Israel, Zionis, Barat, dan Islam

Upaya Israel mengobok-obok urusan dalam negeri Palestina, khususnya Masjidil Al Aqsha tidak pernah berhenti. Para Zionist melakukan segala cara demi mewujudkan keinginan mereka untuk menguasai al Aqsha atau menghancurkanya melalui galian yang mereka klaim berada di bawah bangunan masjid walau sampai saat ini belum terbukti.

Sudah puluhan tahun dan puluhan ahli arkeologi, baik dari Israel sendiri maupun dari negara-negara barat coba membuktikan keberadaan haikal yahudi di bawah masjidil Al-Aqsha. Namun selalu gagal. Mereka tidak menemukan apa-apa di bawah Masjid Al-Aqsha. Yang kemudian dapat mereka lakukan adalah membangun tembok rasial di atas perdamaian ataupun inisiatif semu untuk menguasai palestina.

Penggalian dan upaya Zionist radikal Israel dalam menyebarkan kebencian dan dendam terhadap bangsa Arab dan Islam mulai terlihat sejak mereka menemukan tanah subur yang strategis yang mendorong mereka untuk melancarkan permusuhanya terhadap Islam khususnya bangsa Palestina. Maka, sejak saat itu pulalah rakyat Palestina menjadi bulan-bulanan konspirasi dan rencana pembersihan etnis.

Setelah gagal dalam upaya mereka menguasai dan menodai Masjid Al-Aqsha, maka kelompok radikal yahudi pun berusaha untuk mengintervensi sejumlah peraturan yang diterapkan Israel terhadap kiblat pertama ummat Islam ini.

Mereka melakukan segala cara untuk menghapus identitas keislaman al-Quds melalui penyempurnaan program yahudisasi serta realisasi rencana penghancuran Masjid secara bertahap dengan pola-pola baru. Namun dunia melihat jelas kejahatan mereka terhadap kota al-Quds dan masjidnya. Di antaranya dengan membangun jembatan alternatif yang menghubungkan Gerbang Al-Mugaribah dengan Masjid Al-Aqsha setelah sebelumnya pemerintah Israel menghancurkan jembatan lama. Hal ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, baik negara barat sendiri maupun negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

Perbuatan mereka telah melanggar semua kesepakatan internasional terkait tempat suci seluruh umat ini. Oleh karena itu, sebelum bangsa Arab dan umat Islam dunia dikagetkan dengan hancurnya Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama, dan al-Haram ketiga di dunia, maka hendaklah mereka bergerak bersama organisasi-organisasi internasional lainnya guna menjalin kerjasama untuk menghentikan upaya penggalian Israel tersebut. Memaksa mereka tunduk pada undang-undang internasional agar tidak melakukan perubahan apapun terhadap tempat-tempat bersejarah di seputar al-Quds seperti di antaranya pagar, perlintasan, jembatan dan bangunan-bangunan bersejarah lain yang mengelilingi al-Quds serta Kota Lama yang didirikan antara tahun 1536 dan 1542 M.

Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa sebelum terlambat, mari kita bergandeng tangan sebagai sesama umat Islam untuk menyelamatkan Al-Quds dan Al-Aqsha dari rencana jahat Zionist Israel itu.

Sebenarnya kebencian dan ketakutan Zionist Israel dan dunia Barat terhadap Islam - dekenal dengan istilah Islamofobia atau anti-Islam - kian hari kian meningkat. Berbagai upaya penistaan dan penghancuran dan adu domba sesama umat islam kerap mereka lakukan, baik terhadap negara yang berstatus Islam (negara Islam) maupun kepada kaum minoritas Islam yang hidup di negara-negara barat. Sebagai cntoh, lihat apa yang terjadi di UK misalnya.

Meningkatnya permusuhan barat terhadap Islam semakin memuncak dengan disebarkannya tuduhan bahwa teroris Islamlah yang bertanggungjawab atas serangan 11 September 2001. Namun tidak lama setelah itu bermunculan pula bantahan-bantahan dari dalam negeri AS sendiri yang mengarah pada sinyalemen kuat bahwa peristiwa tersebut sesungguhnya merupakan hasil kosnspirasi besar kepentingan Yahudi dan Nasrani dalam upaya mereka mendiskreditkan Islam dan memuluskan agenda-agenda politik yang jauh lebih besar lagi. Tak pelak, peristiwa ini menuai berbagai kontroversi berkepanjangan di dunia internasional, namun di dalam negeri sendiri terjadilah keajaiban Islam!

Pasca peristiwa tersebut, atas nama perang terhadap teroris, Amerika Serikat dan sekutunya pun mulai membombardir negara-negara Islam di Timur Tengah tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan serta protes dunia internasional. Mereka meluluh lantakkan negeri-negeri muslim yang telah menjadi symbol peradaban Islam beratus-ratus tahun silam. Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya mereka inilah yang justru patut disebut sebagai penyebar terror, khususnya terhadap umat muslim!

Genderang perang terhadap Islam sudah ditabuh, negara-negara barat telah memperlihatkan watak aslinya. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghancurkan Islam, baik secara terang-terangan maupun rahasia. Ternyata apa yang mereka bangga-banggakan selama ini sebagai negara yang menghormati hak asasi manusia (HAM) hanya symbol semata guna mengelabui bangsa-bangsa lain di dunia. Pelecehan terhadap simbol-simbol Islam kian merajalela. Mulai dari pelarangan penerbitan dan peredaran Al-Qur’an, penempatan nama Allah di tempat-tempat yang tidak terhormat (di sepatu, pakaian dalam wanita, lantai dll) sampai pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gambaran yang sangat tidak pantas terus dilakukan.

Walau menuai berbagai protes dan kecaman dari dunia, kebencian mereka tidak pernah berhenti. Maka benarlah firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka" (QS. Al-Baqarah: 120)


Tarqiyah Online 27 April 2010