Siapakah Paulus?

Paulus adalah anak didik Gamalied, seorang guru yang termasyhur, akhli Taurat dan Falsafah. Ibu Paulus adalah orang Yunani, dan ayahnya orang Yahudi, sehingga pelajaran agama yang diperolehnya adalah gabungan daripada kepercayaan Yahwe dan Helenisme.

Dari percampuran darah Yahudi dan Yunani, yaitu darah cerdas dan darah pemikir (kita tahu bahwa bangsa Yahudi terkenal karena kecerdasannya, dan bangsa Yunani banyak melahirkan tokoh-tokoh falsafat yang agung), maka Paulus memang luar biasa. Otaknya cemerlang bukan main! Dapat kita saksikan nanti dalam surat-surat kirimannya. Ia bahkan dengan gemilang, sekalipun mendapatkan tantangan yang bukan sedikit, berhasil menyatukan alam pikiran orang-orang Gerika, Alexandria, Gybelle dan Yahudi, yang di kemudian hari merupakan suatu kekuatan yang luar biasa.

Terdorong oleh ibunyalah, barangkali, makanya ia berkeras hati ingin mengabarkan Injil kepada orang orang kafir (baca: Gerika), dan terdorong oleh kebenciannya kepada sang ayah - yang menurut penelitian sejarah tidak pernah mencintai Paulus - maka ia sangat memusuhi ayahnya, bahkan bangsa dan agama ayahnya. Kitapun dapat membaca nanti dalam surat-surat kirimannya, betapa ia "mencuci" bersih-bersih orang-orang Yahudi, bahkan sampai kepada Tauratnya!

Mengenai suku bangsanya, Paulus sendiri memberikan keterangan sebagai berikut:
  1. Ia adalah orang Rum, dalam keterangannya kepada orang Rum. (Kisah Para Rasul 16:37)
  2. Ia adalah orang Yahudi, dalam keterangannya kepada orang Yahudi. (Kisah Para Rasul 22:2-3)
  3. Ia adalah orang Parisi, dalam keterangannya kepada orang Parisi. (Kisah Para Rasul 23:6)
Menurut logika awam saja, bila seseorang memberikan dua keterangan, apalagi sampai tiga, dan masing-masing keterangan itu berbeda, artinya manusia itu tengah berdusta. Paulus nampaknya menyadari betul dustanya ini, sebab di kemudian hari ia bahkan menekankan kepada pengikut-pengikutnya untuk berbuat serupa sebagaimana dituliskannya dalam I Korintus 9:20 yang berbunyi;

"Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat."

Ia kemudian dengan sombongnya mengatakan:

"Bila dustaku ini melimpahkan kepada kemuliaan Allah, adakah aku ini masih akan dihukumkan pula?" (Rum 3:7)

Pribadi Paulus telah kita kenal. Ia bukan saja ahli "putar-balik" yang mengagumkan, tetapi juga seorang yang keras kepala. Ia pun dengan bangga menulis bahwa ia tidak mau tunduk kepada siapa pun - dapat diartikan termasuk kepada Yesus, bahkan Tuhan - dan begitulah katanya, bahwa segala sesuatu adalah halal baginya, meskipun segala sesuatu itu belum tentu berfaedah.

Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. (I Korintus 6:12)

Keterangan dustanya ini berlarut-larut terus, sehingga kita dapati pula nanti, pada waktu ia menerima "panggilan Ilhami" seperti misalnya menurut keterangannya yang pertama, ia tidak melihat apa-apa, tapi menurut keterangan keduanya ia melihat cahaya.

Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? (Kisah Para Rasul 9:4)

Menurut keterangannya yang pertama bahwa hanya ia sendiri yang mendengarkan suara itu, sementara menurut keterangannya yang kedua, katanya kami semuanya mendengarkan. Menurut keterangannya yang pertama ia mengatakan bahwa hanya ia sendiri yang jatuh, namun menurut keterangan yang kedua ia mengatakan "kami semuanya rebah."

Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. (Kisah Para Rasul 22:9).

Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. (Kisah Para Rasul 26:14)
Ia tidak melihat apa-apa, tetapi dapat menyaksikan dengan jelas kawan-kawannya berjatuhan. Tidakkah ini menarik? Apalagi jika anda tahu bahwa potongan-potongan kisah di atas merupakan bagian dari rangkaian cerita yang ditulisnya untuk meyakinkan kepada anda bahwa ia telah didatangi oleh Ruh Yesus (yang sudah mati), dan mendengar suara Yesus sendiri yang bertitah, kemudian mengangkatnya menjadi seorang Rasul!
Di mana menariknya? Perhatikanlah, bahwa meskipun saat peristiwa itu berlangsung "katanya" ia sedang bersama beberapa orang lain, tapi tak seorang pun dari mereka yang ikut melihat, apalagi mendengar ucapan atau suara Yesus yang bertitah kepadanya. Artinya, tidak ada satu orang pun saksi mata yang patut dianggap kredibel untuk menguatkan pengakuannya itu!

Tapi pada kenyataannya, tidak sedikit pengikut Kristen yang mempercayai cerita fantasi itu sebagai sebuah keniscayaan. Hebat bukan?

Kendati demikian, karena Alkitab tidak mengatakan bagaimana dan kapan Paulus meninggal, sedikit sekali umat Kristen yang tahu bahwa pada akhirnya konon Paulus harus menerima kematian yang mengerikan, yakni menjalani hukum penggal yang ditjatuhkan oleh Kaisar Nero di sebuah altar di Tre Fontane Abbey.

Pada bulan Juni 2009, Paus Benediktus mengumumkan hasil penggalian makam Paulus di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. Sarkofagus itu sendiri tidak terbuka, namun diuji dengan upaya penyelidikan. Dan itu menunjukkan potongan-potongan kemenyan, kain ungu dan kain biru serta fragmen tulang kecil. Tulang itu bertanggal radiokarbon abad ke-1 hingga ke-2. Menurut Vatikan, ini tampaknya mengkonfirmasi tradisi makam milik Paulus.


Lihat juga: Paulus Dan Kebohonhgan-Kebohongannya