Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Trinitas. Show all posts
Showing posts with label Trinitas. Show all posts

Saturday, January 2, 2021

Trinitas, Satu Tuhan Yang Menjadi Tiga atau Tiga Tuhan Yang Menjadi Satu? Saturday, January 2, 2021

Faktanya begini:
UMAT KRISTEN MENOLAK KERAS DISEBUT MENYEMBAH TIGA TUHAN KARENA PERCAYA BAHWA TUHAN YANG MEREKA SEMBAH HANYA SATU, YAITU TUHAN YANG MEREKA NAMAI SENDIRI DENGAN SEBUTAN TRITUNGGAL, TRINITAS, ATAU TRINITY. 
Namun di sisi lain, mereka tidak mampu menjelaskan sampai tuntas; kenapa ada kata "TRI" menempel pada kata "TUNGGAL" dalam entitas tuhan "TRITUNGGAL" yang selama ini mereka sembah?

TRI, siapapun pasti tahu artinya adalah TIGA dalam bahasa Sanskrit yang sudah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sama.

Dengan demikian, jika umat Kristen bersikukuh bahwa tuhan yang mereka sembah sebenarnya hanya SATU alias TUNGGAL, lalu untuk keperluan apa mereka masih merasa perlu meletakkan kata "TRI" di depan kata "TUNGGAL" sehingga menurut penamaannya sendiri, tuhan mereka menjadi "TRITUNGGAL", alias TIGA menjadi SATU?

Lebih jauh lagi, jika menurut doktrin Kristen tambahan DUA "ekstra" tuhan itu sebetulnya dimaksudkan untuk menegaskan entitas tuhan yang hanya SATU, yaitu mewakili FIRMAN dan ROH-Nya, maka masih menurut doktrin kristen sendiri, tanpa perlu menambahkan DUA "ekstra" tuhan sekalipun, tuhan yang SATU tetap saja berupa ROH dan tetap pula BERFIRMAN? Bukankah doktrin kristen sendiri yang menyebut Allah adalah ROH?

Lalu buat apa Allah yang diimani oleh umat Kristen sebagai ROH itu harus mebelah diri-Nya menjadi DUA ROH, yaitu Allah yang ROH ALLAH dan Allah yang ROH KUDUS?

Tokh tanpa perlu membelah diri menjadi DUA ROH pun, Allah yang konon katanya adalah ROH itu sudah jelas adalah ROH yang KUDUS, sehingga tentu saja dapat berbuat apapun yang selama ini menurut kitab Kristen pernah dilakukan oleh ROH KUDUS dalam kapasitasnya sebgai "ekstra" tuhan?

Menurut hemat saya, ini betul-betul merupakan pemborosan ide ketuhanan, sekaligus juga pembodohan terhadap intelektualitas umat manusia! 

Sementara itu, "ekstra" tuhan lainnya, yaitu FIRMAN yang mereka representasikan dalam wujud manusia bernama Yesus hanya karena kitab mereka menyebut FIRMAN itu telah menjadi MANUSIA ditengah tengah kita (lihat Yohanes 1:14), malah lebih absurd lagi!

Kenapa?
Karena "FIRMAN telah menjadi MANUSIA Yesus" pada prinsipnya tidak sedikitpun berbeda dengan kata:
  • FIRMAN telah menjadi TERANG, 
  • FIRMAN telah menjadi CAKRAWALA, 
  • FIRMAN telah menjadi DARATAN, 
  • FIRMAN telah menjadi TUMBUHAN, 
  • FIRMAN telah menjadi SIANG DAN MALAM, 
  • FIRMAN telah menjadi SEGALA JENIS HEWAN, atau
  • FIRMAN telah menjadi HUJAN DERAS, dlsb. (lihat Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; Ayub 37:6)

Jadi, jika dasar iman untuk menjadikan manusia Yesus sebagai "ekstra" tuhan lalu disembah sebagai tuhan, tentu saja tidak kredibel mengingat status Yesus dalam hal ini tidak ada bedanya dengan TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, atau HUJAN DERAS seperti tertulis dengan sangat jelas dalam kitab Kejadian dan Kitab Ayub di atas!

Artinya, jika Yesus adalah FIRMAN yang menjadi MANUSIA lalu diimani dan disembah sebagai Allah itu sendiri atas dasar argumen bahwa FIRMAN yang menjadi Yesus itu berasal dari Allah, maka tidak boleh tidak, umat ini juga harus memperlakukan semua yang disebut dalam Kitab Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; dan Kitab Ayub 37:6 SAMA PERSIS seperti mereka memperlakukan Yesus!
Dengan kata lain, sebenarnya TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, HUJAN DERAS dan YESUS, adalah Tuhan Kristen! 
Bukankah menurut kitab mereka sendiri masing masing objek tsb juga merupakan FIRMAN Allah yang MENJADI seperti wujudnya sekarang ini?

Jadi, kembali ke topik;

Penyangkalan umat kristen terhadap tudingan bahwa mereka menyembah TIGA TUHAN justru gugur oleh pengakuan mereka sendiri bahwa tuhan yang mereka sembah adalah tuhan TRITUNGGAL yang artinya adalah TIGA menjadi SATU.

●● Menyatakan pengakuan iman bahwa Allah adalah ROH lalu mengimani pula bahwa Allah yang ROH ini membelah diri-Nya menjadi ALLAH yang ROH dan Allah yang ROH KUDUS jelas merupakan KESIA-SIAAN ABSOLUT sebab dengan atau tanpa membelah diri sekalipun Allah yang ROH sudah tentu KUDUS dan mahakuasa melakukan apapun yang dapat dilakukan oleh ROH KUDUS tanpa perlu bantuan ROH KUDUS!

●●● Meyakini Yesus adalah jelmaan Allah hanya karena Allah BERFIRMAN, "Jadilah Yesus!" MAKA YESUSPUN JADI, sama artinya dengan meyakini TERANG, atau SEGALA JENIS HEWAN dan ciptaan Allah lainnya sebagai jelmaan Allah pula karena KEJADIAN mereka sama dengan kejadian Yesus yang berasal dari FIRMAN Allah. 

Jika dalil sejelas ini pun masih disangkal dengan argumen bahwa Yesus tidak diciptakan seperti halnya objek-objek tsb di atas, maka coba simak bak-baik penjelasan alkitab sendiri tentang "penciptaan" Yesus Kristus di sini



[Dari Arsip Pamungkas | 2 Mei 2017 | Diperbaharui 2Januari 2021]




Wednesday, August 29, 2018

Konsep Ketuhanan Absurd Bernama Trinitas Wednesday, August 29, 2018


SABELIANISME mengajarkan bahwa Allah itu Esa, tetapi mereka tidak percaya adanya tiga Pribadi.
Mereka menggambarkan Allah Tritunggal di dalam Alkitab hanya sebagai persona (Pribadi) yang diartikan sebagai topeng.

Kaum Trinitarian sangat menyesalkan istilah "persone" dalam bahasa Latin yang kemudian diterjemahkan menjadi "person" di dalam bahasa Inggris dan menjadi "pribadi" dalam bahasa Indonesia, yang pada mulanya memiliki arti sebagai topeng, yaitu topeng yang dipakai di dalam sandiwara.

Maksudnya, seorang pelaku sandiwara dapat berperan sebagai dua tokoh atau lebih dengan menggunakan topeng. Misalnya, pada babak pertama, dia berperan sebagai orang tua dengan memakai topeng orang tua, kemudian pada babak yang lain dia berperan sebagai anaknya sendiri dengan memakai topeng seorang anak. Dengan demikian, seorang pelaku dapat muncul beberapa kali dengan topeng yang berbeda-beda.

Tentu saja, para penontonnya tidak tahu; mereka tertipu oleh topeng-topeng itu!
Istilah persone inilah yang diambil oleh segolongan orang dan mengartikannya sebagai topeng-topeng untuk memainkan peranan yang berbeda-beda.

Maka, golongan Sabelianisme merasa mudah untuk mengartikan Allah Tritunggal, yaitu sebagai Allah Yang Esa yang mempunyai tiga peranan:

  1. Dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berperan sebagai pelaku pertama dengan memakai topeng Bapa;
  2. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah yang sama muncul dengan memakai topeng Anak berperan sebagai Allah Anak;
  3. Dan setelah Yesus naik ke surga, Dia datang kembali dengan memakai topeng ketiga sebagai Roh Kudus.

Bandingkan dengan, misalnya: Pada waktu saya di mimbar, saya berperan sebagai pengkhotbah; di rumah saya sebagai seorang ayah atau kepala keluarga; pada waktu saya mengajar di sekolah saya sebagai seorang guru atau dosen.

Itu bukan konsep Tritunggal, melainkan tunggal yang tritopeng, triperanan atau tripelaku, dan trifungsi. Seorang pelaku yang memerankan tiga tokoh dengan tiga topeng; kelihatannya seperti ada tiga pelaku, padahal cuma seorang pelaku dengan tiga peranan. Demikianlah Sabellianisme (dari seorang yang bernama Sabellius yang hidup pada abad kedua) atau Modalistic Monarchianism menjelaskan mengenai Tritunggal.

Menurut anggapan sebagian besar pengikut Paulus, ajaran ini termasuk bidat, bukan ajaran Tritunggal yang sesuai dengan Alkitab.

Di dalam Tritunggal, Pribadi Pertama bukan Pribadi Kedua, dan Pribadi Kedua bukan Pribadi Ketiga.
Berlainan pribadi bukan berarti lain Allah, melainkan tetap satu Allah; satu Allah mempunyai tiga Pribadi, dan tiga Pribadi berada di dalam satu esensi Allah; inilah Tritunggal! ~ Pdt. Dr. Stephen Tong

Sampai di sini, coba cermati sekali lagi rumusan pak pendeta Tong kita ini:
Lalu, kita tanya lagi; ALLAH TRITUNGGAL itu sebenarnya SATU atau TIGA?

Menurut pemikiran logis saya, TIGA!
YA! Mau dikemas seperti apapun, jika rumusannya masih seperti pemikiran pak pendeta Tong, Kristen Trinitarian itu sejatinya menyembah TIGA TUHAN! Dengan kata lain Krsiten Trinitarian adalah bentuk lain dari Politheisme!

Yang tidak terima pendapat ini, silahkan saja dibantah!
Monggo!

Sunday, August 5, 2018

Yesus Tidak Pernah Mengajarkan Doktrin Trinitas Sunday, August 5, 2018


  • Tanya Gus, Apakah Yesus pernah mengajarkan Trinitas?

TIDAK!
Berdasarkan informasi dalam Bibel, Allah tidak pernah mewahyukan dan mendefinisikan Trinitas kepada Yesus.

Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Allah mewahyukan Trinitas Kepadanya.
Yesus sendiri tidak pernah menyebut-nyebut kata Trinitas, apalagi sampai menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari Trinitas!

A. N.Wilson dalam bukunya Jesus A Life, 1992, hal 16 mengungkapkan:
"I had to admit that I found it impossible to believe that a first-century Galilean holy man (Jesus) had at any time of this life believed himself to be the Second Person of the Trinity.

"Saya harus mengakui bahwa memang tidak mungkin untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galelia abad ke-1M (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya berfikir bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas"

  • Lalu, apakah Trinitas adalah ajaran para nabi terdahulu?

BUKAN!
Allah tidak pernah mewahyukan maupun mendefinisikan Trinitas kepada nabi­-nabi sebelum Yesus. Mereka semua menerima wahyu tentang Tauhid. Tidak secuil pun ajaran tentang Trinitas ditemui dalam Perjanjian Lama.

Buku Encyclopedia of Religion mencatatkan hal ini:
"Theologians today are in agreement that the Hebrew Bible does not contain a doctrine of the Trinity."

"Para ilmuwan Kristen dewasa ini sepakat bahwa ajaran Trinitas tidak ada dalam Alkitab (Perjanjian Lama) bahasa Ibrani."

Selanjutnya buku New Catholic Encyclopedia juga menegaskan:
"The doctrine of the Holy Trinity is not taught in the Old Testament".

"Ajaran Trinitas tidak pernah diajarkan dalam Perjanjian Lama."

Perhatikanlah apa yang disampaikan oleh para nabi utusan Allah dalam Perjanjian Lama:
[Ulangan 6:4] "Dengarlah hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa"
[Yesaya 46:9] "Akulah Allah, tidak ada yang lain. Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku"
Andaikata Allah mewahyukan Trinitas kepada nabi-nabi Yahudi sebelum Yesus, tentu saja sudah sejak lama orang Yahudi menyembah Trinitas!

Namun bagaimana mungkin Allah mewahyukan Trinitas kepada Yesus agar umat Yahudi menyembah trinitas, sementara Yesus sendiri yang mengajarkan Tuhan itu Esa adalah seorang putra Yahudi yang sekalipun lahir ratusan tahun setelah para nabi-nabi ternama seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Daud dan lain-lain tiada, justru meneruskan ajaran bahwa Tuhan itu Esa?

  • Bagaimana dengan murid-murid Yesus, apakah mereka mengenal Trinitas?

TIDAK!
Yesus tidak pernah mengajarkan atau mendefinisikan Trinitas kepada murid­-muridnya. Sebaliknya beliau mengajarkan keesaan Allah.

[Markus 12:29] "Denqarlah hai oranq Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa"

Sejarawan Arthur Weigall dalam bukunya Paganism in Our Chrisrianity menulis:
"Jesus Christ never mentioned such a phenomenon, and nowhere in the New Testament does the word Trinity appear. The idea was only adopted by the Church three hundred years after the death of our Lord."

"Yesus Kristus tidak pernah menyinggung tentang fenomena seperti itu (Trinitas), dan kata Trinitas tidak di temukan dimana pun dalam kitab Perjanjian Baru. Ide ini baru dianut Gereja tiga ratus tahun setelah Yesus tiada."

Nah, kebenaran mana lagi yang akan kalian dustakan?

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


Saturday, February 3, 2018

Arius Dan Konstantin, Awal Lahirnya Doktrin Trinitas Saturday, February 3, 2018


Kehidupan Arius sangat erat kaitannya dengan Kaisar Konstantin-I, kaisar Imperium Romawi. Sehingga kita tidak bisa memahami sejarah kehidupan salah satunya, tanpa memahami yang satunya lagi. Kisah Konstantin menaruh perhatiannya kepada Gereja berawal dari kekhawatirannya terhadap kedudukannya di Roma. Kaisar yang bernama lengkap Flarius Valerius Aurellius Constantinus ini merasa cemburu terhadap putra mahkota bernama Crispus (Flavius Julius Crispus). Putra ini sangat termahsyur, karena posturnya yang menawan dan sikapnya yang ramah, disertai keberaniannya di medan pertempuran. Agar namanya tetap bertahan sebagai figur kaisar Romawi, dan tidak tenggelam oleh ketenaran nama putra mahkotanya, maka Konstantin membunuh Crispus. 

Kematiannya menimbulkan duka rakyat Romawi. Di balik pembunuhan itu, ada berita bahwa ibu tiri putra mahkota itu menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar, sehingga dia berniat untuk menghabisi Crispus. Akhirnya Konstantin menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri itu dengan membenamkannya ke dalam air mendidih. Para pendukung permaisuri yang mati itu bergabung dengan para pecinta putra mahkota menuntut atas kematian kedua orang itu. Konstantin dalam posisi tersudut dan meminta bantuan pendeta Kuil Yupiter di Roma. Tetapi para pendeta itu mengatakan, bahwa tidak ada kebaktian atau korban yang bias menghapus dosa pembunuhan yang telah dilakukannya. Suasana yang tegang di Roma membuat dia tidak merasa tentram, sehingga Konstantin pun pergi ke Bizantium. 

Setelah tiba di sana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu sesuai dengan namanya, Konstantinopel, yang selanjutnya menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Di tempat baru itulah dia melihat perkembangan Gereja Paulus yang sangat menakjubkan. Konstantin mendapat pelajaran, bahwa bila dia mau bertobat dan mengakui dosanya di gereja, maka dosa itu akan diampuni. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah dikotori lumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama dia berkuasa. Setelah merasa terbebas dari beban dosa, dia pun mencurahkan pikirannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh imperiumnya. Dia melihat adanya kemungkinan memperalat Gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya, dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya telah ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M). Berkat dukungan Konstantin inilah perkembangan gereja semakin kuat dan pesat. 

Sebaliknya dia mendapatkan keuntungan yang besar, karena wilayah sekitar Laut Tengah dipenuhi oleh gereja, yang pemeluknya dapat dipergunakan untuk mendukungnya di medan perang. Bantuan pendeta merupakan faktor yang sangat penting untuk menyatukan Eropa dan Timur Tengah di bawah kekuasaan Konstantin. Karena rasa terima kasih kepada Gereja di satu sisi, dan ingin menyudutkan para pendeta Kuil Yupiter di Roma yang tidak mau membantunya, pada sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma (yang selajutnya dinamakan paus oleh Paus Gregorius XVI untuk membedakan dengan petinggi gereja atau patriarkh di Timur) untuk membangun gereja yang besar dan megah di kota Roma. Dari posisi terjepit di kota itu, Kristen kemudian diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Konstantin. Di samping itu dia membiayai pembangunan gereja yang besar dan megah di bukit Zion, Yerusalem. 

Walaupun dia telah memberikan bantuan besar dan masuk agama Kristen, tetapi dia belum pernah dibaptis, sebab pengaruh paganisme yang menyembah Dewa Yupiter dan dewa-dewi lainnya masih sangat dominan. Oleh karena itu Konstantin bersikap menjaga keseimbangan, yang kadangkala dia menampakkan diri seakan-akan sebagai pemuja dewa itu. Sikap seperti itu berlangsung cukup lama sampai meledaknya pertentangan di tubuh Kristen, antara denominasi Gereja Paulus (Pauline Church) yang memegang konsep Trinitas dengan denominasi Gereja Rasuli (Apostolic Church) yang menganut paham Unitarian (Adopsionisme). 

Tokoh paling terkemuka denominasi Unitarian (pandangan Adopsionis) waktu itu adalah Arius dari Aleksandria, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir tahun 250 di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dibimbing oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi Gereja Rasuli yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan: “Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan oleh-Nya”, serta menentang ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Gereja Paulus. Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang sampai sekarang disinonimkan dengan denominasi Unitarianisme, yakni aliran yang meyakini bahwa satu-satunya tuhan hanyalah Tuhan ALLAH (Bapa), dan Yesus adalah pelayan dan utusan yang dikirim Allah. 

Gereja Paulus menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui, Arius bukan hanya seorang ahli perencana saja, melainkan juga sebagai orang yang jujur dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. 

Pada saat tradisi lisan (oral tradition) -- yang mempertahankan ajaran Yesus -- mulai lumpuh, dibarengi dengan pemahaman Tradisi Tulisan semakin menyimpang jauh, maka Arius tampil dengan segala keberanian dan kegigihannya mempertahankan ajaran Yesus yang telah disampaikan oleh para muridnya secara murni, serta menentang persekutuan pihak gereja dengan Kaisar Konstantin. 

Arius adalah murid Lucian dari Antiokia (yang kemudian Santo Lucian) yang paling keras mengecam Gereja Paulus. Oleh karena dia selalu diincar pembunuhan oleh aliran Trinitas. Arius menyadari akan bahaya yang mengancam jiwanya. Walaupun riwayat hidup masa mudanya tidak begitu jelas, tetapi dia tercatat menjadi tokoh besar Gereja Becaulis Aleksandria. 

Sampai pada masa Konsili Nicaea tahun 325 M, perbedaan keyakinan di kalangan Kristen sangat beragam. Karena kepercayaan di kalangan Kristen sangat beragam. Karena kepercayaan berdasarkan kemauan dan pilihan masing-masing individu. Sebelum gereja mendapatkan kebebasan dari Imperium Romawi, perbedaan keyakinan itu menimbulkan pertentangan sengit, yang pada akhirnya mengakibatkan pertikaian antarkelompok Kristen. Bahkan sering terjadi penangkapan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan gelap. 

Ketika Konstantin menjalin aliansi dengan Gereja, terjadilah perubahan dramatis. Meskipun waktu itu Konstantin masih menjabat kepala negara yang penduduknya mayoritas menganut paganisme, tetapi secara terbuka memberi bantuan kepada gereja, yang pada masa itu mungkin perbedaan antara Gereja Paulus (Pauline Church) dengan Gereja Rasuli (Apostolic Church) belum begitu tajam. Dengan demikian, Kekristenan memperoleh kedudukan baru di bawah naungan Kaisar Romawi. Bagi kebanyakan orang, perkembangan Kristen seperti ini menimbulkan masalah politik. Sebagian orang yang dulunya menentang agama itu, berbalik mendukungnya karena mendapat tekanan dari pemerintah. Oleh karena itu mereka memeluk agama Kristen bukan karena panggilan hati nuraninya, melainkan karena tujuan-tujuan tertentu. Perubahan situasi itu sangat menguntungkan pihak Kristen. Gereja Paulus dan Gereja Rasuli masing-masing berkembang pesat ke seluruh wilayah Imperium Romawi, mengakibatkan pertentangan kedua aliran itu semakin tajam di setiap daerah. 

Konstantin yang pada waktu itu masih belum memahami ajaran Kristen,hanya ingin mendapatkan keuntungan politis bila tercipta kesatuan gereja yang tunduk padanya, dan berpusat di Roma, bukan Yerusalem. Ketika para jemaat Gereja Rasuli (Apostolic Church) menolak untuk memenuhi keinginan kaisar itu, Konstantin berusaha melakukan tekanan-tekanan terhadap mereka. Tetapi setiap tekanan itu tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Para jemaat Gereja Rasuli yang menganut paham Unitarian itu tetap menolak untuk tunduk kepada Uskup Roma1 (Paus). 

Pertentangan semakin tajam mengenai pokok-pokok keyakinan di dalam agama Kristen. Sementara itu doktrin Trinitas telah diterima sepenuhnya oleh pihak-pihak tertentu dalam dunia Kristen. Sedangkan pihak Donatus, Melitus, terutama Arius menentang doktrin tersebut. Setelah lebih dari dua abad, doktrin itu menjadi bahan perdebatan, tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan dan penafsiran yang memuaskan. Karena banyak pihak yang menentangnya, semakin banyak membutuhkan penjelasan dan definisi dogma itu. Pihak gereja harus memberikan definisi tentang sifat kemanusiaan dan sifat ketuhanan Yesus. Serta memberikan penjelasan mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan definisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan Perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak masalah dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada pihak Kepausan di Roma semakin menggunung. 

Surat jawaban dari Paus ternyata tidak bisa memberikan kepuasan bagi semua pihak. Arius tampil mengajukan tantangannya kepada pihak Paus untuk memberikan definisi yang logis dan rasional mengenai doktrin Trinitas. Arius sendiri memberikan penjelasan sebagai berikut: 

“Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Bapa [Allah] harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada Anak [Yesus], harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu sang Anak belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa Anak [Yesus] itu diciptakan oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Bapa [Allah].” 

Kalangan gereja Trinitas merasa terjungkal. Patriarkh Alexander mengundang Dewan Gereja untuk mempersoalkan pendapat Arius itu. Sekitar seratus uskup dari Mesir dan Libya menghadiri undangan itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Arius. Untuk mempertahankan keyakinannya, Arius mengajukan argumentasi yang tidak bisa dibantah sebagai berikut: 

“Ada suatu masa, di mana waktu itu Yesus belum ada, sedang Allah bersifat Maha Dulu dan Maha Abadi. Karena Yesus adalah makhluk Allah, maka dia bersifat fana (tidak kekal), dan sudah tentu tidak memiliki sifat abadi. Karena Yesus itu makhluk, maka dia termasuk obyek bagi perubahan seperti makhluk berakal lainnya. Karena hanya Allah saja yang tidak berubah, maka Yesus bukanlah oknum Tuhan.” 

Di samping menggunakan akal budi (logika), dia pun mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membantah doktrin Trinitas seperti: 

“Jika Yesus sendiri telah mengatakan: “Bapa lebih besar dari pada Aku.” (Matius 14:28), bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama?. Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan firman Yesus sendiri di dalam Kitab Suci.” 

Pendapat Arius ini tidak bisa dibantah oleh semua uskup yang hadir pada sidang itu. Tetapi Patriarkh Alexander, dengan menggunakan kekuasaan jabatannya, menjatuhkan vonis “Hukuman Pengucilan Gereja” terhadap Arius. 

Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan (ekskomunikasi) itu, tumpahan darahnya menjadi “halal”. Pembunuhnya akan mendapatkan jaminan keselamatan (surga), karena telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat (bidaat)! Tetapi Arius mempunyai banyak pengikut yang pengaruhnya sangat luas, dan tidak dapat dianggap enteng oleh pihak Gereja Trinitas (Gereja Barat), apalagi para uskup wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarkh Alexander itu. 

Pertentangan masalah keyakinan ini semakin memuncak. Alexander berada pada posisi yang terjepit, bahkan sangat kecewa karena para uskup wilayah Timur mendukung Arius. Terutama Eusebius dari Nicomedia (wafat 342 M), sahabat Arius yang sangat berpengaruh di istana Konstantinopel, dan Eusebius Caesarea (260-340 M) memberikan dukungan yang sangat besar kepada Arius. Dua orang ini dan Arius adalah murid Lucian. Pembunuhan gelap terhadap guru mereka, membuat hubungan ketiga murid itu semakin erat. 

Sampai sekarang kita bisa melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Konstantinopel, setelah dia dijatuhi vonis “hukuman pengucilan” (ekskomunikasi) dari Alexander. Di antara surat itu berbunyi: “Kami dihukum karena menyatakan, Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan.” 

Catatan mengenai pertentangan tajam waktu itu, sangat sedikit sekali yang bisa kita jumpai. Surat-surat yang masih selamat, menunjukkan, Arius tabah mempertahankan ajaran Yesus yang murni dan yang bebas dari perubahan, dan sama sekali tidak menghendaki perpecahan dalam Kristen. Sedangkan kumpulan surat-surat Alexander memperlihatkan, penggunaan bahasa yang tidak sopan terhadap Arius dan para pendukungnya. Di antara surat-surat itu Alexander pernah menulis sebagai berikut: 

“Mereka sudah dikuasai Iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita tunasusila.” 

Surat yang bernada kasar itu membangkitkan kemarahan Eusebius. Beliau mengundang uskup-uskup wilayah Timur untuk menjelaskan duduk persoalannya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patriakh Alexander untuk mencabut hukuman yang dijatuhkan kepada Arius. Alexander mau mencabut vonisnya, asalkan Arius mau tunduk kepadanya. Syarat itu ditolak oleh Arius, dan ia pergi ke wilayah Palestina untuk membina jemaat Kristen di tempat itu. Alexander mengirimkan surat kecaman terhadap Arius dan Eusebius kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik. Alexander menuduh, Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan disebabkan oleh kepentingan ambisius. 

Kaisar Konstantin melihat situasi di tubuh Kekristenan semakin memburuk. Dia terpaksa turun tangan dengan mengirimkan surat kepada kedua pihak. Kaisar itu sangat mengharapkan kesatuan pendapat dalam agama. Karena hal itu akan menjamin stabilitas daerah yang dikuasainya. Dia meminta keduanya melupakan masalah yang dipertentangkan. 

Sementara itu terjadi persengketaan antara Konstantin dengan saudara iparnya, Lucianus, yang menguasai wilayah Tracia. Dalam pertempuran tahun 324 M, Lucianus tewas terbunuh. Karena dia termasuk pendukung Arius, kematiannya mengakibatkan posisi Arius mengalami banyak kemunduran. Sekalipun Konstantin memenangkan peperangan, tetapi dia tidak mampu membendung kerusuhan yang melanda beberapa wilayah Romawi. Kaisar tidak mempunyai jalan lain, kecuali dengan cara mengundang seluruh uskup untuk menyelesaikan persoalan rumit itu di bawah tekanan persenjataan. Posisi dirinya yang masih menganut paham paganisme, bisa menguntungkan dia, karena tidak termasuk pengikut salah satu aliran Kristen, dan bisa menjadi pemimpin sidang dan penengah yang tidak memihak. Konstantin diberi restu oleh para uskup untuk menjadi pemimpin sidang, karena tidak ada pihak yang menyetujui aliran lain memimpin sidang itu. Sidang para uskup tahun 325 Masehi yang dipimpin oleh Konstantin itu terkenal dengan sebutan Konsili Nicaea. 


Anggota sidang Gereja Semesta yang pertama kali kebanyakan terdiri dari para uskup yang masih lugu, jujur, dan berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya. Di saat itulah secara mendadak mereka harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menguasai filsafat Yunani. Sehingga mereka tidak bisa memahami ungkapan-ungkapan filosofis yang didengarnya. Sebaliknya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan pendapatnya, apalagi harus menghadapi argumentasi pihak lain yang berdasarkan logika. Oleh karena itu, mereka harus memilih salah satu dari dua pilihan, bertahan pada keyakinannya secara diam-diam, atau menyetujui apa saja yang diputuskan oleh pemimpin siding. 

Wakil-wakil dari pihak Gereja Paulus (Trinitas), seperti Gereja Roma, yang mempertahankan Tiga Oknum, ternyata mereka hanya mampu menunjukkan Dua Oknum (Binitarian), yakni Allah Bapa dan Anak (Yesus). Mereka tidak berdaya untuk mencari dalil dari Alkitab bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan. 

Para uskup murid Lucian seperti Arius, dengan mudah menyudutkan pihak Gereja Paulus dari masalah satu ke persoalan yang lain dalam Trinitas. Pihak Unitarian mengakui, di dalam Alkitab, Yesus memanggil Allah dengan kata “Bapa” dan menyebut dirinya dengan kata “Anak”, tetapi mereka menunjukkan kepada lawannya mengenai firman Yesus yang berbunyi: “Dan janganlah kamu memanggil Bapa kepada seorang pun di dunia ini, karena satu saja Bapa kamu, yaitu yang ada di Sorga.” (Matius 23:9) Dengan demikian oknum “anak” itu bukan hanya satu—bukan Yesus saja, melainkan berjuta-juta manusia! 

Pihak Trinitarian tidak mampu mematahkan argumentasi pihak Unitarian (Adopsionisme), sebab kepercayaan terhadap doktrin Trinitas yang diyakini oleh mereka tidak berdasarkan pada Alkitab, terutama Injil. Dengan susah payah mereka berusaha ingin membuktikan (berapologi) bahwa Alkitab telah menyatakan “Yesus itu bayangan Allah yang Maha Benar”. Pihak Unitarian menjawab: “Kita sebagai manusia adalah bayangan dan kemegahan Tuhan. Jika dikatakan bahwa bayangan Allah adalah Tuhan, berarti seluruh manusia itu adalah Tuhan!” 

Perdebatan dalam sidang semakin meruncing, dan semua pihak merasa pesimis terhadap hasil sidang itu. Pada akhirnya masing-masing pihak saling mengharapkan dukungan Kaisar yang memegang keputusan akhir. Constantia (Flavia Julia Constantia), adik tiri Kaisar Konstantin, adalah penganut paham Unitarian, memberitahu Eusebius dari Nicodemia bahwa sang Kaisar ingin mempersatukan gereja. Karena perpecahan akan membahayakan posisi kekaisaran. Jika tidak tercapai persetujuan dan kesamaan keyakinan, mungkin kaisar akan kehilangan kesabaran dan menarik bantuannya kepada Gereja, yang akan mengakibatkan keadaan Kekristenan lebih memprihatinkan dari pada sebelumnya. 

Eusebius berunding dengan Arius bersama sahabat lainnya, dan mengambil kebulatan tekad untuk mempertahankan keyakinannya, serta menolak doktrin Trinitas yang mungkin akan mendapatkan suara mayoritas dalam Konsili Nicaea itu. 

Dukungan Konstantin terhadap Gereja Paulus akan menambah kekuasaan Gereja, dan akan mampu mengakhiri Gereja Rasuli (Unitarian) di Afrika Utara dengan segala bentuk kekerasan. Untuk mendapatkan dukungan itu, Gereja Paulus menyetujui perubahan-perubahan pada ajaran Kristen. Karena pemujaan kepada Dewa Matahari Sol Inviticus sudah menjadi tradisi bangsa Romawi pada waktu itu, dan kaisarnya dipandang sebagai perwujudan dari Dewa Matahari, maka Gereja Paulus menyusun rumusan sebagai berikut: 
  1. Hari Minggu (hari Dewa Matahari Sol Inviticus) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat bagi agama Kristen. 
  2. Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus. 
  3. Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambang agama Kristen [sebelumnya lambang salib ditolak oleh ajaran Kristen mana pun]. 
  4. Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan patung Yesus. 
Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin dalam bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity (Misteri Trinitas). Kaisar merasa puas, karena jurang perbedaan antara Kekristenan dengan paganisme yang dianut oleh bangsa Romawi bisa diakhiri. Setelah lama bersidang, di antara 2.048 Uskup yang hadir, 318 Uskup sepakat menerima ajaran Paulus (trinitas) dan 1.730 lainnya tetap berpegang pada ajaran Tauhid Yesus. Dengan demikian, seharusnya tauhid-lah ajaran yang diakui dan dipegang. Namun karena Konstantin sendiri adalah penganut paganisme, maka tak heran, meskipun harus bertentangan dengan keputusan kongres, Konstantin men-dekrit-kan ke seluruh dunia Kristen bahwa trinitas-lah yang harus dipegang. Inilah tragedi dalam kepercayaan Nasrani yang amat menyedihkan. Sejak keputusan itu, tokoh-tokoh Kristen yang masih mempertahankan ajaran unitarian ditangkap, disiksa, dibunuh karena dianggap golongan sesat. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin dalam bahasa filsafat 

Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity (Misteri Trinitas). 
Karena pihak Arius tidak mau mengakui keputusan Konsili itu, maka diumumkan anatema (kutukan) terhadap ajaran Arius, sebagai berikut: “Bagi orang yang berkata: “Ada jarak waktu dimana Yesus belum ada. 

Sebelum dilahirkan, Yesus tidak ada. Yesus diciptakan dari yang tidak ada. Anak (Yesus) berbeda zatnya dengan Allah. Yesus adalah obyek perubahan, maka Gereja Katolik menjatuhkan kutukan.” 

Setelah peserta konsili pulang ke daerahnya masing-masing, mereka terlibat kembali dalam perdebatan mengenai keputusan konsili itu. Pengikut Unitarian (Adopsionisme) yang selalu menentang keputusan konsili itu ditangkapi, dan sebagian dibunuh, dan yang tak mau tobat untuk menerima doktrin Trinitas dijebloskan dan disiksa di penjara bawah tanah. Arius sendiri sejak tahun 325 M, telah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di pulau kecil sekitar selat Bosporus. Walaupun begitu, perdebatan semakin meruncing di wilayah kekuasaan Romawi. Hanya Athanasius yang masih mematuhi keputusan tersebut, sedangkan para pendukungnya sendiri diliputi kebingungan menghadapi berbagai tantangan. 

Sabinas, uskup tertua di Thracia, mengatakan, orang-orang yang hadir dalam Konsili Nicaea itu adalah orang dungu yang bodoh. Keputusan Konsili itu hanya disahkan oleh orang-orang tolol yang tidak memiliki pengetahuan dalam masalah itu. Setelah konsili selesai, Patriarkh Alexander wafat tahun 328 M. Terjadilah perebutan jabatan keuskupan Aleksandria. Athanasius dipilih dan ditasbihkan menjadi uskup di daerah itu. Pemilihan itu menimbulkan kecaman keras, karena dilakukan dengan intimidasi dan tindakan kekerasan lainnya. Pengikut Arius mengadakan perlawanan terhadap Athanasius. 

Costantina Agusta, saudara kaisar Konstantin, menentang pembunuhan terhadap orang Kristen Unitarian, terutama menentang pembuangan Eusebius dari Nicomedia. Dia tetap mempertahankan bahwa Arius adalah pemimpin agama Kristen yang benar. Akhirnya, Konstantina berhasil membebaskan Eusebius agar kembali ke istana. Kembalinya Eusebius ini merupakan pukulan telak bagi kelompok Athanasius. Konstantin semakin condong kepada Arius. Ketika mendapat laporan tentang kecaman masyarakat Kristen atas pemilihan Athanasius, dia memanggil uskup itu agar datang ke Konstantinopel. Dengan berbagai alasan Athanasius tidak mau datang memenuhi panggilan itu. Pada tahun 335 M, ketika dilangsungkan konsili di kota Tyre untuk memperingati tiga puluh tahun pemerintahan kaisar Konstantin, Athanasius diwajibkan untuk menghadirinya. Dalam konsili itu, dia dituduh telah melakukan kelaliman di wilayah keuskupannya. Karena suasana sidang saat itu menyudutkan dirinya, maka dia segera keluar sebelum konsili menjatuhkan hukuman kutukan kepada dirinya. Para uskup kemudian melanjutkan sidang di Yerusalem dan mengukuhkan kutukan terhadap Athanasius, serta menerima Arius kembali ke pangkuan Gereja. 

Konstantin mengundang Arius dan Eusebius ke Konstantinopel. Perdamaian antara Arius dan Kaisar terjalin baik, dan para uskup menjatuhkan kutukan kepada Athanasius. 

Arius diangkat menjadi Patriarkh Konstantinopel, tetapi jabatan itu tidak berlangsung lama, dia wafat secara mendadak pada tahun 336 M, karena makanannya diberi racun. Pihak Gereja Barat menganggapnya suatu keajaiban, tetapi pihak istana mencurigai peristiwa itu. Kaisar membentuk komisi untuk menyelidikinya. Athanasius terbukti sebagai otak pembunuhan tersebut dan dijatuhi kutukan. 

Konstantin yang perasaannya sangat terguncang atas kematian Arius itu, di bawah bimbingan Constantina, akhirnya dia memeluk agama Kristen Unitarian, dan dibaptis oleh Eusebius dari Nicomedia. Pada tahun 377 M, kaisar Romawi itu meninggal dunia dengan membawa keyakinan bahwa Tuhan ALLAH satu-satunya Tuhan Yang Disembah, dan Yesus adalah tidak lain hanya manusia biasa yang diutus oleh Allah, Bapa-Nya. 

Arius memiliki peranan penting dalam sejarah Kekristenan. Bukan hanya karena jasanya yang berhasil menarik kaisar Konstantin memeluk agama Kristen, tetapi juga karena mewakili orang-orang yang tabah mempertahankan ajaran Yesus yang murni. Di saat itu ajaran Yesus tercampur aduk dengan kepercayaan-kepercayaan paganisme dan politeisme, sehingga ajaran Kristen yang asli dan yang palsu semakin kabur. Maka Arius dengan segala keberaniannya dan ketabahan hatinya, tampil mempertahankan kemurnian ajaran Yesus—walau selalu dianggap sesat oleh 

Gereja Trinitarian dan yang sealiran. 
Kuasa Kepausan menjadi paling tinggi dalam dunia Kekristenan sejak tahun 538 M berdasarkan dekrit kaisar Roma bernama Justinian, yang mengumumkan bahwa uskup Roma sebagai kepala dari seluruh gereja (Undang-Undang Justinian). 


[Sumber:  Nuur Al-Fadhli | Summy Summer | Sejarah Kristen, Wikipedia, Abrahamic Faiths]

Friday, January 12, 2018

Trinitas, Sebuah Misteri Yang Mengada-ada! Friday, January 12, 2018


Seingat saya, rasanya belum pernah kita temui ada pengikut Paulus yang mampu dengan tegas, lugas, dan tuntas menjelaskan apa dan bagaimananya Tuhan Trinitas mereka tanpa menggunakan analogi. 

Tentu saja ini terasa ganjil, karena bagaimana mungkin ada sekumpulan orang mengaku mengimani doktrin Trinitas tapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu menjelaskan apa yang diimani sendiri itu dengan baik? 

Apa yang salah?
Doktrin trinitasnyakah, atau otak para pengikutnya?

Dari sekian banyak analogi yang ujungnya dipastikan akan jeblog alias nyungsep, maka ini adalah yang paling populer mereka usung:

Menurut kebanyakan mereka, analogi tentang TRINITAS itu begini:

Manusia disebut sebagai MANUSIA karena adanyanya 3 unsur ini: 
(1) tubuh, 
(2) roh, dan 
(3) jiwa. 

Artinya, agar bisa disebut sebagai manusia, maka ketiga unsur itu HARUS MENJADI SATU SEUTUHNYA.

Demikian juga dengan Tuhan menurut kristen. Tuhan disebut sebagai TUHAN karena adanya 3 unsur ini: 
(1) Bapa, 
(2) Roh Kudus, dan 
(3) Yesus.

Artinya, agar bisa disebut sebagai TUHAN, maka ketiga unsur itu HARUS MENJADI SATU SEUTUHNYA. 

Sekarang, mari kita perhatikan baik-baik apa jadinya jika masing-masing dari tiga unsur manusia di atas kita pisahkan.

● Tubuh manusia tanpa roh dan jiwa jelas disebut MAYAT, alias BUKAN MANUSIA,
● Roh manusia tanpa tubuh dan jiwa jelas disebut ROH, alias BUKAN MANUSIA, 
● Jiwa manusia tanpa tubuh dan roh jelas disebut JIWA, alias BUKAN MANUSIA.

Ini sangat jelas mengindikasikan bahwa jika berdiri sendiri-sendiri, tidak ada satupun dari ketiga unsur manusia tadi yang boleh disebut sebagai manusia!

Lalu, bagaima pula jadinya jika ketiga unsur tuhan trinitas juga kita pisahkan?

● Bapa tanpa Roh Kudus dan Yesus seharusnya disebut Bapa saja, sebab dia BUKAN TUHAN
● Roh Kudus tanpa Bapa dan Yesus seharusnya disebut Roh Kudus saja sebab dia BUKAN TUHAN 
● Yesus tanpa Bapa dan Roh Kudus seharusnya disebut Yesus saja sebab dia BUKAN TUHAN.

Sama dengan "pemisahan" unsur manusia di atas, maka pemisahan unsur tuhan trinitas juga praktis mengindikasikan dengan sangat jelas bahwa jika berdiri sendiri-sendiri, tidak ada satupun yang boleh dianggap sebagai tuhan!

Jelas bukan?

Jadi, buat apa repot dengan segala macem teori muluk-muluk tentang trinitas, atau tuhan tritunggal ini, jika pada ujungnya tokh logika juga yang akan menentukan; doktrin trinitas itu masuk akal atau tidak?

Dan sayangnya, lebih banyak manusia di muka bumi ini yang menganggapnya TIDAK MASUK AKAL dibanding yang mengimaninya secara buta cuma karena iming-iming jika mati nanti bakal langsung masuk sorga!

Mereka yang tidak percaya itu antara lain punya pemikiran logis kurang lebih begini:

Berdasarkan teori berbasis analogi di atas tadi, Yesus di bumi yang setiap hari, pagi, siang, sore, dan malam berdoa kepada Bapa di sorga jelas bukan Tuhan karena tidak bersatu dengan Bapa di sorga dan dengan Roh Kudus yang entah berada di mana.

Roh Kudus yang dipercaya suka keluyuran sendirian ke sana ke mari sambil tebar informasi tentang Tuhan nyatanya tidak bersama Yesus dan tidak pula bersama Bapa, dan celakanya lagi, terbukti sering sekali memberikan informasi ngaco alias tidak benar menyangkut eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Ini juga jadi alasan kenapa Roh kudus itu tidak bisa dipercaya sebagai unsur Tuhan, apalagi sebagai tuhan itu sendiri! 

Masa sih tuhan bisa salah memberi informasi tentang segala sesuatu yang menjadi ciptaan-Nya sendiri? Yang bener sajalah!

Sedangkan Bapa di Sorga, konon katanya adalah entitas yang menciptakan alam raya ini berikut seluruh isinya. 

Nah, dengan kapabilitas sedahsyat itu, tentu cuma Bapalah satu-satunya yang pantas disebut sebagai Tuhan! 

Artinya, dua unsur trinitas berinisial Roh Kudus dan Yesus Kristus tadi jelas bukan tuhan karena tidak pernah terbukti mampu berperan sebagai tuhan seperti Bapa yang sekalipun sendiri, tapi diyakini oleh pengikut Paulus sebagai satu-satunya entitas yang mampu menciptakan jagad raya beserta seluruh isinya ini! Jelas ini adalah kekuasaan yang tidak mungkin ada pada siapapun kecuali pada Tuhan semesta alam!

Tegasnya, jika sendiri saja Bapa mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh makhluk manapun juga, tentu DIA tidak membutuhkan siapapun sebagai "tuhan lain" yang harus disejajarkan dengan diri-Nya cuma sekedar untuk bantu-bantu doang! 

Ini penghinaan secara terang-terangan kepada kemahakuasaan Bapa namanya! 

Padahal ribuan tahun sebelum gagasan tentang trinitas ini dicetuskan oleh Quintus Septimius Florens Tertullianus -- atau lebih dikenal sebagai Tertullian saja -- sekitar tahun 200 M, Bapa yang cuma sendiri saja itu sudah dengan sangat tegas menginformasikan kepada umat manusia melalui utusan-utusan-Nya, yaitu para nabi terdahulu, bahwa TIDAK ADA SATUPUN YANG SERUPA DENGAN DIA, dan TIDAK ADA SATUPUN YANG BOLEH DISEJAJARKAN DENGAN DIA! 

Dalam bundel buku-buku tebal bernama alkitab milik umat Paulus penegasan itu tercatat cukup jelas dalam Kitab Ulangan 4:35; 4:39; 5:7; 6:4; 33:26 ● 2Samuel 7:22 ● Keluaran 9:14; 20:5 ● Yesaya 43:11-13; 46:9; 48: 12; 54:5; 63:8-9 ● dan Hosea 13:4.

Adapun Tertullian sebagai pencetus gagasan Trinitas sama sekali tidak mampu menjelaskan lebih jauh lagi tentang teorinya itu kecuali sebatas definisi bahwa Trinitas adalah "una substantia trepersonae" (satu substansi dalam tiga pribadi) dengan sedikit tambahan begini: 

"Let us preserve the mystery of the divine economy which dispose the unity into trinity, the Father, the Son, and the Holy Spirit, three not in essence but in grade, not in substance but in form". 

Artinya:

"Marilah kita melestarikan misteri ikatan keilahian yang menjelaskan kesatuan dari yang tiga, Bapa, Anak dan Roh Kudus, tiga bukan dalam esensi, tetapi dalam tingkatan, bukan dalam substansi tetapi dalam bentuk."

Jadi, Tertullian menganjurkan pengikut Paulus agar "melestarikan misteri" trinitas, bukan karena hubungan antara ketiga unsur trinitas itu bersifat misterius, tapi lebih kepada ketidakmampuannya sendiri untuk menjelaskan trinitas secara tegas, lugas, dan tuntas!

Ini bertentangan dengan kehendak Tuhan yang tidak suka misteri, sebab jangankan bermisteri, sedangkan sudah sangat jelas diperkenalkan-Nya melalui para nabi yang menjadi utusan-Nya, termasuk melalui Yesus sekalipun, nyatanya kebanyakan manusia masih mengalami kesulitan untuk mengenali Tuhan sejati. 

Konon pula bila Tuhan "bermain-main" dengan misteri?

Urusan dengan Tuhan tidak bisa dan tidak pernah boleh dianggap sebagai main-main bung!

Perhatikanlah bagaimana jujurnya “mbahnya Romo” Trinitas, Athanasius, bercerita dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire yang ditulis oleh Edward Gibbon ini:

“Teolog besar Kristen Athanasius sendiri secara terbuka mengakui bahwa semakin dia memaksakan pengertiannya untuk menjelaskan ketuhanan Logos (Firman), segala daya dan upaya yang diusahakannya kandas dengan sendirinya; bahwa semakin dia berfikir, semakin dia kurang memahami; semakin banyak penulis, semakin kurang kemampuan menjelaskan jalan pikirannya”.

Baru mencoba memformulasikan hubungan Yesus sebagai Logos (Firman) dengan Tuhan Allah saja, dia sudah pusing. Belum lagi di tambah dengan “Tuhan” Roh Kudus!

Monsignor Eugene Clark mengakui konsep Trinitas sulit dimengerti. Untuk itu, menurut dia sebaiknya konsep Trinitas diterima saja walaupun tidak dimengerti.

“Tuhan itu satu, Tuhan itu tiga. Karena tidak ada yang seperti ini di alam ini, sehingga kita terima saja walaupun kita tidak mengerti”

Hubungan ketiga oknum dalam Trinitas dengan susah payah diciptakan oleh Gereja di tengah-tengah pertentangan, kontroversi dan malah pertumpahan darah. Akhirnya Pemimpin Gereja terpaksa harus mengeluarkan pernyataan untuk menerima ajaran Kristen tanpa harus menyelidikinya. 

Uskup Agung Anslem, pemimpin Gereja di Canterbury (1093-1109) dalam bukunya Prosologian I, menulis:

“Saya tidak perlu mengerti untuk percaya, tetapi saya percaya agar saya mengerti.”

Selanjutnya dalam bukunya Cur Deus Homo dia menjelaskan urut-urutan menerima "ajaran yang misterius" dalam Kristen:

“Urutan yang tepat adalah meyakini keimanan Kristen secara mendalam lebih dahulu, baru kemudian mendiskusikannya berdasarkan akal sehat. Dengan demikian, walaupun saya tidak mengerti sama sekali, tidak ada yang akan dapat mengguncang keteguhan iman saya”

Nah, jika para dedengkot kristen saja kebingungan bagaimana menjelaskan trinitas, bagaimana pula para pengekornya yang cuma sekelas odong-odong di grup ini bisa lebih baik lagi menjelaskannya?

Jadi, dengan kata lain konsep tuhan tritunggal itu pada hakekatnya cuma HOAX!

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk.



[Juma'at, 12 januari 2018]


Saturday, January 6, 2018

Sejarah Singkat Doktrin Trinitas Saturday, January 6, 2018


PENDAHULUAN
Trinitas adalah kata Latin, berasal dari istilah Platonik “trias” yang berarti “tiga”. Kata ini hanya berdasarkan filsafat manusia, bukan berdasarkan konsep Alkitab.

Diperkenalkan oleh Tertullian (160-225 AD/Sesudah Masehi), seorang penyembah berhala yang kemudian menjadi seorang filsuf dan salah satu Bapa dari gereja Katolik, yang pada abad ketiga mengajarkan tentang ilmu Ketuhanan. Dia menyimpulkan bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu unsur tetapi bukan satu oknum. Namun dia tidak mengajarkan bahwa Anak Allah dan Bapa adalah sama kekal.
Banyak pertanyaan yang tidak terjawab mengenai ajaran Trinitas ini. Pertanyaan yang paling lazim adalah: “Di mana ajaran ini dapat ditemukan dalam Alkitab?” 
Sepanjang sejarah, para pakar mengakui bahwa ajaran ini tidak Alkitabiah, tapi ada juga yang mencoba mengutip 1Yohanes 5:7 sebagai jawaban. Namun berdasarkan sejarah yang benar, kata-kata yang dicetak miring dalam ayat tersebut: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu).” hanyalah kata-kata yang ditambahkan oleh sang penerjemah karena kata-kata tersebut tidak terdapat dalam naskah asli.

Perhatikan apa yang tertulis dalam Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa Gereja MAHK di bawah ini:
“Di antara ahli-ahli teolog ada perdebatan bahwa kalimat ini tidak asli tapi telah ditambahkan, mungkin untuk menyokong doktrin Trinitas.”
ASAL MULA DOKTRIN TRINITAS
Kira-kira satu abad setelah Tertullian menelorkan gagasan yang diadopsinya dari kepercayaan Pagan bahwa eksistensi Tuhan adalah Trinitas, para pengikut Arius (Arians) melakukan banyak aksi penentangan yang menyebabkan kaisar Costantine terpaksa mengadakan sidang Oikumene pertama dalam sejarah, untuk mempersatukan kerajaannya.

Pada permulaan abad ke-4 M tersebut, sejarah mencatat Arius mengajarkan bahwa Kristus adalah Anak Allah yang benar-benar lahir dari Bapa. Itulah sebabnya Allah disebut Bapa. Dengan kata lain, secara harafiah hubungan mereka sesungguhnya adalah hubungan antara Bapa dan Anak. Sebaliknya, Athanasius, seorang diakon juga berasal dari Alexandria menantang keras ajaran Arius.

Pandangan Athanasius berakar kuat pada doktrin Trinitas yang telah diajarkan sejak jaman kuno, dimana Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu Allah yang sama, tapi bukan oknum yang sama. Oleh sebab itu tidak mungkin Allah Bapa dan Anak-Nya memiliki hubungan harafiah sebagai Bapa dan Anak. Pandangan Athanasius ini mengalami perubahan yang kian memburuk dari waktu ke waktu. Mulanya, Roh Kudus belum diberi gelar sebagai Oknum ketiga. Gelar ini perlahan terbentuk seiring dengan berjalannyua perubahan waktu.

Ajaran sejarah populer mengatakan Arius sesungguhnya mengajarkan bahwa Kristus hanyalah mahluk ciptaan dan menurut sejarah yang benar, namun sengaja disembunyikan oleh ajaran sejarah populer, mengatakan bahwa Gereja Katolik dengan penyetujuan kaisar Constantine telah membakar semua tulisan Arius lalu memberikan kesimpulan sebaliknya. Banyak pakar sejarah percaya bahwa Gereja Katolik telah merubah tulisan-tulisan Arius dan menyebarkan desas desus tidak benar seolah Arius mengajarkan Kristus hanyalah mahluk ciptaan, dengan tujuan memburukkan nama Arius.

Seperti kita ketahui bersama, Gereja Katolik terkenal dengan peran liciknya dalam merubah sejarah demi menentang kebenaran Allah. Ini hanya merupakan salah satu contoh dari banyak kekejian yang mereka lakukan.

Pandangan Athanasius ini dipengaruhi juga oleh Origen, seorang seorang filsuf Yunani dan pakar agama yang merubah doktrin Kekristenan melalui filsafat Neoplatonisme. Ajaran Origen ini kemudian dituduh tidak sesuai dengan tradisi. Origen mengajarkan doktrin api penyucian, transubstansi (roti perjamuan kudus dirubah menjadi tubuh Kristus yang sesungguhnya dalam sakramen, bukan hanya sekedar lambang saja), transmigrasi (jiwa orang mati berpindah kepada oknum lain), reinkarnasi jiwa, Roh Kudus memiliki sifat kewanitaan, Yesus hanyalah makhluk ciptaan, tidak ada kebangkitan, penciptaan dalam buku Kejadian hanya cerita fiksi, dan dia (Origen) menyunat diri sendiri berdasarkan interpretasi pribadi atas Matius 19. 

Sebaliknya, Arius adalah murid Lucian dari Antiokia. Lucian-lah yang memberi kita Textus Receptus (Terjemahan yang diakui dewan Alkitab mula-mula) yang kemudian proses penerjemahannya diselesaikan oleh Erasmus dan sekarang dikenal dengan Perjanjian Baru yang berdasarkanAlkitab Versi King James yang menurut bukti sejarah adalah terjemahan yang terpercaya. Fakta ini dan banyak fakta-fakta lain memaparkan bahwa Athanasius dipengaruhi oleh filsafat Yunani, dan sebaliknya ada kemungkinan besar bahwa Arius-lah yang justru mengajarkan kebenaran Alkitab, yang tentu saja tidak diajarkan oleh pelajaran sejarah yang populer saat ini.

Banyak yang percaya bahwa Constantine adalah Kaisar Roma pertama yang bertobat menjadi Kristen. Namun sebetulnya dia tetap menyembah matahari sampai akhir khayatnya. Ini dinyatakan dalam pengakuan baptisannya saat dia terbaring sekarat di tempat tidur. Dalam masa pemerintahannya, dia memerintahkan untuk membunuh istri dan putera sulungnya sendiri. Selain mencampur adukkan penyembahan berhala dengan Kekristenan demi tujuan politik, sebenarnya dia tidak perduli dan tidak mengerti asal usul pertentangan antara Arius dan Athanasius. Tujuannya hanya semata-mata untuk mengakhiri perdebatan demi kesatuan kerajaan. 

Para uskup berkumpul di Nicea pada tanggal 20 Mei 325 AD/Sesudah Masehi atas prakarsa Constantine dalam usahanya untuk memadamkan krisis yang sedang terjadi. Hanya sejumlah kecil para uskup percaya pada ajaran Athanasius tentang Kristus. Mayoritas uskup-uskup berposisi netral. Mereka tidak memihak Athanasius maupun Arius. Pertentangan doktrin ini berselang selama dua bulan sebelum sidang dewan Nicea menolak ajaran minoritas Arius. Karena tidak ada pilihan lain, Constantine menyetujui ajaran Athanasius yang juga hanya berupa kepercayaan minoritas saat itu. Dalam Ensiklopedi Britanika tertulis:
“Constantine sendiri memimpin diskusi dan menganjurkan formula penting ini dalam pernyataan tertulis. Atas nama dewan dia menetapkan hubungan Kristus dengan Allah disahkan oleh kaisar, para uskup, kecuali dua orang yang tidak memberikan suara. Pernyataan tertulis tersebut telah disahkan, walau sebenarnya banyak dari para pemilih saat itu tidak memilih sesuai dengan kehendak mereka sendiri.” (Edisi 1971, Vol. 6, “Constantine,” p. 386)
Penganiayaan keagamaan mengerikan menyusul keputusan yang dibuat oleh Constantine yang pada dasarnya tetap sebagai seorang penyembah berhala. Dia memaksakan peraturan gereja ini yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Yesus. Constantine mengasingkan mereka yang menolak keputusan gereja, termasuk para uskup yang ikut menanda-tangani peraturan tersebut dalam sidang Nicea sebelumnya karena penolakan mereka dalam mengutuk Arius. Constantine juga memerintahkan semua buku Arius yang berjudul “Thalia” untuk dihanguskan. Beberapa tahun kemudian Constantine melunak terhadap pengikut Arius dengan menerima mereka kembali ke dalam gereja. Pada tahun 335 AD/Sesudah Masehi giliran mereka yang pernah diasingkan oleh Constantine, membuat tuduhan terhadap Athanasius, yang kemudian adalah giliran Athanasius diasingkan oleh Constantine. Kita bisa melihat bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran Alkitab. Karena sebagai seorang kaisar penyembah matahari, Constantine-lah yang juga untuk pertama kali memaksakan hukum hari Minggu empat tahun sebelumnya. Constantine sangat berperan penting dalam membawa dua tradisi penyembahan berhala ini ke dalam gereja. Semuanya terjadi lebih dari 300 tahun setelah Yesus disalibkan, yang berarti bahwa ajaran gereja tentang Trinitas ini tidak dikenal di jaman Gereja Kristen mula-mula dan tidak diajarkan oleh para rasul. Lihat ensiklopedia Britanika dan tulisan sejarah yang benar.

LANDASAN DOKTRIN TRINITAS
Banyak dari para uskup yang mebentuk doktrin Trinitas condong pada ilmu Yunani dan Platonik, yang mempengaruhi pandangan kerohanian mereka. Bahasa yang mereka gunakan untuk menerangkan doktrin trinitas diambil langsung dari ajaran Platonik Yunani, yaitu kata “trias,” yang berarti tiga yang diadopsi sebagai Bahasa Latin “trinitas,” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “Trinity.” Dengan demikian Trinitas tidak berasal dari ayat Alkitab, melainkan dilahirkan oleh ilmu filsafat. Para pakar filsafat Yunani mendapat pengaruh besar dari Plato (427-347 BC/Sebelum Masehi) yang diagungkan sebagai seorang filsuf terbesar di atas semua filsuf-filsuf Yunani. Plato telah ditanamkan dengan ilmu Trinitas. Dia percaya bahwa semua agama kuno memiliki tiga allah. Dia kemudian memperkenalkan definisi yang tampaknya lebih mulus dan bijak, menunjukkan bahwa Allah Bapa adalah Allah di atas segala mitos allah bangsa Yunani. Definisi Plato tentang Allah adalah: 
  1. “Allah yang pertama,” merupakan Allah yang tertinggi di alam semesta;
  2. “Allah kedua” dia sebut “jiwa dari semesta alam.” dan
  3. “Allah ketiga” dia sebut “Roh.”
Seorang filsuf Yahudi bernama Philo dari Alexandria (15 BC-AD 50) yang mempelajari perkembangan filsafat Yunani, yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Plato mengajarkan bahwa:
  1. Bapa, adalah pencipta seluruh alam semesta (Philo menamakannya “The Demiurge”)
  2. Ibu, adalah ilmu/kuasa yang dimiliki oleh sang pencipta, dan
  3. Anak tercinta adalah bumi kita.
Dia menyimpulkan bahwa persatuan dari demiurge dan kuasa/ilmu, menghasilkan bumi kita ini. Bentuk pemikiran esoterik/misterius inilah yang menjadi dasar perkembangan doktrin Trinitas.

Perhatikan bagaimana kutipan kutipan berikut mendokumentasikan kepercayaan kepada tiga Allah di berbagai bagian bumi dan setiap agama dunia kita sejak dahulu.
  • Babilon – “Orang-orang Babilon kuno mengenal doktrin Trinitas, atau tiga oknum dalam satu allah – sesuai yang nampak dari gabungan allah dengan tiga kepala yang membentuk bagian dari mitologi, dan penggunaan segi tiga sama sisi, juga sebagai simbol dari Trinitas dalam kesatuan.” (Thomas Dennis Rock, The Mystical Woman and the Cities of the Nations, 1867, Hal. 22-23) 
  • India – “Puranas (Mitologi), salah satu dari kitab-kitab suci Hindu lebih dari 3.000 tahun lalu, berisi ayat-ayat berikut: ‘O engkau tiga Tuhan! Ketahuilah bahwa saya mengenal hanya satu Allah. Oleh sebab itu, katakanlah kepada saya, siapakah di antaramu yang benar-benar Ilah, sehingga saya dapat mengarahkan pemujaan-pemujaan saya hanya padanya saja.’ Ketiga allah, Brahma, Vishnu, dan Siva (atau Shiva), menunjukkan diri padanya, dan menjawab, ‘Belajarlah, O, pemuja, bahwa tidak ada perbedaan nyata antara kami. Apa yang nampak padamu hanyalah persamaan. Makhluk tunggal yang nampak di bawah tiga bentuk dalam pekerjaan-pekerjaan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan, tapi dia adalah satu.’ 
  • “Oleh sebab itu segi tiga diadopsi oleh semua bangsa-bangsa kuno sebagai simbol ke-Allahan…tiga dihormati di antara bangsa-bangsa kafir sebagai nomor mistik utama, karena seperti kata Aristotle, angka itu di dalamnya berisi sebuah permulaan, sebuah pertengahan, dan sebuah akhir. Dengan demikian kita dapati ini menandakan sifat-sifat dari semua allah penyembah berhala.” 
  • Yunani – “Pada abad ke 4 BC/Sebelum Masehi., Aristotle menulis: ‘Segala sesuatu adalah tiga, dan ketiga adalah semua: marilah kita menggunakan nomor ini dalam pemujaan kepada allah-allah; karena, seperti para penganut Pitagoras berkata, segalanya dan segala sesuatu adalah terikat dalam tiga-tiga, karena yang terakhir, pertengahan dan permulaan memiliki nomor ini dalam segalanya, dan menunjukkan nomor Trinitas.’’ (Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity, 1928, Hal. 197-198) 
  • Mesir – “Nyanyian untuk Amun menetapkan bahwa ‘Tidak ada allah yang menjadi Makhluk sebelum (Amun)’ dan bahwa ‘Semua allah adalah tiga: Amun, Re, Ptah, dan tidak ada yang kedua dari mereka. Yang tersembunyi namanya adalah Amon, dia adalah Re dalam wajah, dan tubuhnya adalah Ptah.’ …Ini adalah kalimat Trinitas, tiga allah terpenting Mesir yang digolongkan ke dalam satu dari mereka, yaitu Amon. Jelas, konsep kesatuan alami dalam kejamakan mendapat sokongan luar biasa dari formula ini. Secara teologi, dalam bentuk dasarnya, begitu menyolok sangat dekat pada bentuk Kekristenan yaitu kejamakan Trinitas dalam keesaan.” (Simson Najovits, Egypt, Trunk of the Tree, Vol 2, 2004, Hal. 83-84) 
  • Tempat-Tempat Lain – Banyak tempat-tempat yang lain juga memiliki ke-allahan Trinitas mereka sendiri. Di Yunani mereka adalah Zeus, Poseidon dan Adonis. Bangsa Fenesia menyembah Ulomus, Ulosuros dan Eliun. Roma menyembah Jupiter, Mars dan Venus. Bangsa-bangsa Jerman menyebutnya Wodan, Thor dan Fricco. Sehubungan dengan orang-orang Kelt, sebuah sumber berkata: “Dewa-dewa berhala kuno orang-orang kafir Irlandia, Kriosan, Biosena, dan Seeva, atau Sheeva, tidak diragukan lagi adalah Creeshna (Krishna), Veeshnu (Vishnu), (atau yang terutama) Brahma, dan Seeva (Shiva), dari orang-orang Hindu.” (Thomas Maurice, The History of Hindostan, Vol. 2, 1798, Hal. 171)

KONSEP TRINITAS ADALAH KONSEP PENYEMBAH BERHALA  
Jelas bahwa konsep Trinitas adalah konsep para penyembah berhala. Ahli ilmu Kemesiran Arthur Weigall dalam bukunya “Paganism in Our Christianity (Penyembahan Berhala di dalam Kekristenan Kita)” menyimpulkan bahwa ada pengaruh kepercayaan kuno dalam pengadopsian doktrin Trinitas oleh gereja.
  • Harus tidak dilupakan bahwa Yesus Kristus tidak pernah menyebut kejadian seperti itu (Trinitas), dan tidak ada di manapun juga dalam Perjanjian Baru kata Trinitas nampak. Ide itu hanya diadopsi oleh Gereja tiga ratus tahun setelah kematian dari Tuhan kita; dan konsep pertamanya adalah sama sekali kafir.
  • Pemikiran orang-orang Mesir kuno, sangat besar pengaruhnya pada kepercayaan mula-mula, biasanya menyusun dewa-dewa atau dewi-dewi mereka dalam Trinitas; ada Trinitas dari Osiris, Isis dan Horus, trinitas dari Amen, Mut dan Khonsu, Trinitas dari Khnum, Satis, da Anukis, dan sebagainya.
  • Namun umat Kristen mula-mula, mulanya tidak berpikir untuk mengaplikasikan ide iman mereka sendiri. Mereka memberi perbaktian-perbaktian mereka kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus, Putera Allah, dan mereka mengenal kemisteriusan dan keberadaan yang tidak dapat diterangkan dari Roh Kudus; tapi sebenarnya tidak ada pemikiran tiga makhluk sebagai Trinitas, yang sama derajat dan bersatu dalam keesaan.
  • Pengaplikasian kekafiran tua dari konsep Trinitas ke dalam teologi Kristen dimungkinkan dengan diwajibkannya pengakuan Roh Kudus sebagai ‘Oknum’ ketiga, sama derajat dengan ‘Oknum-Oknum’ yang lain.
  • Ide dari Roh menjadi sama derajat dengan Allah tidak umum dikenal sampai pada pertengahan abad keempat A.D (Sesudah Masehi). …Tahun 381 Sidang Constantinople menambahkannya ke dalam pengakuan iman yang sebelumnya yaitu Kredo Nicea yang menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah ‘Tuhan, dan pemberi hidup, yang berasal dari Bapa, bersama dengan Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan.’
  • Dengan demikian, kredo Athanasius, adalah susunan yang datang kemudian tapi mencerminkan konsep-konsep umum dari Athanasius (Penganut Trinitas abad ke 4 yang pandangannya akhirnya menjadi doktrin resmi) dan sekolahnya, yang merumuskan konsep sama derajat Trinitas dimana Roh Kudus adalah ‘Oknum’ ketiga; dan dijadikan dogma iman, dan kepercayaan dalam Tiga dalam Satu dan Satu dalam Tiga ini menjadi doktrin terpenting dalam Kekristenan, walaupun kerusuhan yang buruk dan pertumpahan darah tidak dapat dihindari.
  • Saat ini seorang pemikir Kristen … tidak berkeinginan untuk meneliti dengan saksama, khususnya kenyataan bahwa definisi ini bermula pada penyembahan berhala dan tidak diadopsi oleh Gereja hingga hampir 300 tahun sesudah Kristus. (Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity (Penyembahan Berhala dalam Kekristenan Kita), 1928, Hal. 197-203)
Dewan Nicea tidak berhasil mengakhiri perdebatan antara Athanasius dan Arius. Para uskup tetap mengajarkan ajaran Athanasius dan Arius sesuai dengan kepercayaannya, dan krisis ini berlangsung sampai enam puluh tahun kemudian. Periode pengucilan Athanasius tidak lebih dari lima tahun. 

Pertentangan dari kedua kepercayaan tersebut dipenuhi kekerasan dan kadang mengakibatkan pertumpahan darah. Pakar sejarah Will Durant menulis,
"Kemungkinan besar jumlah umat Kristen yang terbunuh oleh umat Kristen lain dalam masa dua tahun konflik (242-243 AD) melebihi jumlah umat Kristen yang terbunuh dalam masa penganiayaan umat Kristen oleh para penyembah berhala sepanjang sejarah Roma.” (The Story of Civilization, Vol 4; The Age of Faith, 1950, Hal. 8).
Oleh karena perbedaan pandangan tentang kepribadian Allah, menurut sejarah, umat Kristen saling memerangi dan membunuh satu sama lain! Waktu Constantine meninggal di tahun 337 AD, perselisihan masih tetap berlangsung. Putera Constantine, Constantius II memihak para pengikut Arius dan berusaha menghapus keputusan Dewan Nicea. Constantius menggunakan kekuasaannya untuk mengasingkan para uskup yang pro keputusan Dewan Nicea terutama Athanasius yang melarikan diri ke Roma. 

Perdebatan ini menghasilkan banyak rapat persidangan, di antaranya adalah pertemuan Sardica tahun 343 AD, rapat dewan Sirmium tahun 358 AD dan dua pertemuan Rimini dan Seleucia tahun 359 AD, yang menghasilkan kurang lebih empat belas keputusan di antara tahun 340 dan 360 AD. 

SILANG PENDAPAT TENTANG ROH KUDUS 
Setelah kematian Constantius pada tahun 361 AD, penerusnya Julian, seorang penyembah berhala Roma, menyatakan bahwa dia tidak lagi mendukung perselisihan yang terjadi dalam gereja, dan memerintahkan semua uskup yang sedang dalam perasingan kembali diterima, akibatnya pertikaian menjadi lebih buruk lagi di antara umat-umat Kristiani.

Akhirnya perselisihan melebar pada hal-hal tentang asal-usul Roh Kudus. 44 tahun setelah meninggalnya Constantine, di bulan Mei 381 AD, kaisar Theodosius mendukung keputusan sidang Nicea. Oleh sebab itu setelah sang kaisar tiba di Constantinople, dia mengirim uskup Demophilus ke perasingan, dan menyerahkan kepemimpinan seluruh gereja kepada Gregory dari Nazianzus, seorang pemimpin komunitas kecil Nicea, Bersama tiga orang lain yang dikenal sebagai “tiga Cappadocians.” Tiga orang ini memiliki agenda yang untuk pertama kali memaksakan ide Roh Kudus sebagai oknum terpisah. Waktu itu Gregory baru diangkat menjadi kepala uskup di Constantinople, tapi karena penyakitnya, Nectarius, tua-tua anggota majelis kota tertinggi mengambil alih jabatan kepala uksup dan dia memimpin dewan persidangan. 

Pada dasarnya Nectarius hanya dibaptis untuk jabatannya tetapi dia sebenarnya bukan seorang yang mengerti asal usul ajaran Trinitas dan Roh Kudus. Dia sama sekali buta akan ilmu Ketuhanan. Alhasil, keluarlah peraturan yang dikenal dengan keputusan Nicene-Constantinopolitan yang mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Oknum terpisah. 

Mereka yang tidak menerima keputusan kaisar dan gereja disebut sebagai orang murtad dan dihukum sesuai hukum yang telah ditentukan. Keputusan terakhir tentang kepribadian Allah sesuai dengan ajaran Trinitas inilah yang sekarang dikenal dan diajarkan dalam Kekristenan. 

Pandangan ini sama sekali bukan berdasarkan Alkitab tapi hanya berdasarkan filsafat Yunani yang dipaksakan oleh penguasa pada jaman itu. 

Secara rigkas, ketika Babel dikalahkan, hampir semua pendeta Babel membawa pengaruh penyembahan berhalanya ke Alexandria yang kemudian diasimilasikan dalam sekolahnya. Para lulusan Alexandria melanjutkan ajaran penyembahan berhala bangsa Yunani yang didasarkan atas ajaran Plato dan dicampur aduk dengan ajaran Kristen (Neoplatonisme). Merekalah yang mulai menerjemahkan Alkitab menggunakan sistim penjelasan dengan bahasa kiasan. Sebaliknya, Lucian (guru dari Arius) menolak sistim terjemahan dari Alexandria. Dia menganjurkan sistim terjemahan sesuai yang tertulis (harafiah) yang berabad-abad lamanya digunakan oleh gereja-gereja Kristen di bagian Timur. 

Dengan kata lain, Origen menggunakan metode kiasan dalam menjelaskan atau menerjemahkan Alkitab, dimana metode yang sama menjadi dasar ajaran Athanasius dan ketiga Cappadocians dan kemudian menjadi dasar doktrin Trinitas yang sekarang ini lazim dikenal.
“Sekolah teologi Kristen Alexandria memuja Clement dari Alexandria dan Origen, ahli ilmu teologi yang sangat populer di antara semua ahli teolog gereja-gereja Yunani. Mereka memperkenalkan penggunaan metode penjelasan Alkitab dalam bahasa kiasan yang ajarannya dipengaruhi oleh Plato: berakar kuat dari (penyembahan berhala) ilmu spekulasi tentang Allah. Athanasius dan ketiga Cappadocians (tiga pemimpin yang pandangan Trinitasnya diadopsi oleh Gereja Katolik dalam sidang Nicea dan Constantinople) tercatat sebagai anggota dari sekolah ini.” (Hubert Jedin, Ecumenical Councils of the catholic Church: a Historical Outline, (Sidang-Sidang Oikumene Gereja Katolik: Garis Besar Sejarah), 1960, p. 28).


[Sumber: trinitytruth | Yolanda Kalalo-Lawton | agape]

Sejarah Trinitas

Published on Facebook December 30, 2012 at 8:03 PM

Pengalaman batin orang Kristen di zaman awal
Paham Trinitas berasal dari pengalaman batin orang Kristen pengikut Yesus di zaman awal akan perjumpaan dengan yang ilahi. Pada saat itu belum ada paham Trinitas sebagaimana dirumuskan belakangan. Pengalaman batin itu mendahului paham teologisnya. Para pengikut Yesus itu mengalami Keilahian dalam tiga bentuk atau modalitas:
  1. mengalami Keilahian sebagaimana mereka pahami dari kitab-kitab Yahudi (Perjanjian Lama): sebagai Pencipta, Tuhan dari sejarah penyelamatan, Bapa, dan Hakim;
  2. mengalami Keilahian di dalam diri Yesus, yang hidup di tengah manusia, sebagai “Yang Telah Bangkit Kembali”;
  3. mengalami Keilahian sebagai Roh Kudus yang memberi kekuatan bagi hidup baru, kuasa bagi Kerajaan Allah, sebagaimana misalnya dialami oleh para murid pada peristiwa Pentakosta.
Sepanjang sejarah Kristen, masalah bagaimana mempertemukan pengalaman akan Keilahian dalam tiga bentuk/modalitas ini dengan prinsip keesaan Tuhan (monoteisme) telah menjadi bahan kajian dan perenungan yang sangat mendalam bagi orang Kristen yang saleh. Ini menjadi pendorong pula bagi berkembangnya suatu teologi spekulatif yang mengilhami metafisika Barat selama berabad-abad.

Namun, selama dua abad pertama Masehi, terdapat berbagai jawaban terhadap masalah ini yang berdiri berdampingan dan berhadap-hadapan. Pada mulanya para ahli teologi Kristen itu belum mengkajinya secara spekulatif.

Perbedaan paham seputar tokoh Yesus
Berbagai paham tentang Trinitas itu berpusat pada perbedaan paham tentang tokoh Yesus. Menurut Injil Yohanes, keilahian Yesus adalah titik awal untuk memahami pribadi dan karyanya. Yesus adalah keilahian yang telah ada sebelum ruang dan waktu ini tercipta, dan yang turun ke dunia (berinkarnasi) untuk menebus manusia yang berdosa.

Di lain pihak, Injil Markus tidak berangkat dari teologi inkarnasi, melainkan memahami baptisan Yesus di sungai Yordan sebagai pengangkatan manusia Yesus ke dalam kedudukan Putra Allah [Sonship of God], yang terjadi dengan turunnya Roh Kudus dalam wujud burung merpati. Jadi sampai di sini sudah ada dua pendekatan yang berbeda.

Situasinya menjadi makin rumit ketika muncul konsep tentang pribadi ilahi kedua yang khas sebagaimana terlihat dalam diri Yesus; sedangkan Roh Kudus tidak dilihat sebagai tokoh berpribadi, melainkan sebagai kuasa/kekuatan, dan digambarkan hanya dalam wujud burung merpati atau lidah api. Dengan demikian, Roh Kudus untuk sebagian besar terdorong ke belakang di dalam kesadaran dan liturgi Kristen sehari-hari.

Masuknya tema-tema Neoplatonik
Di dalam Injil Yohanes terdapat petunjuk-petunjuk awal dari konsep Kristus sebagai Logos, “Sabda”, yang sudah ada pada awal segala zaman. Di bawah pengaruh filsafat Neoplatonisme yang datang belakangan, tradisi ini menjadi sentral di dalam teologi spekulatif. Orang memikirkan bagaimana mempertemukan prinsip “keesaan Allah” dengan “triplisitas” (rangkap tiga) manifestasi keilahian. Masalah ini dijawab dengan menggunakan metafisika keberadaan [being] dari filsafat Neoplatonisme.

Menurut filsafat Neoplatonisme, Allah yang transenden, yang berada di atas segala keberadaan, di atas segala rasionalitas, dan di atas segala konseptualitas, berangsur-angsur melepaskan transendensi keilahiannya. Pada tindakan awal dari proses sadar-diri, Logos menyadari dirinya sebagai batin ilahi (Yunani: nous). (Bandingkan ini dengan ta-ayyun awwal dari Ibn Arabi, dan alam wahdatiyah [#2] dari Mas Winarno.) Batin ilahi, yang juga disebut akal budi semesta yang bersifat ilahi, ini oleh filsuf Neoplatonik, Plotinus, dinamakan “Putra” yang muncul (datang) dari Bapa.

Langkah berikut dari proses Allah-transenden menjadi sadar-diri adalah munculnya alam ilahi [divine world] di dalam batin ilahi [nous], yakni ide tentang alam semesta dengan wujud-wujud individualnya sebagai isi kesadaran ilahi. (Bandingkan ini dengan ta-ayyun tsani dari Ibn Arabi, dan alam wahidiyah [#3] dari Mas Winarno.)

Di dalam filsafat Neoplatonisme, baik nous maupun ide alam semesta disebut hipostasis (emanasi, pembabaran, pengejawantahan ke “bawah”) dari Allah yang transenden. Teologi Kristen belakangan meminjam dari filsafat Neoplatonik ini-metafisika substansi serta doktrin hipostasis-sebagai titik tolak untuk memahami hubungan antara “Allah Bapa” dan “Allah Putra”. Hubungan itu ditafsirkan menurut doktrin hipostasis Neoplatonik. Di sini juga terkandung tafsiran Kristologi spekulatif yang paralel dengan spekulasi Neoplatonik tentang Logos.

Kesulitan dengan Neoplatonisme
Kesulitan bagi orang Kristen dalam meminjam dari Neoplatonisme ialah karena dalam doktrin hipostatisasi tersirat adanya sesuatu yang “berkurang” dari Allah yang transenden ketika beremanasi menjadi Logos dan seterusnya ke bawah; ada sesuatu yang “melemah”, yang inheren di dalam proses yang berlangsung secara hirarkis itu. Derajat keilahian itu makin lama makin berkurang dengan makin mendekatnya keberadaan ilahi itu kepada materi. (Di dalam filsafat Neoplatonisme, materi di anggap sebagai bukan-keberadaan [nonbeing].)

Jadi, dengan mencangkokkan doktrin hipostasis Neoplatonik kepada tafsiran Kristiani tentang Trinitas, terdapat bahaya bahwa berbagai manifestasi Allah itu-sebagaimana dirasakan dalam pengalaman batin Kristen sebagai:

Bapa, Putra dan Roh Kudus-berubah menjadi hirarki tuhan-tuhan yang bertingkat-tingkat, menjadi politeisme.
Sekalipun bahaya ini dengan sadar dihindari, dan-berangkat dari Kristologi Logos-kesamaan esensi sepenuhnya dari ketiga manifestasi Allah itu ditekankan, ada bahaya lain yakni munculnya kembali triplisitas, yakni tuhan-tuhan yang setara, yang bertentangan dengan prinsip monoteisme murni.

Upaya merumuskan Trinitas: “kontroversi Arius”
Pada abad ke-3 M orang mulai sadar bahwa upaya memahami misteri Trinitas menurut teori hipostasis Neoplatonik tidak memuaskan dan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Puncak di mana kesulitan dasar itu mencuat secara teologis dan eklesiastik (kelembagaan gereja) ke permukaan secara mencolok adalah apa yang disebut “kontroversi Arius”.

Arius termasuk aliran teologi Antiokhia, yang menekankan historisitas dari manusia Yesus. Dalam teologinya, Arius mempertahankan pemahaman formal tentang keesaan Allah, persis seperti ditekankan oleh doktrin Tauhid dalam Islam, dan deklarasi “Shema” dalam agama Yahudi.

Di dalam mempertahankan keesaan Allah itu, Arius terpaksa menyanggah kesamaan antara hakikat Putra dan Roh Kudus di satu pihak dengan hakikat Allah Bapa di lain pihak. Paham ini ditekankan oleh para pemikir dari aliran teologi Aleksandria yang dipengaruhi filsafat Neoplatonisme.

Dari sejak awal, kontroversi antara kedua kelompok ini bertumpu pada konsep metafisikal mengenai substansi dari Neoplatonisme-konsep itu sendiri asing bagi Perjanjian Baru-yakni pertanyaan: apakah esensi itu? Tidak heran bahwa kemudian kontroversi ini dirumuskan dalam slogan: “kesamaan esensi [dan oleh karena itu setara]” [homoousion] vs. “kemiripan esensi [dan oleh karena itu, tak sama dan tak setara]” [homoiousion] di antara berbagai pribadi ilahi itu. (Orang-orang yang sinis-macam Gibbon- berkata bahwa orang Kristen menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat tentang sebuah huruf hidup: “i” [iota] dalam “ou” vs. “iou”. Dari sinilah asal ungkapan populer dalam bahasa Inggris: “It makes not one iota of difference.”  Tapi bagi penganut kental Kristen perbedaan satu huruf itu berarti sangat penting.)

Posisi dasar dari Arius adalah menyanggah kesamaan esensi dari Putra (dan Roh Kudus) dengan esensi Allah Bapa, untuk mempertahankan keesaan Allah. Dengan demikian menurut Arius, Putra menjadi “Allah kedua, di bawah Allah Bapa [subordinated]”- artinya, ia adalah Allah dalam arti kiasan belaka, oleh karena dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, posisi Putra berada di pihak Ciptaan, sekalipun berada pada puncak Ciptaan (merupakan ciptaan tertinggi).

Di sini Arius bergabung dengan suatu tradisi Kristologi yang lebih tua, yang telah menyebar di Roma pada awal abad ke-2 M. Menurut tradisi yang disebut “Kristologi-malaikat” ini, turunnya Putra ke bumi dipahami sebagai turunnya pemimpin malaikat ke bumi, yang menjelma menjadi manusia Yesus; dia pernah pula diidentifikasikan dengan malaikat Mikail.

Dalam Kristologi-malaikat kuno ini telah ditampilkan tekad untuk mempertahankan keesaan Allah, yang membedakan iman Yahudi dan Kristiani dari iman-iman pagan di sekitarnya. Putra bukanlah Allah itu sendiri, melainkan sebagai yang tertinggi di antara makhluk-makhluk spiritual yang tercipta; dengan demikian dia ditempatkan sedekat mungkin dengan Allah.

Arius bergabung dengan tradisi kuno ini dengan tujuan yang sama: yakni mempertahankan prinsip monoteisme Kristiani terhadap segala tuduhan bahwa agama Kristen menampilkan suatu bentuk politeisme baru yang lebih halus.

Jika Yesus ciptaan juga, bagaimana dia bisa menebus ciptaan? -- Athanasius
Tidak ayal lagi, upaya yang dipelopori Arius untuk mempertahankan keesaan Allah membawa orang Kristen kepada suatu dilema: kalau di dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, Yesus berada di pihak Ciptaan, padahal Ciptaan itu memerlukan penebusan, bagaimana Yesus bisa menebus dunia? Jadi, secara keseluruhan Gereja Kristen menolak upaya formal untuk mempertahankan keesaan Allah yang dipelopori Arius itu sebagai serangan terhadap realitas penebusan.

Juru bicara utama dari pihak ortodoksi gereja adalah Athanasius dari Aleksandria. Bagi dia, titik tolaknya bukanlah suatu prinsip filosofis-spekulatif, melainkan realitas penebusan, kepastian keselamatan. Menurut dia, penebusan umat manusia dari dosa dan maut hanya bisa dijamin jika Yesus adalah Allah sepenuhnya dan sekaligus manusia sepenuhnya, jika esensi Allah meresapi manusia sampai lapisan terdalam dari sumsum tulangnya.

Hanya apabila Allah dalam makna esensi ilahi sepenuhnya menjadi manusia di dalam Yesus maka dapat dijamin pengilahian [deification] manusia dalam makna penaklukan dosa dan maut sebagai kebangkitan daging kembali.

Konsili Nicea (325 M)
Pada konsili Nicea, 20 Mei 35 M, tidak banyak uskup menganut pandangan Athanasius ini. Kebanyakan mengambil sikap di tengah-tengah antara Athanasius dan Arius. Namun dengan dukungan Kaisar Konstantin dan rekayasa Athanasius-mungkin persis sama seperti sidang-sidang umum MPR di zaman Orba-akhirnya Athanasius menang. Hanya Arius bersama dua uskup temannya menolak menandatangani Kredo Nicea.

Kredo Nicea ini berbunyi:
“Kami percaya akan satu Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta segala sesuatu, yang tampak dan tak tampak,
dan pada satu Tuhan, Yesus Kristus,
Putra Allah,
tunggal dilahirkan dari Bapa,
yakni, dari zat [ousia] Bapa,
Allah dari Allah,
cahaya dari cahaya,
Allah sejati dari Allah sejati,
dilahirkan bukan diciptakan,
mempunyai zat sama [homoousion] dengan Bapa,
melalui dia segala sesuatu diciptakan,
segala sesuatu yang ada di surga dan
segala sesuatu yang ada di bumi,
yang demi kita manusia dan demi penyelamatan kita,
turun [ke dunia] dan menjadi manusia,
menderita,
bangkit kembali pada hari ketiga,
naik ke surga,
dan akan datang
mengadili orang yang hidup dan yang mati.
Dan kami percaya akan Roh Kudus.”

Sehabis konsili Nicea, bukan berarti kontroversi itu pun berakhir. Kontroversi Arius ini berlangsung selama 60 tahun lagi. Arius dkk berjuang terus dan berhasil mempengaruhi Kaisar yang memerintah. Akibatnya, Athanasius sempat diasingkan sampai lima kali. Demikianlah, kaisar demi kaisar silih berganti, yang satu mendukung Arianisme, dan yang lain mendukung Kredo Nicea. Persis seperti persaingan antara Buddhisme yang “asing” vs. Konfusianisme yang “asli” di Tiongkok di zaman kuno.

Paham Athanasius pada waktu itu sukar diterima. Terutama konsep “homoousion” [”berzat sama”] yang dikenakan terhadap Bapa dan Putra mengandung nuansa materialistik; seperti orang mengatakan bahwa dua mata uang “berzat sama”. (Apakah Allah mempunyai zat seperti mata uang mempunyai zat?) Selain itu istilah itu tidak terdapat dalam Alkitab. Juga tidak dijelaskan bagaimana bisa Allah Putra “berzat sama” dengan Allah Bapa tanpa menjadi “Tuhan kedua”. Kredo Nicea seperti apa adanya dapat dituduh sebagai triteisme (tiga Tuhan).

Namun baik kubu Athanasius maupun kubu Arius sependapat akan datangnya sesuatu yang baru yang dibawa oleh Yesus ke dunia. Mereka mencoba menjelaskan pengalaman ini di dalam kerangka simbol-simbol yang mereka pahami. Dan penjelasan itu menjadi kredo (rumusan iman). Pengalamannya sama, tapi kredonya bertentangan, di antara Arius dan Athanasius. Tetapi pengalaman keilahian itu sendiri sebenarnya tak dapat diutarakan dengan kata-kata [ineffable]. Sifat pengalaman transendental itulah yang menyebabkan timbulnya penjelasan iman dari berbagai sudut pandang, yang bisa bertentangan satu sama lain.

Sayangnya, di dunia Kristen perlahan-lahan berkembang ketidaktoleranan di bidang dogmatik. Orang harus mengikuti rumusan-rumusan (simbol-simbol) yang dianggap “benar” dan mengikat. Obsesi doktrinal, yang khas dalam agama Kristen ini, dapat dengan mudah mengacaukan simbol-simbol manusiawi dengan realitas ilahi. Inilah yang menyebabkan mudah pecahnya agama Kristen menjadi begitu banyak gereja, yang bersifat eksklusif satu terhadap yang lain.

Rumusan Trinitas yang final adalah apa yang dikenal sebagai Kredo Athanasius (sekitar th 500 M) --yang sebetulnya bukan ditulis oleh Athanasius, karena dia wafat th. 373 M. Kredo itu pada dasarnya menekankan pada: “una substantia-tres personae” (“satu zat, tiga pribadi”). Rumusan ini diterima sebagai akidah resmi Gereja Katolik dan beberapa Gereja Protestan.

Secara praktis rumusan ini merupakan suatu kompromi, yang di satu pihak berpegang teguh pada kedua landasan iman Kristen (keesaan Allah dan pengungkapan-diri Ilahi di dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus), dan di lain pihak tidak merasionalisasikan misteri itu sendiri. Pada akhirnya, sudut pandang yang dianut tetap definitif, dalam arti bahwa realitas penyelamatan dan penebusan tetap dipertahankan dan tidak dikorbankan demi kepentingan monoteisme rasional.

Pada awal dan akhir naskah Kredo Athanasius ini terdapat peringatan keras: bahwa barangsiapa menyeleweng dari akidah ini tidak akan terselamatkan. Kerasnya peringatan ini menyebabkan beberapa ahli teologi, terutama dari Gereja Anglikan, menuntut akidah ini dibatasi atau ditinggalkan.

Ini adalah contoh ketidaktoleranan Gereja Kristen Barat terhadap sesama Kristen yang menganut rumusan akidah berbeda. Ini disebabkan Gereja Kristen Barat lebih menekankan kerigma (yang filosofis) daripada dogma (yang kontemplatif). (Lihat bawah) Itulah pula sebabnya kelak Inkuisisi serta pengejaran dan penindasan kelompok-kelompok yang berbeda akidah merupakan ciri khas Gereja Barat dan tidak terjadi di Gereja Timur.

Para Bapa Kapadosia
Secara rasional, orang Kristen dihadapkan kepada pertanyaan abadi: Kalau hanya ada satu Allah, bagaimana Logos bisa ilahi? Terhadap pertanyaan ini, para Bapa Kapadosia (abad ke-4 M) memberikan jawaban, yang akhirnya bisa memuaskan Gereja Ortodoks Timur. Tetapi jawaban itu berasal bukan dari pendekatan filosofis, melainkan dari pendekatan kontemplatif.

Yang disebut para Bapa Kapadosia terdiri dari tiga tokoh: (1) Basilius, Uskup Kaesarea; (2) adiknya Gregorius, Uskup Nyssa; (3) sahabatnya, Gregorius dari Nazianzus. Mereka menyenangi filsafat dan spekulasi di satu pihak, namun di lain pihak mereka juga orang-orang yang saleh. Mereka yakin bahwa hanya pengalaman batiniah sajalah yang dapat memberikan kunci untuk memahami Allah.

Mereka mengenal Plato, yang membedakan antara filsafat (yang rasional) dan mitologi (yang nonrasional) -- kedua-duanya dapat memberikan pengetahuan yang sama pentingnya. Mereka juga mengenal Aristoteles, yang menyatakan bahwa orang memeluk agama-agama misteri bukan untuk belajar [mathein], melainkan untuk mengalami [pathein].

Basilius mengungkapkan sudut pandang yang sama dalam kerangka Kristiani, yakni dengan membedakan antara kerygma dan dogma. Kedua ajaran Kristen itu sama pentingnya. Mnurut Basilius, kerygma adalah ajaran gereja yang terbuka untuk umum, berdasarkan Alkitab. Sedangkan dogma mengandung kebenaran Alkitabiah yang lebih dalam, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman batiniah dan diungkapkan dalam wujud-wujud simbolik.

Di samping pesan yang gamblang dari Injil, terdapat suatu tradisi esoterik yang rahasia, yang diwariskan “sebagai misteri” dari para rasul; ini adalah “ajaran privat dan rahasia”

“... yang dipelihara oleh para bapa suci di dalam keheningan yang mencegah kecemasan dan keingintahuan untuk dengan keheningan itu menjaga kesucian dari misteri ini. Mereka yang belum diinisiasi tidak diperbolehkan melihat hal-hal ini: maknanya tidak boleh diungkapkan dalam tulisan.” [Basilius, On the Holy Spirit]

Perbedaan Kristen Barat dan Kristen TImur dalam melihat Trinitas
Gereja Kristen Barat (Latin) kelak akan menjadi agama yang banyak berfilsafat dan berargumentasi; akibatnya, perdebatan mengenai hakikat keilahian akan sering mencuat di Barat. Sebaliknya, di dalam Gereja Kristen Timur (Ortodoks Yunani), teologi yang baik adalah teologi yang bersikap apofatik (berdiam diri dalam kontemplasi).

Seperti dikatakan oleh Gregorius dari Nyssa, “setiap konsep tentang Allah hanyalah sekadar gambaran, kemiripan yang tidak tepat, suatu berhala: ia tidak dapat mengungkapkan Allah itu sendiri.” Gregorius menekankan bahwa “... penglihatan dan pengetahuan yang sejati akan apa yang kita cari justru terletak di dalam tidak melihat, di dalam kesadaran bahwa tujuan kita mengatasi segala pengetahuan, yang di semua sisi dibatasi oleh dinding kegelapan dari kemustahilan-pemahaman [incomprehensibility].”

Kita tidak dapat “melihat” Allah secara intelektual, tetapi apabila kita membiarkan diri kita diliputi “awan yang turun di gunung Sinai”, kita akan merasakan kehadirannya. Basilius kembali kepada pembedaan yang dibuat oleh Philo antara esensi Allah (ousia) dan kegiatan-Nya (energeiai) di alam semesta: “Kami mengenal Allah kami hanya dari kegiatan-Nya, tetapi kami tidak berupaya mendekati esensinya.” Inilah yang akan menjadi pendekatan kunci di dalam seluruh teologi Gereja Timur di kemudian hari.

Para Bapa Kapadosia juga menaruh perhatian terhadap konsep Roh Kudus. Mereka merasa konsep ini hanya disinggung sepintas lalu saja dalam Konsili Nicea: rumusan “Dan kami percaya akan Roh Kudus” dalam Kredo Nicea terasa hanya sebagai embel-embel yang ditambahkan belakangan. Siapakah Roh Kudus itu? Sekadar nama lain dari Allah, atau ada sesuatu yang lain?

Gregorius dari Nazianzus mencatat bahwa “Ada orang melihat Roh Kudus sebagai kuasa [kegiatan], ada yang melihatnya sebagai makhluk, ada yang melihatnya sebagai Allah, sedangkan yang lain tidak bisa mengambil keputusan.” Santo Paulus berbicara tentang Roh Kudus yang membaharui, menciptakan dan dan memuaskan; padahal kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh Allah. Oleh karena itu, Roh Kudus yang di dalam diri kita disebut sebagai penyelamat kita, haruslah bersifat ilahi, bukan sekadar makhluk. Para Bapa Kapadosia meminjam ungkapan yang digunakan Athanasius dalam menghadapi Arius: “Allah memiliki satu esensi (ousia) --yang tidak dapat kita kenali-dan tiga pengejawantahan (hypostases) --yang membuatnya dikenal.”

Alih-alih berdebat tentang esensi (ousia) Allah (yang tidak mungkin diketahui), para Bapa Kapadosia berangkat dari pengalaman manusia tentang pengejawantahan (hypostases) Allah. Ousia (esensi) adalah hakikat sesuatu di dalam dirinya (bagi Allah, ini tidak mungkin diketahui manusia); sedangkan hypostases (pengejawantahan) adalah gambaran tentang sesuatu dilihat dari luar dirinya (bagi Allah, inilah yang dialami manusia).

Gereja Ortodoks Timur: Trinitas bukanlah Allah itu sendiri, melainkan hypostases Allah
Yang penting adalah, menurut Gregorius dari Nyssa, bahwa hypostases (pengejawantahan) Bapa, Putra dan Roh Kudus itu tidak boleh dipandang atau diidentifikasikan sebagai Allah itu sendiri, oleh karena “... esensi (ousia) Keilahian tidak terkatakan dan tidak dapat diberi nama.” Maka “Bapa”, “Putra”, dan “Roh Kudus” hanyalah sekadar “istilah-istilah yang kita gunakan” untuk menyebut energeiai (aktivitas) yang dengan itu Allah (yang tersembunyi) memperlihatkan Diri-Nya.

Namun, istilah-istilah ini juga mempunyai makna simbolik, karena menerjemahkan realitas yang tidak terbayangkan menjadi gambar-gambar yang dapat kita tangkap. Manusia mengalami Allah sebagai transenden (Bapa, yang tersembunyi di dalam awan yang tak terjangkau), sebagai kreatif (Logos), dan sebagai imanen (Roh Kudus).

Bagi Gereja Ortodoks Timur, Trinitas hanya dapat dipahami sebagai pengalaman spiritual atau mistikal; Trinitas harus dialami, bukan dipikirkan, karena Allah melampaui segala konsep manusiawi. Trinitas bukanlah rumusan logis atau intelektual, melainkan paradigma imajinatif yang membingungkan akal budi.

Bagi orang Kristen di Timur, kontemplasi terhadap Trinitas tetap memberikan pengalaman spiritual yang mengangkat; sedangkan bagi orang Kristen di Barat, Trinitas menimbulkan perdebatan. Perbedaan sikap antara Barat dan Timur ini tampak pula dalam memahami istilah theoria. Bagi orang Kristen Timur, theoria berarti kontemplasi (penghayatan); sedangkan bagi orang Kristen Barat, theoria (teori) berarti hipotesis rasional yang harus dibuktikan secara logikal. Mengembangkan “teori” tentang Allah menyiratkan bahwa Dia dapat ditangkap oleh pemikiran manusia.

Orang Kristen Timur menekankan aspek dogmatik dari Trinitas (yang hanya dapat dipahami secara intuitif); sedangkan orang Kristen Barat menekankan aspek kerigmatik dari Trinitas, yang menimbulkan argumentasi, kontroversi dan paradoks-paradoks.

Trinitas sebagai paradigma imajinatif sebenarnya dikembangkan untuk mencegah pendekatan yang terlalu rasionalistik terhadap Tuhan sebagaimana ditampilkan oleh Arius. Doktrin Inkarnasi sebagaimana tampil di Nicea, mengandung bahaya idolatri yang simplistik: Tuhan dipahami mempunyai sifat dan kegiatan tidak ubahnya sebagai manusia: berpikir, bertindak, membuat rencana sebagai manusia. Dari situ, manusia akan mengenakan pikiran-pikirannya sendiri (yang eksklusif) pada Tuhan sehingga menjadi absolut. Inilah akar dari sikap-sikap eksklusivistik dalam agama.

Ketika pada abad ke-18 M pemikiran rasional mulai membudaya di dunia, orang Kristen Barat mencoba merasionalkan Tuhan pula. Ini yang menyebabkan munculnya pernyataan “Tuhan telah mati” di Barat. Sedangkan orang Kristen Timur tetap melihat Trinitas bukan sebagai pernyataan faktual, melainkan sebagai pernyataan puitik atau sebagai tarian teologis antara apa yang dipercaya manusia dengan kesadaran bahwa kepercayaan kerigmatik seperti itu hanya bersifat sementara [sampai diperoleh pengalaman spiritual yang membenarkannya].

Masa-masa sesudahnya: periode rasionalistik
Perkembangan khas pada masa-masa selanjutnya di dunia Kristen, ketika filsafat rasionalistik mulai membudaya, dan aspek penyelamatan dari Trinitas mulai terdesak ke belakang, aliran-aliran anti-Trinitas pun muncul kembali. Banyak yang dengan sadar menganut pandangan Arius yang rasional: misalnya, kaum humanis Pencerahan pada abad ke-16 M, dan kaum anti-Trinitas pada masa Renaisans Italia.

Dalam gerakan yang disebut Protestan (Reformasi) radikal, terjadi pergeseran peran Yesus dari Penebus menjadi lebih bersifat profetik dan merupakan pemimpin dan teladan utama bagi orang beriman. Yesus adalah tokoh yang mengutuk kaum agama dan politikus yang mapan, mengecam kaum kaya; begitu pula seharusnya diteladani oleh orang beriman. Munculnya sekte Anabaptis yang dikejar-kejar oleh pimpinan Gereja Katolik dan Gereja Protestan lain; kisah Michael Servetus yang dihukum mati oleh “Inkuisisi” Protestan, merupakan contoh dari paradigma persekusi yang diterima dengan tabah oleh para tokoh gerakan Reformasi radikal ini. Mereka meneladani Yesus yang juga dikejar-kejar dan mati di kayu salib.

Gerakan radikal pada abad ke-16 M ini kelak mengambil bentuk sebagai aliran Unitarianisme. Aliran ini berpendapat bahwa doktrin Trinitas adalah penyimpangan dari Alkitab, dan bahwa monoteisme sederhana dapat dipertahankan apabila Kristus tidak dilihat sebagi pengejawantahan penuh dari Allah.

Ada suatu hubungan langsung antara paham anti-Trinitas dengan penelitian kehidupan Yesus pada abad ke-18 M. Pelopor penelitian ini ialah Hermann Reimarus dan Karl Bahrdt, yang menggambarkan Yesus sebagai agen suatu tarekat pencerahan yang tertutup (kaum Essene), yang bertujuan untuk menyebarluaskan agama akal budi di dunia. Kedua peneliti itu juga bersikap anti-Trinitas dan memelopori gerakan kritik rasionalistik yang radikal terhadap dogma-dogma gereja.

Ilmuwan terkemuka, Sir Isaac Newton (abad ke-17 M), mempunyai minat pada agama dan teologi. Pada awal th 1690-an, ia mengirimkan kepada sahabatnya, John Locke, satu kopi tulisannya yang mencoba membuktikan bahwa ayat-ayat yang menyiratkan Trinitas di dalam Perjanjian Baru adalah tambahan belakangan yang disisipkan oleh kubu Athanasius. Ketika John Locke berniat menerbitkan karya itu, Newton segera menariknya kembali, karena takut pandangannya yang anti-Trinitas diketahui umum.

Kritik Immanuel Kant (abad ke-18 M) terhadap “bukti-bukti” adanya Tuhan menyebabkan merosotnya doktrin Trinitas lebih jauh. Di dalam filsafat Idealisme Jerman, Hegel, dalam upaya mengangkat dogma Kristen ke dalam lingkup konseptual, mengambil doktrin Trinitas sebagai landasan bagi sistem filsafatnya serta tafsirannya terhadap sejarah sebagai proses pengejawantahan roh mutlak menjadi sadar-diri.

Pada masa yang lebih mutakhir, aliran teologi dialektis di Eropa dan Amerika Serikat cenderung mereduksikan doktrin Trinitas dan menggantikannya dengan monokristisme. Monokristisme adalah kecenderungan dalam praktek iman Kristen sehari-hari, ketika tokoh Putra mendesak tokoh Bapa ke belakang, ketika tokoh Pencipta dan Pemelihara alam semesta dikesampingkan oleh tokoh Penebus. Gejala ini terlihat pada kehidupan liturgis sehari-hari. Terdapat tarik-menarik antara teologi Kristen (Trinitas) dan kesalehan Kristen (dengan titik berat pada Yesus Kristus).

Suatu bentuk monokristisme yang radikal adalah Gerakan “Jesus Only”, yang muncul di dalam Gereja Pentakosta. Gerakan ini menyatakan bahwa baptisan yang benar adalah “Atas nama Yesus” semata, bukan atas nama Trinitas. Gerakan yang mulai pada th 1913 di Kalifornia ini menolak doktrin Trinitas tradisional, dan hanya mengakui pribadi Yesus satu-satunya sebagai Allah. Gerakan ini menyebabkan pecahnya aliran Pentakosta menjadi beberapa gereja.

Pada suatu peristiwa yang singkat tapi dipublikasikan secara luas pada pertengahan tahun 1960-an, sejumlah ahli teologi Protestan terkemuka yang terlibat dalam kritik budaya mengamati dan menyatakan bahwa “Tuhan telah mati”. Teologi “matinya Tuhan” mengesampingkan segala paham tentang transendensi ilahi, dan meletakkan seluruh sifat Kekristenan pada manusia Yesus dari Nazareth. Dogma Kristen ditafsirkan ulang, dan direduksikan menjadi sekadar sosialitas dan kemerdekaan manusiawi. Tak lama kemudian, mayoritas ahli teologi menanggapi aliran kecil ini dengan menampilkan kembali dogma Kristen klasik, yang menekankan perjumpaan dengan transendensi ilahi dalam setiap wacana tentang Yesus Kristus.

Penemuan kembali transendensi ilahi
Pada zaman pasca-modernisme sekarang ini, transendensi ilahi telah ditemukan kembali”setidak-tidaknya diindikasikan”oleh sains dan sosiologi. Teologi pada dasawarsa penutup abad ke-20 M ini berupaya mengatasi tafsiran yang bersifat antropologis semata tentang agama, dan sekali lagi menemukan secara baru landasan transendensinya. Konsekuensinya, teologi dihadapkan pada masalah Trinitas dalam bentuk baru, yang menurut pengalaman Kristiani akan Allah sebagai kehadiran Bapa, Putra dan Roh Kudus tidak dapat dihilangkan. Pemahaman baru akan Trinitas ini ditandai dengan pergeseran dari pendekatan filosofis-metafisikal kepada pendekatan kontemplatif. Juga dipengaruhi oleh perjumpaan dengan paham-paham lain yang non-Kristiani tentang inkarnasi dan emanasi transenden, dalam rangka dialog antariman. [Disarikan dan dirangkum dari Encyclopaedia Britannica dan “A History of God” (Karen Armstrong).]

Uraian tentang sejarah pemahaman dan penyikapan terhadap konsep Trinitas di atas menggarisbawahi bahwa semua sudut pandang tersebut -baik yang pro maupun yang kontra, baik yang “resmi” maupun yang tidak- adalah upaya manusia untuk menyelami hal-ihwal keilahian. Upaya ini pada garis besarnya menggunakan dua pendekatan: di satu pihak, pendekatan filosofis-intelektual, dan di lain pihak, pendekatan kontemplatif-meditatif.

Rekan-rekan yang menganut salah satu paham Trinitas tertentu sebagai rumusan imannya, mungkin ada yang memahami rumusannya sebagai “terilhami oleh Roh Kudus”. Hal ini dapat dipahami sepenuhnya. Namun, karena saya pribadi berangkat dari sikap sekuler yang netral terhadap berbagai akidah yang ada, maka saya melihat berbagai paham Trinitas itu tidak ada yang lebih “benar” atau lebih “salah” yang satu terhadap yang lain.

Bersimpati dengan pendekatan Gereja Ortodoks Timur, saya berpendapat bahwa paham Trinitas adalah simbol-simbol yang mengacu kepada suatu realitas transenden yang berada di baliknya, yang pada dasarnya tidak terbayangkan dan tidak terkatakan oleh otak manusia. Realitas itu hanya dapat didekati dan dialami di dalam kontemplasi-meditatif, bukan dengan pemikiran diskursif-filosofis. Realitas itu tercermin pula di dalam banyak simbol-simbol lain yang non-Kristiani.


[Dari: DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph | Sumber: Milis Sabili]


Baca juga:

Contact Form

Name

Email *

Message *