayar fidyah jika tidak melakukan puasa, bagaimana menunaikan zakat, dan berbagai hukum syariat lainnya yang  mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan makhluk ciptaan tuhan lainnya yang sangat jelas.

PENUTUP
Ajaran Yesus, ajaran Paulus, dan ajaran Muammad saw

Dalam ajaran Kristen yang diciptakan oleh Paulus dan "dikembangkan" oleh seluruh kroninya, balasan bagi pendosa sama sekali tidak ada, sebab terlepas sebesar apapun dosa seseorang, cukup dengan percaya Yesus adalah Tuhan yang mati guna menebus dosanya, maka  praktis si pendosa akan masuk sorga!

Sebagai manusia yang secara naluriah menjunjung tinggi asas keadilan, dalam ajaran ini kita sama sekali tidak melihat adanya balasan yang setimpal bagi pelaku dosa terhadap Tuhan maupun terhadap sesama. Seseorang yang melakukan dosa besar terhadap orang lain misalnya, sebut saja melakukan pembunuhan berantai; sepanjang si pelaku dan semua korbannya sama-sama percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang mati untuk menebus dosa mereka, maka baik si pelaku maupun si korban sama-sama masuk sorga. Naluri seorang hakim yang manusia biasa saja, terlepas apapun agamanya, pasti tidak dapat menerima jika asas keadilan bagi korban perbuatan dosa dan si pendosa tidak diberlakukan. Konon pula Tuhan sebagai Sang Pencipta Yang Maha Adil? 

Itulah sebabnya kenapa seperti tercatat dalam Yohanes 16:12, Yesus menegaskan bahwa apa yang seharusnya dia ajarkan kepada murid-muridnya pada masa kenabian dulu itu disadarinya  masih terlalu sulit untuk dipahami, apalagi untuk ditanggung oleh orang-orang yang hidup pada jamannya.

Bahkan sampai hari inipun, umat kristen yang mengira diri mereka adalah pengikut Yesus sejati - padahal sejatinya adalah pengikut Paulus - masih memposisikan diri mereka sama seperti orang-orang dengan kemampuan olah pikir sangat terbatas yang mendengar ucapan Yesus seperti tercatat dalam Yohanes 16:12 lebih dari 2.000 tahun lalu.

Perhatikanlah bagaimana umumnya umat Kristen yang mengikuti ajaran Paulus memandang hukum Taurat yang tidak pernah dirobah barang satu iotapun oleh Yesus.

Dengan amat percaya diri mereka secara berjamaah mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sanggup menjalankan hukum Taurat! Padahal faktanya, hukum Taurat adalah sebagian dari lebih banyak lagi hukum-hukum lain yang sejak 14 abad lalu diajarkan oleh nabi Muhammad saw kepada umat Islam dan secara konsisten dijalankan oleh pengikutnya hingga hari ini!

Demikian, semoga berguna.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]


Contact Form

Name

Email *

Message *