Ketuhanan Yesus Menurut Injil dan Al-Qur'an - 4

31. YESUS PERGI BERDOA DI GETSMANI


“Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsmani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah disini sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” (Matius 26:36)

Sebenarnya jika ingin berdoa, di mana saja boleh, tidak harus memilih tempat khusus. Namun Yesus berpesan kepada murid-muridnya untuk menunggunya yang akan berdoa di suatu tempat yang bernama taman Gestmani. Sampai tiga kali terjadi Yesus berdoa di taman tersebut dan tidak seorangpun yang tahu apa saja yang dilakukannya selama berada di sana sampai akhirnya ia ditangkap dan diserahkan ke tangan para penguasa (Matius 26:42-45). Ini semua membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Tuhan tidak perlu berdoa. Jika Tuhan harus berdoa, kepada siapa doanya ditujukan?
  • Setiap yang berdoa pasti bukan Tuhan. Dan Yesus selalu berdoa, baik disaksikan oleh manusia maupun tidak.

32. YESUS SEDIH, GENTAR, DAN MERASA SEPERTI MAU MATI

“Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggalah disini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Matius 26:37-38).

Dalam kitab suci agama manapun tidak pernah kita temukan Tuhan merasa sedih dan gentar, apalagi sampai minta ditemani (dijaga) karena rasa takut, kecuali didalam kitab Injil. Akal sehat manusia tentu tidak dapat menerima jika ada sifat lemah pada Tuhannya, sebab lemah tidak semestinya menjadi sifat Tuhan. Jika Tuhan memiliki sifat lemah, lalu apa bedanya dengan makhluk ciptaan-Nya sendiri? Jika Yesus Tuhan, tidak mungkin Tuhan merasa sedih, gentar, bahkan sampai mengucapkan kata-kata "merasa seperti mau mati." Sifat-sifat lemah seperti ini sungguh mustahil ada pada Tuhan!
  • Setiap yang merasa sedih dan gentar pasti bukan Tuhan. Dan Yesus merasa sedih dan gentar.
  • Setiap yang merasa seperti mau mati pasti bukan Tuhan. Dan Yesus merasakan hal itu.

33. YESUS SUJUD DAN BERDOA

“Kemudian Yesus pergi lebih jauh sedikit, lalu Ia tersungkur ke tanah dan berdoa. "Bapa," kata-Nya, "kalau boleh, jauhkanlah daripada-Ku penderitaan yang Aku harus alami ini. Tetapi jangan menurut kemauan-Ku, melainkan menurut kemauan Bapa saja." (Matius 26:39).

Yesus merasa begitu menderita, lalu tersungkur bersujud dan berdoa kepada Allah, memohon agar dijauhkan dari penderitaan, namun kehendak Allahlah yang seharusnya terjadi, bukan menurut kehendaknya sendiri. Ini membuktikan bahwa Yesus hanya manusia biasa yang adakalanya juga merasa tidak sanggup memikul beban penderitaan. Hanya karena kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah sajalah yang membuatnya tetap bertahan. Tidak mungkin Tuhan sujud menyembah dan memohon kepada Tuhan lain.
  • Setiap yang sujud kepada Allah pasti bukan Allah. Dan Yesus bersujud kepada Allah.
  • Setiap yang berdoa dan memohon berlakunya kehendak Allah pasti bukan Allah. Dan Yesus berdoa memohon hal itu kepada Allah.
  • Setiap yang tidak mampu menurutkan kehendak sendiri pasti bukan Tuhan. Dan Yesus tidak mampu menjauhkan dirinya sendiri dari penderitaan.

34. YESUS RAJA ORANG YAHUDI

“Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa dia dihukum: Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” (Matius 27:37).

Pada zaman itu orang-orang dapat bertemu dan bertatap muka langsung dengan Yesus. Jika Yesus Tuhan, dapat dipastikan mereka semua akan sujud menyembahnya karena takut, bukan malah menghukumnya. Mana mungkin ada manusia yang berani menghukum Tuhan? Tulisan: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi” menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemimpin bagi suku atau kaumnya, yaitu orang Yahudi, atau Bani Israel.

Sebelum Yesus lahir, Allah telah menubuatkan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menjadi raja atas kaumnya yaitu Yahudi dari keturunan Yakub, bernama Yesus. Jadi yang akan lahir itu adalah “manusia”, bukan “Tuhan”. Perhatikan nubuat Allah sebelum Yesus dilahirkan ke dunia dalam Injil Lukas 1:31-33 sebagai berikut:

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah kamu menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan ia akan menjadi raja atas kaum Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
  • Nubuat Allah seperti disebutkan dalam Lukas 1:31-33 di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya Yesus adalah anak manusia yang atas kehendak Allah, kemudian mendapatkan kemuliaan serta derajat yang tinggi di mata umat manusia. Ia bukan Tuhan.
Adapun dalam Al Qur’an Allah menjelaskan kepada umat manusia bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (dilahirkan) sebagaimana firman-Nya:

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS. Al-Ikhlas[112]:1-4)

35. YESUS TIDAK DAPAT MENYELAMATKAN DIRINYA SENDIRI

“Demikianlah juga imam-imam kepala bersama-sama Ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokan Dia dan berkata: ”Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia (Yesus) menaruh harapan-Nya pada Allah: Baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” (Matius 27:41-43)

Ayat ini sangat menarik. Jika Yesus Tuhan, tentu dia dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari siksaan dan penderitaan yang diderakan padanya hingga akhirnya mati di tiang salib. Jika saat itu Yesus menunjukkan bahwa adalah sangat mudah baginya untuk menjawab tantangan para penguasa itu, pasti para imam kepala dan ahli taurat akan langsung percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi jika hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja ia tidak sanggup, bagaimana mungkin Yesus dapat menyelamatkan seluruh umat manusia di dunia?
  • Setiap yang tidak mampu menyelamatkan dirinya pasti bukan Tuhan. Dan Yesus tidak mampu menolong dirinya sendiri.
  • Setiap yang menaruh harapan kepada Tuhan pasti bukan Tuhan. Dan Yesus menaruh harapannya kepada Tuhan.

36. YESUS BERSERU MEMANGGIL TUHAN

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa engkau meninggalkan Aku?” (Matius 24:46).

Ketika Yesus dipaku dan digantungkan di kayu salib, sebelum mati ia berseru memanggil Tuhannya (Allah) “Eli, Eli, lama sabakhtani?” seruan Yesus seperti itu justru menimbulkan pertanyaan:
  • Jika Yesus Tuhan, Tuhan mana lagi yang ia panggil?
  • Jika Yesus adalah Tuhan yang sengaja mengorbankan dirinya untuk mati di kayu salib guna menebus dosa umat manusia, mengapa ia masih berseru memanggil-manggil Tuhan? Bukankah seharusnya ia ikhlas saja disalib?
  • Jika di dalam diri Yesus ada Tuhan dan Roh Kudus - yang bila menyatu dengan dirinya sendiri dipercaya akan menjelma menjadi Tuhan semesta alam yang Maha Perkasa - mengapa ia begitu lemah tak berdaya? Tidakkah ini menunjukkan bahwa sampai akhir hayat Yesus sendiri pun, apa yang di kemudian hari diyakini sebagai trinitas Tuhan Anak, Roh Kudus, dan Tuhan Bapa sebetulnya tidak pernah terbukti ada?
  • Jika kematian Yesus di tiang salib benar-benar dimaksudkan untuk menebus dosa umat manusia, seharusnya Yesus merasa bersyukur dan berterima kasih kepada para penguasa yang melaksanakan penyaliban itu. Bukan justru menyebut mereka sebagai orang-orang berdosa sebagaimana dimaksud dalam Injil Matius 26:45.

37. YESUS MENYERAHKAN NYAWANYA

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.” (Matius 27:50).

Menjelang saat-saat kematiannya, atau yang kita kenal dengan sebtutan sakaratul maut, setelah berseru memanggil-manggil Tuhan, ia pun menyerahkan nyawanya. Masih perihal kematian Yesus di tiang salib, timbul pertanyaan:
  • Jika Yesus Tuhan, siapa yang mencabut nyawa Tuhan?
  • Jika Yesus Tuhan, Tuhan mana yang menerima nyawanya?
  • Selama tiga hari kematiannya itu, siapa yang mengendalikan alam semesta ini?

38. YESUS DIBERI KUASA OLEH TUHAN


“Yesus mendekati mereka dan berkata : “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan dibumi.” (Markus 28:18)

Jika Yesus telah diberi kuasa penuh di sorga dan di bumi oleh Tuhannya, tentu menjadi pertanyaan, Tuhan mana yang memberikan kuasa kepadanya, sebab bukankah ia sendiri adalah Tuhan? Jika benar Yesus mendapat kuasa dari Tuhan, berarti Yesus bukan Tuhan.

Sementara itu, jika segala kuasa sudah diberikan atau diserahkan sepenuhnya kepada Yesus, lalu Tuhan yang menyerahkan segala kuasa itu selanjutnya akan berbuat apa? Apakah Tuhan 'yang menyerahkan kuasa itu' menjadi penganggur, tidak melakukan apa-apa lagi karena segalanya sudah diserahkan sepenuhnya kepada Yesus? Dan jika benar segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada Yesus, lalu kekuasaan apa lagi yang masih tersisa untuk Tuhan?

39. YESUS MEMPUNYAI IBU DAN ADIK-ADIK SAUDARA SEKANDUNG

“Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri diluar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: ”Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu diluar, dan berusaha menemui Engkau.” (Matius 3:31-32)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Yesus mempunyai ibu dan saudara kandung. Dalam kitab suci manapun, tidak pernah kita jumpai Tuhan punya ibu dan saudara sekandung. Jika Tuhan punya saudara (adik-adik) sekandung, berarti adik-adik sekandung dari Tuhan itu mempunyai anak keturunan yang masih hidup di dunia hingga saat ini, dan jumlah mereka pasti sangat banyak. Mereka ini tentu sangat istimewa karena merupakan cucu-cicit keponakan yang masih memiliki hubungan darah dengan Tuhan! Alangkah tidak adilnya Tuhan jika membiarkan diri-Nya memiliki kroni di tengah-tengah umat manusia. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa:
  • Yesus adalah manusia, sama seperti kita.
40. YESUS ANAK SEORANG TUKANG KAYU

“Bukanlah ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukanlah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Markus 6:3)

Suami Maria bernama Yusuf. Dia berprofesi sebagai tukang kayu. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Yesus tahu bahwa Yesus itu manusia biasa seperti mereka, bukan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan punya ayah seorang tukang kayu. Tetapi jika Yesus sebagai manusia biasa, tentu sangat wajar dia punya ayah walaupun hanya sebagai tukang kayu, berarti Yesus bukan Tuhan, sebab Tuhan yang sesungguhnya pasti tidak punya ayah, tidak punya ibu dan juga tidak punya saudara kandung, apalagi berprofesi sebagai tukang kayu!
  • Setiap yang mempunyai ayah, ibu, dan saudara kandung pasti bukan Tuhan. Dan Yesus mempunyai ketiganya.
  • Setiap orang yang ayahnya tukang kayu pasti bukan Tuhan. Dan ayah Yesus adalah seorang tukang kayu.
  • Setiap yang berprofesi sebagai tukang kayu pasti bukan Tuhan. Dan Yesus berprofesi sebagai tukang kayu. (Bersambung)


    Anda sedang membaca serial Ketuhanan Yesus Menurut Injil dan Al-Quran Bagian 4
    Simak juga Bagian [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]