Penyimpangan Citra Islam Lewat Sinema Barat

Dewasa ini, penyampaian informasi merupakan salah satu faktor terpenting kekuatan sosial dan politik. Itulah sebabnya, para politisi berusaha menguasai media massa dan memanfaatkannya dalam bersaing dengan rivalnya. Dalam beberapa dekade terakhir ini, setelah kemenangan Revolusi Islam Iran dan meningkatnya kecenderungan Islami di dunia, serta disusul pula oleh runtuhnya Uni Soviet, dunia masuk ke dalam era yang baru. Dalam era baru ini, Amerika berusaha untuk menguasai dan menghegemoni dunia dengan cara menguasai media massa. Salah satu eleman media massa yang dimanfaatkan pemerintah Amerika dalam merealisasikan ambisi hegemoninya adalah industri sinema Hollywood.

Salah satu bagian utama Hollywood ialah menyajikan dan mempropagandakan citra buruk Islam dan umat Islam. Film-film yang dibuat dalam bidang ini memang tidak banyak bila dibandingkan dengan seluruh film buatan Hollywood, namun telah diprogram sedemikian rupa untuk menjadi alat propaganda anti Islam. Gambaran yang disajikan tentang umat Islam dalam sinema Barat bisa dibagi kepada tiga periode sejarah. Pertama, sejak Hollywood didirikan hingga terbentuknya pendudukan rezim Zionis di Palestina. Kedua, sejak pembentukan rezim Zionis hingga era kebangkitan Islam. Dan ketiga, dekade 80-an hingga hari ini.

Bila kita meninjau kepada sejarah pembuatan film di Amerika,kita akan melihat bahwa industri film seringkali menampilkan orang-orang Arab sebagai wakil dunia Islam. Hollywood membuat film berkaitan kehidupan orang-orang Arab dalam rangka merusak citra umat Islam di seluruh dunia. Padahal hanya kira-kira 15 persen saja umat Islam yang berbangsa Arab. Selain itu, gambaran yang disajikan tentang orang-orang Arab muslim biasanya sangat menyimpang dari kenyataan. Dalam pandangan Hollywood, semua orang Arab dianggap sama rata dan dicitrakan bengis, terbelakang, dan anti kemajuan. Pada periode pertama pembikinan film mengenai orang Islam, orang-orang Arab digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki peradaban, yang hanya menghabiskan waktu dengan berfoya-foya dan bergelimang materi.

Thomas Edison pada tahun 1897 telah membuat sebuah film dimana di dalamnya digambarkan seorang perempuan Arab yang memakai pakaian dan melakukan gerakan tidak pantas demi menghibur kaum lelaki. Sejak dari itu, gambaran seperti ini dijadikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari film-film Amerika yang mengambarkan Timur dan umat Islam. Dalam film-film ini gambaran muslim dicitrakan dengan orang-orang kulit berwarna gelap, alis yang tebal, janggut hitam dan pakaian Arab.

Selepas bertahun-tahun, Hollywood menambahkan lagi gambaran yang tidak benar berkaitan dengan umat Islam. Kali ini, wajah umat Islam digambarkan sebagai orang yang kaya dari penjualan minyak dan melakukan banyak investasi. Film-film dekade 70-an sering mengambarkan orang-orang Arab sebagai orang kaya sehingga banyak orang Barat yang membayangkan bahwa orang-orang Islam adalah orang-orang milyader dan suka menghambur-hamburkan uang.

Tetapi sepanjang 30 tahun terakhir, para pemirsa disuguhi citra baru tentang umat Islam, yaitu bahwa umat Islam sering terlibat aksi terorisme. Pada periode ini, sinema Hollywood dalam satu putaran bersejarah telah menjauhkan diri dari film-film yang menonjolkan serangan mahkluk asing dan memusatkan diri kepada musuh baru dengan judul "Teroris Islam". Jack Shahin adalah seorang penulis Islam yang selama bertahun-tahun melakukan penelitian mengenai kinerja Amerika dalam menyajikan gambaran klise dan tidak sesuai mengenai dunia Islam. Dalam salah satu karyanya berjudul "Televisi Barat", Jack Shahin menulis, pada 10 tahun yang lalu, Hollywood mengambil langkah untuk membuat dan menyajikan karya yang semuanya bertujuan untuk merusak wajah Islam. Di antara film-film seperti ini adalah film-film berjudul Iron Eagle, Delta Force 3, Death Before Dishonor, dan The Patriot Games. Shahin berkata, "Adalah sulit untuk mencari seorang Arab yang baik dan pahlawan dalam budaya ilmu Barat, bagaikan mencari jarum dicelah-celah timbunan pasir."

Bukan hanya Jack Shahin yang memprotes sikap sepihak dan serangan sinema Barat terhadap Islam. Berdasarkan kepada penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan, sebagian besar film kontraversial produk Hollywood dan animasi anak-anak, mengambarkan umat Islam secara menyimpang. Berlandaskan penelitian yang dipublikasikan di Eropa ini, umat Islam percaya bahwa gambaran negatif berkaitan agama Islam dalam sinema dan televisi meninggalkan dampak dalam kehidupan harian mereka. Terkait dengan hal ini, para responden muslim menyatakan bahwa citra yang disajikan dalam media massa mempunyai hubungan langsung dengan pengalaman sosial mereka, di antara penganiayaan, diskriminasi, dan kekerasan. Penelitian yang dilakukan oleh komisi penelitian HAM Islam ini merangkum pendapat lebih dari 1100 responden muslim. Hasil penelitian ini antara lain adalah kesimpulan bahwa media massa memainkan peran besar dalam memicu diskriminasi dan kekerasan terhadap umat Islam. Selain itu, laporan-laporan media massa dan film-film sinema mengenai Islam adalah klise, tidak benar, dan menyimpang.

Arezu Mir Ali, ketua bagian peneliti komisi HAM Islam dan salah seorang penyusun laporan ini, menyatakan bahwa dengan memperhatikan kepada penelitian terbaru, 80 persen orang-orang Inggeris tidak mempunyai hubungan dekat dengan umat Islam. Mereka juga tidak mempunyai pengalaman pribadi terkait dengan interaksi dengan umat Islam. Gambaran dari sinema dan televisi berkenaan umat Islam telah membentuk sikap rakyat Barat terhadap Islam dan umat Islam.

Sebagian pengamat menyebutkan bahwa ledakan menara kembar pusat WTC New York tanggal 11 September 2001 merupakan poin tersendiri dalam meneliti sikap media massa Barat terhadap Islam. Segera setelah peristiwa teror ini, Hollywood menyajikan gambaran umat Islam yang tanpa logika menyerang wanita, lelaki, dan anak-anak tak berdosa. Demikian juga, berulang kali dipertontonkan seorang muslim yang melakukan peledakan bom dan pembunuhan biadap bersamaan dengan suara azan dan solat. Sebagai contoh, film Executive Decision menayangkan peristiwa penyanderaan sebuah pesawat yang dilakukan oleh sekelompok orang Arab Palestina. Film ini memperlihatkan bahwa para penyandera itu sebelum dan selepas membunuh para penumpang tidak berdosa, terlebih dahulu menunaikan solat. Adegan ini jelas sengaja dibuat dengan tujuan menampilkan citra bahwa teror merupakan bagian dari perilaku yang telah ditetapkan dalam Islam.

Kami akhiri pembicaraan kita kali ini dengan memetik sebagian artikel yang ditulis oleh Shabana Mir, kritikus sinema Guardian. Dalam kritikannya atas gambaran bohong mengenai umat Islam yang dilakukan oleh Hollywood, Shabana Mir menulis, "Para pemirsa film-film ini berpendapat bahwa umat Islam dan orang-orang Arab bertanggung jawab dalam menciptakan kekerasan. Tidak ada yang melihat hakikat sebenarnya, yaitu bahwa sesungguhnya kaum muslimlah yang menjadi korban kekerasan. Korban terorisme pemerintah Rezim Zionis di Tepi Barat Sungai Jordan adalah orang-orang muslim, yang rumah-rumah mereka dihancurkan dan anak-anak mereka dibunuhi. Para pemirsa film-film ini tidak melihat pada kehidupan keseharian umat Islam dan tidak pernah mengenali kasih sayang seorang ibu muslim yang meninabobokan anak-anak mereka dengan puisi cinta. Gambaran bohong mengenai muslim itulah yang kemudian dipercayai oleh warga negara kita."